Senin, 09 Desember 2019

Contoh Laporan Pemberitaan



Laporan Pemberitaan Fortasi Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta 2018

Disusun Oleh :
Izza Auliyai Rabby : 18107030019
Prodi Ilmu Komunikasi 2018
Untuk Syarat Join UKM LPM Arena 2018
WA : 089661573262




                 
           Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta 23/09/2018 mengadakan acara tahunan dalam rangka menyambut santri baru yang mayoritas berasal dari para mahasiswa yang kuliah di sekitaran wilayah Yogyakarta seperti UGM, UIN, UNY dan Universitas di Yogyakarta yang lainnya. Acara tersebut disingkat “Fortasi” yang memiliki kepanjangan “Forum Ta’aruf Santri” sesuai namanya acara tersebut merupakan PBAK-nya Ponpes Wahid Hasyim. Kyai Jalaluddin Suyuthi selaku pengasuh Ponpes Wahid Hasyimmenuturkan akan pentingnya kesadaran dalam mengaji dan pentingnya mengabdi “sampeyan niki sudah bukan anak kecil lagi, kalian harus sadar kalo waktunya ngaji ndak usah disuruh-suruh lagi. Dan mengabdi itu penting sebagai salah satu langkah dalam pengamalan ilmu,”. Tutur kyai Jalal. Kyai Jalal dikenal sebagai Kyai yang arif dan Tawadhu dalam setiap tindak tanduknya. Pernah suatu ketika ketika santri-santri baru diundang di pusat ponpes, Kyai Jalal sendiri yang menyambutnya dengan senyuman yang terus menghiasi wajah bersihnya, bahkan sang Kyai duduk dibawah bersama santri-santri baru.
        Acara tersebut berlangsung selama 2 hari 3 malam dari tanggal 23-25 September. Acara tersebut dimeriahkan oleh berbagai festifal lomba, yakni MHQ, MQK, pidato bahasa Arab dan bahasa Inggris, dan Kreasi Nadhoman. Dan pembagian pemenang diumumkan saat penutupan Fortasi malam hari jam 8 malam, para pemenang disambut sorak sorai peserta dan panitia Fortasi 2018 dengan meriah, senyuman dan tawa menghiasi malam penutupan Fortasi malam itu.
        Farhan Muhammad, seorang peserta Fortasi menuturkan kesan sekaligus sarannya 25/09/2018 “Fortasi kali ini sangat baik dan berkesan baik, namun antusias para peserta belum maksimal, semoga Fortasi tahun kedepannya lebih baik lagi dengan pengawasan yang lebih baik lagi”.
              Sosialisasi pengenalan lingkungan sangat baik dan dibutuhkan, salah satunya adalah dengan diadakannya Fortasi Pondok pesantren Wahid Hasyim. Selain itu sekaligus menggali bakat-bakat mahal santri terutama yang antusias mengikuti lomba-lomba yang diadakan. Demikian laporan mengenai Fortasi Ponpes Wahid Hasyim 2018.


Yogyakarta, 25/09/2018
       
        
                       
            


Kisah Cinta Pohon Yogyakarta


Kisah Cinta Pohon Yogyakarta

Bagian Satu : Benih
Benih, ialah awal pohon yang kokoh…
Benih yang baik demi kualitas pohon yang baik,
Begitupun mimpi-mimpi, harus dituai dengan benih yang mendasari idealisme atas dasar cinta dan kasih….
 



