Kisah Cinta Pohon Yogyakarta
Bagian Satu : Benih
Benih, ialah
awal pohon yang kokoh…
Benih yang baik
demi kualitas pohon yang baik,
Begitupun
mimpi-mimpi, harus dituai dengan benih yang mendasari idealisme atas dasar
cinta dan kasih….
|
“Apa, kau mau menikahinya? Modal apa kau, kasih makan apa kau, hah?
Cinta,”
ketus Pria bongsor paruh baya itu. Dengan suara
menggelegar di ruangan yang luas, sehingga suaranya meraung-raung.
Air mata sang gadis meleleh tak tertahankan, malam itu menjadi malam
yang sangat buruk baginya, ditambah badai hujan diluar yang membuat suasana
makin dramatis. Namun tak disangka pukulan mendarat di kepala sang gadis yang
beperawakan mungil tapi semampai. Seketika pandangannya kabur dan berakhir
gelap.
“Doooor,”
“Akhhhhhhhh….,” Sayup-sayup suara ledakan pistol disusul teriakan parau
menembus telinga sang gadis selintas sebelum benar-benar tak sadarkan diri.
..........................................
Nun, jauh
sebelum kejadian itu…
Jingga membelai senja penuh mesra.
Burung-burung berterbangan menuju sarangnya, Cahya mentari mulai tenggelam dari
peraduannya. Binar Maghrib dan desauan adzan menyapa manusia dengan beragam
kesibukannya…
“Sampai jumpa, nak,” pamit ibuku dengan derain air mata yang meleleh.
“iya, bu. Doakan anakmu ini menggapai mimpinya,,” Lirihku di dalam hati.
Hari ini, 16 agustus 2018. Kali pertama Zamzami
Ghibran menginjakkan kaki di Yogyakarta, mimpinya pertama yang Ia nanti-nantikan.
Mengambil S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Ilmu Komunikasi. Jurusan
yang sesuai passionnya. Menulis! Ya, menulis, terutama Jurnalistik dan
Kesusastraan.
Awalnya Zamzami tak diizinkan sang Ibu merantau ke Yogyakarta demi
mimpinya. Selain faktor ekonomi, Zamzami juga tak memiliki sanak saudara
disana. Tak ayal kini Ia tinggal di kos-kosan dekil dan berbekal uang saku 50 ribu, ya 50 ribu !, cukup berapa
hari? Bukan masalah besar baginya, He’s
dream never end.
Mungkin saja Zamzami Ghibran berasal dari keluarga yang sangat kurang
mampu, tapi bukan berarti Ia miskin tekad, miskin cita-cita. Bagi keluarga
Ghibran penderitaan adalah nikmat yang masih berproses, bagai benih yang kian
tumbuh dan akhirnya memberikan buah...
Tekad Zamzami tak ada secara sendirinya, Ia tumbuh atas dorongan
Ayahnya. Kata-kata sang Ayah yang tak terlupakan bagi Zamzami ialah “orang berkarakter
memiliki tekad tak berhujung. Mungkin Ia akan terjatuh dan terus terjatuh
tertatih. Namun Ia selalu bangkit dan selalu berjuang menggapai mimpinya, bagai
pohon yang bertumbuh, suksespun perlu proses,”.Semangat Zamzami terbakar dan
tak terasa air matanya meleleh setiap mengingat kata-kata sang Ayah yang penuh
nutrisi itu. Segera Ia ambil buku
“mimpinya” dan gambarkan suatu project pohon mimpi. Benar pohon mimpi, yang
bertumbuh dengan proses, sama seperti cita-cita.
Ia pun menggambarkan dengan lihai…
3,5 Tahun
Lulusan terbaik
|
Zamzami masih belum terpikirkan banyak goalpoint mimpi-mimpinya. Ia
memposisikan diri sebagai benih dari titik nol. Dua saja targetnya, jadi hafidz
Alquran di sepuluh bulan pertamanya dan menjadi lulusan terbaik tercepat dalam
skala waktu 3,5 tahun. Bagaikan pohon yang harus dirawat, Zamzami akan merawat
dan mewujudkan dua mimpinya itu dengan istiqomah,
untuk jadi hafidz Iaa akan berusaha menghafal Alquran sehari satu lembar,
sedangkan sekarang Zamzami memiliki hafalan 5 Juz, dan untuk menjadi lulusan
terbaik Ia akan berusaha banyak membaca dan menulis, selain hobi, menulis juga passionnya.