                  
               “Apa, kau mau menikahinya? Modal apa kau, kasih makan apa kau, hah? Cinta,”
ketus Pria bongsor paruh baya itu. Dengan suara menggelegar di ruangan yang luas, sehingga suaranya meraung-raung.
              Air mata sang gadis meleleh tak tertahankan, malam itu menjadi malam yang sangat buruk baginya, ditambah badai hujan diluar yang membuat suasana makin dramatis. Namun tak disangka pukulan mendarat di kepala sang gadis yang beperawakan mungil tapi semampai. Seketika pandangannya kabur dan berakhir gelap.
                 “Doooor,”
                   “Akhhhhhhhh….,” Sayup-sayup suara ledakan pistol disusul teriakan parau menembus telinga sang gadis selintas sebelum benar-benar tak sadarkan diri.
..........................................
                                   Nun, jauh sebelum kejadian itu…
                Jingga membelai senja penuh mesra. Burung-burung berterbangan menuju sarangnya, Cahya mentari mulai tenggelam dari peraduannya. Binar Maghrib dan desauan adzan menyapa manusia dengan beragam kesibukannya…
             “Sampai jumpa, nak,” pamit ibuku dengan derain air mata yang meleleh.
               “iya, bu. Doakan anakmu ini menggapai mimpinya,,” Lirihku di dalam hati.
Hari ini, 16 agustus 2018. Kali pertama Zamzami Ghibran menginjakkan kaki di Yogyakarta, mimpinya pertama yang Ia nanti-nantikan. Mengambil S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Ilmu Komunikasi. Jurusan yang sesuai passionnya. Menulis! Ya, menulis, terutama Jurnalistik dan Kesusastraan.
                Awalnya Zamzami tak diizinkan sang Ibu merantau ke Yogyakarta demi mimpinya. Selain faktor ekonomi, Zamzami juga tak memiliki sanak saudara disana. Tak ayal kini Ia tinggal di kos-kosan dekil dan berbekal uang saku 50 ribu, ya 50 ribu !, cukup berapa hari? Bukan masalah besar baginya, He’s dream never end.
                       Mungkin saja Zamzami Ghibran berasal dari keluarga yang sangat kurang mampu, tapi bukan berarti Ia miskin tekad, miskin cita-cita. Bagi keluarga Ghibran penderitaan adalah nikmat yang masih berproses, bagai benih yang kian tumbuh dan akhirnya memberikan buah...
               Tekad Zamzami tak ada secara sendirinya, Ia tumbuh atas dorongan Ayahnya. Kata-kata sang Ayah yang tak terlupakan bagi Zamzami ialah “orang berkarakter memiliki tekad tak berhujung. Mungkin Ia akan terjatuh dan terus terjatuh tertatih. Namun Ia selalu bangkit dan selalu berjuang menggapai mimpinya, bagai pohon yang bertumbuh, suksespun perlu proses,”.Semangat Zamzami terbakar dan tak terasa air matanya meleleh setiap mengingat kata-kata sang Ayah yang penuh nutrisi  itu. Segera Ia ambil buku “mimpinya” dan gambarkan suatu project pohon mimpi. Benar pohon mimpi, yang bertumbuh dengan proses, sama seperti cita-cita.
Ia pun menggambarkan dengan lihai…
3,5 Tahun
Lulusan terbaik
Baca+nulis
hafidz
Sehari 1 lembar
Aku masih benih disini
 














             Zamzami masih belum terpikirkan banyak goalpoint mimpi-mimpinya. Ia memposisikan diri sebagai benih dari titik nol. Dua saja targetnya, jadi hafidz Alquran di sepuluh bulan pertamanya dan menjadi lulusan terbaik tercepat dalam skala waktu 3,5 tahun. Bagaikan pohon yang harus dirawat, Zamzami akan merawat dan mewujudkan dua mimpinya itu dengan istiqomah, untuk jadi hafidz Iaa akan berusaha menghafal Alquran sehari satu lembar, sedangkan sekarang Zamzami memiliki hafalan 5 Juz, dan untuk menjadi lulusan terbaik Ia akan berusaha banyak membaca dan menulis, selain hobi, menulis juga passionnya.
          Adzan Isya berkumandang memecah khayal Zamzami, segera Ia langkahkan kaki ke masjid. Setelah shalat Isya Zamzami terkantuk, padahal rencananya Ia akan membaca buku. Namun apa daya hari ini Ia terlalu lelah akibat perjalanan. Segera Ia menggelar secarik sajadah yang Ia bawa ke Yogyakarta. Ia mempunyai 2 sajadah, satu untuk shalat satu untuk tidur. Uangnya tak cukup tuk sekedar membeli sehampar kasur tipis, bahkan sajadahnya pun tak mampu menyelimutinya di kedinginan malam, namun Ia yakin kesengsaraan ini akan berakhir manis pada akhirnya. Ia berwudhu dan shalat witir 3 rakaat sebelum tidur dan sedikit wirid selepas shalat. Kali ini matanya terasa sangatlah berat dan tak sanggup lagi menahan kantuk lebih lama lagi, bergegas Ia menghamparkan sajadahnya dan mulai berbaring.
                         Bulan malam itu purnama, bertengger pada peraduannya. Bintang gemintang mesra menempel di pelataran cakrawala, cahyanya bekerlipan mampu memecah gulita yang pekat. Begitupun sang jangkrik yang mampu memecah sunyi, terciptalah suasana harmoni, turut mengantarkan manusia yang kelelahan di jalan-Nya menuju peristirahatannya dalam lelap yang penuh kenikmatan. Bernama Zamzami Ghibran.  Dan kami jadikan malam untuk beristirahat. Fabiayyialaairabbikumaatukadzibaan...

             Zamzami berdo’a dan akhirnya terpejam setelah larut dari dzikir yang menenangkan….
Ia pun tak lupa meminta dibangunkan sang Tuhan semesta alam agar membelainya penuh kasih dalam buaian tahajjud yang menggetarkan langit, tempat dimana do’a sangat mustajab penuh perhatian. Perhatian dari sang Tuhan semesta alam yang setia mendengar do’a-do’a para hambanya….

Ia terlelap dengan penuh peraan suka cita, juga cinta….





……………………………………………….


Hai orang yang berselimut,

bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),

(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.

(Dia-lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.[1]

………………….

              

 Tuhan mengabulkan do’a sang hamba. Lewat desauan angin malam yang lembut menyentuh kaki Zamzami hingga Ia terbangun dan terduduk sesaat. Nampak sang rembulan masih setia menunggui Zamzami terbangun, begitupun bintang dan juga jangkrik yang tak ingin kalah meramaikan sunyinya malam yang indah. Zamzami Ghibran bangun dengan cinta menuju cinta yang lain, yakni sujud pada sang pencipta cinta yang hidup dan setia mencintai hamba-hambanya. Mala mini udaranya sangat menusuk sumsum Zamzami, Ia tak dapat membayangkan dinginnya air malam ini. Tetapi yang namanya kebaikan ya harus diperjuangkan, memang selalu berat melaksanakannya, daripada menuruti nafsu yang hanya sesaat menawarkan kenikmatan, ya… kenikmatan yang fana dan menipu. Selesai shalat Zamzami menghafal Alquran, Ia agak menyesal sempat berhenti menghafal, so otomatis kemampuan menghafalnya berkurang.
            Setelah dua jam ternyata Ia hanya mampu menghimpun Alquran dalam dadanya sehalaman penuh, jika dulu mungkin Ia bias dapat satu lembar langsung. Merasa cukup Ia murojaah sampai shubuh. Shubuh akhirnya menyapa Ia bergegas menuju masjid dekat dengan kosnya. Ia numpak pit[2].
              “17 agustus 2018, dirgahayu Indonesiaku,”
              “kemerdekaanmu kini telah menua,”
             “berdarah pilu para pahlawanku,”
            “ kini daku merdeka, tak sudi lagi dijajah,”
           “ termasuk kemalasan dan rasa lemah,” celoteh baitan puisi Zamzami yang membelah sunyi di penghujung subuh. Dan entah kenapa dengan puisinya sendiri Ia merasakan kekuatan baru.
                “Kemerdekaan, berarti pembebasan dari kelemahan”
      Batin Zamzami yang kian terbakar api patriotismenya. Segera Ia berangkat mencari pekerjaan paruh waktu demi sesuap nasi bekal hidupnya di Yogyakarta. Setelah mengelilingi seantero kota Yogyakarta, akhirnya Zamzami mendapatkan lowongan yang Alhamdulillah tidak terlalu jauh dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai penjaga sekaligus mengelola bagian perpustakaan kota. Baginya ini duren runtuh, selain kerja Ia juga merasa tak perlu meraup kocek demi beli buku dan nyari bahan referensi.
               Zamzami pulang dengan puas, 35 ribu dirasa cukup tuk makan dua hari dan tuk beli peralatan PBAK[3] UIN Sunan Kalijaga 2018.
“Alhamdulillah,” syukurnya dalam hati.



         
                




[1] QS Almuzzammil ayat 1-10
[2] Jawa : mengendarai sepeda
[3] Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan, semacam masa orientasi mahasiswa.

Makalah Santri Millenial


Makalah :
Santri Millenial


Disusun oleh :
Izza Auliyai Rabby
Kelompok : 10
UIN Sunan Kalijaga, Prodi Ilmu Komunikasi
Ponpes Wahid Hasyim 2018

Berawal Dari Pertanyaan, Siapakah Generasi Millenial Itu?   
                 Dewasa ini, generasi millennials menjadi topik yang cukup hangat dikalangan masyarakat, Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.
               Generasi millennials memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi.
               Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun. Sungguh tidak, jika kita melihat ke dunia sosial media, generasi millennials sangat mendominasi jika dibandingkan dengan generasi X. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenials belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka. Generasi millennials cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial di sekitar mereka seperti dunia politik ataupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya.
Dan Siapakah Santri Itu ?
       Santri merupakan istilah yang diberikan kepada para penuntut ilmu Agama Islam di Indonesia. Santri juga identic dengan orang-orang yang tinggal di pondok pesantren, ciri khasnya santri ialah berjubah sarung dengan mahkota kopyah yang tersemat di kepalanya, sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka. Sejarah mencatat, Santri selalu memberikan subangasihnya untuk Negara dan Agama, baik pada periode prakolonial, era kemerdekaan, Orde baru hingga Reformasi.
               Menurut Nurcholis Madjid seorang cendikiawan Muslim, kata santri sendiri terdiri dari 2 sumber pendapat yang dijadikan acuan. Pertama, berasal dari bahasa saskerta, yaitu “Sastri,” yang berarti orang yang melek huruf,. Yang kedua berasal dari bahasa Jawa “Cantrik,” yang berarti seorang yang menetap dan mengikuti Kyai untuk menguasai suatu keahlian tertentu. Kata santri sendiri pun menurut seorang santri ponpes Hidayatul mubtadiin, Kuningan Jabar, bernama Muhammad Shalehuddin bahwa “Santri berasal dari 2 kata bahasa Inggris, Sun berarti Matahari, dan Three berarti tiga. Maka secara etimologi maka Santri adalah orang yang harus menjaga 3 Matahari besar, yakni Iman, Islam, dan Ihsan,”.
             Santri dituntut Kritis dan harus menjadi penjelajah intelektual yang kritis, pandai menganalisis dan moderat, terlebih lagi pada era Millenial dimana arus Globalisasi tidak dapat lagi dibendung lagi. Santri dalam perkembangan zaman yang kian pesat dituntut agar selalu Inovatif dan mengikuti perkembangan zaman, karena menurut Herbert Spencer seorang sosiolog terkemuka berkata, “Manusia yang punya keterampilanlah yang tak akan tergilas zaman,”. Namun Santri Millenial tetap harus menjaga etika, dan nilai-nilai moral yang menjadi identitas seorang Santri yang telah mendarah daging semenjak zamannya santri-santri salaf terdahulu. Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi seorang santri di era MIllenial.
Berikut tantangan yang harus dihadapi seorang santri di era Millenial dewasa ini :
1.     Tantangan Globalisasi yang cepat
                   Globalisasi berjalan dengan pesat dan tak dapat dibendung lagi, Seorang santri dituntut selektif dari masuknya paham-paham yang tidak sesuai dengan Identitas bangsa ini. Contohnya saja, Radikalisme yang seakan mewabah di era Millenial dewasa ini, paham-paham semacam itu merebak dengan cepat dalam arus teknologi yang pesat, menyebar hanya dengan satu klik smartphone. Paham-paham transnasionalisme yang lain seperti Liberalisme pun tak kalah berbahayanya. Maka santri harus selektif dalam pemilihan gurunya yang akan Ia gugu dan Ia tiru. Santri harus memilih seorang guru yang sanad keilmuannya muttashil atau sanad keilmuannya menyambung sampai ke Rasulullah SAW. Yang benar-benar paham agama, dan benar-benar menguasai ilmu agama tertentu.

2.     Perkembangan Iptek
                          Albert Einstein pernah berkata, “Ilmu tanpa Agama adalah cacat,” dan hal itu benar adanya, seorang yang memiliki ilmu tanpa Agama sangat rentan menggunakan ilmunya dalan konteks jalur yang tidak benar. Seperti DPR yang seharusnya menjaga amanah rakyat, justru menjadi musuh rakyat tersendiri. Ilmu semakin beraneka ragam tapi krisis moral harus juga diberantas, atas alas an interkoneksi antara ilmu Agama dan ilmu-ilmu Umum yang tak terelakkan pentingnya, agar selain santri tak tertinggal oleh peradaban, Santri juga harus tetap menjaga nilai-nilai positif yang menjadi identitas seorang santri itu sendiri. Sedangkan teknologi adalah tumpu suatu peradaban, Santri pun tidak boleh buta dalam perkembangan tekhnologi.

3.     Asimilasi Kultural
               Lagi, Globalisasi kerapkali membawa nilai-nilai budaya yang tidak sesuai dengan kepribadian Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, dalam menghadapi denkandensi ini santri harus menjadi seorang Agent of change, dalam pemberantasan krisis moral pada zaman yang serba cepat ini. Dengan bermodalkan ilmu-ilmu salaf yang menjunjung tinggi yang langsung mencontoh ke uswatun hasanahnya Rasulullah SAW.

          Kesimpulannya adalah, Seorang Santri harus terus beradaptasi dengan arus zaman, Namun Ia juga harus tetap menjaga nilai-nilai, dan moral yang menjadi identitas khasnya seorang Santri. Sesuai visi NU, Menjaga yang baik dan mengambil yang lebih baik lagi. 23/09/2018.




Daftar Pustaka

Majid, Nurcholis. Sejarah Santri. 2018. Dumay : Nu Online
          Soekanto, Soerjono. Pengantar Sosiologi. 2018 : Journal Online
          Journal Online :
        Millenial.com