Adzan
Isya berkumandang memecah khayal Zamzami, segera Ia langkahkan kaki ke masjid.
Setelah shalat Isya Zamzami terkantuk, padahal rencananya Ia akan membaca buku.
Namun apa daya hari ini Ia terlalu lelah akibat perjalanan. Segera Ia menggelar
secarik sajadah yang Ia bawa ke Yogyakarta. Ia mempunyai 2 sajadah, satu untuk
shalat satu untuk tidur. Uangnya tak cukup tuk sekedar membeli sehampar kasur
tipis, bahkan sajadahnya pun tak mampu menyelimutinya di kedinginan malam,
namun Ia yakin kesengsaraan ini akan berakhir manis pada akhirnya. Ia berwudhu dan shalat witir 3 rakaat
sebelum tidur dan sedikit wirid selepas shalat. Kali ini matanya terasa
sangatlah berat dan tak sanggup lagi menahan kantuk lebih lama lagi, bergegas
Ia menghamparkan sajadahnya dan mulai berbaring.
Bulan malam itu purnama, bertengger pada
peraduannya. Bintang gemintang mesra menempel di pelataran cakrawala, cahyanya
bekerlipan mampu memecah gulita yang pekat. Begitupun sang jangkrik yang mampu
memecah sunyi, terciptalah suasana harmoni, turut mengantarkan manusia yang
kelelahan di jalan-Nya menuju peristirahatannya dalam lelap yang penuh
kenikmatan. Bernama Zamzami Ghibran. Dan kami jadikan malam untuk beristirahat.
Fabiayyialaairabbikumaatukadzibaan...
Zamzami berdo’a dan akhirnya
terpejam setelah larut dari dzikir yang menenangkan….
Ia pun tak
lupa meminta dibangunkan sang Tuhan semesta alam agar membelainya penuh kasih
dalam buaian tahajjud yang menggetarkan langit, tempat dimana do’a sangat
mustajab penuh perhatian. Perhatian dari sang Tuhan semesta alam yang setia
mendengar do’a-do’a para hambanya….
Ia terlelap
dengan penuh peraan suka cita, juga cinta….
……………………………………………….
Hai orang yang berselimut,
bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari,
kecuali sedikit (daripadanya),
(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari
seperdua itu sedikit,
atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al
Qur'an itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang
berat.
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih
tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai
urusan yang panjang (banyak).
Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah
kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
(Dia-lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan
(yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.
Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan
dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
………………….
Tuhan mengabulkan do’a sang hamba.
Lewat desauan angin malam yang lembut menyentuh kaki Zamzami hingga Ia
terbangun dan terduduk sesaat. Nampak sang rembulan masih setia menunggui
Zamzami terbangun, begitupun bintang dan juga jangkrik yang tak ingin kalah
meramaikan sunyinya malam yang indah. Zamzami Ghibran bangun dengan cinta
menuju cinta yang lain, yakni sujud pada sang pencipta cinta yang hidup dan
setia mencintai hamba-hambanya. Mala mini udaranya sangat menusuk sumsum
Zamzami, Ia tak dapat membayangkan dinginnya air malam ini. Tetapi yang namanya
kebaikan ya harus diperjuangkan, memang selalu berat melaksanakannya, daripada
menuruti nafsu yang hanya sesaat menawarkan kenikmatan, ya… kenikmatan yang
fana dan menipu. Selesai shalat Zamzami menghafal Alquran, Ia agak menyesal
sempat berhenti menghafal, so otomatis
kemampuan menghafalnya berkurang.
Setelah dua jam
ternyata Ia hanya mampu menghimpun Alquran dalam dadanya sehalaman penuh, jika
dulu mungkin Ia bias dapat satu lembar langsung. Merasa cukup Ia murojaah
sampai shubuh. Shubuh akhirnya menyapa Ia bergegas menuju masjid dekat dengan
kosnya. Ia numpak pit.
“17 agustus 2018, dirgahayu
Indonesiaku,”
“kemerdekaanmu kini telah menua,”
“berdarah pilu para pahlawanku,”
“ kini daku merdeka, tak sudi lagi
dijajah,”
“ termasuk kemalasan dan rasa
lemah,” celoteh baitan puisi Zamzami yang membelah sunyi di penghujung subuh.
Dan entah kenapa dengan puisinya sendiri Ia merasakan kekuatan baru.
“Kemerdekaan, berarti
pembebasan dari kelemahan”
Batin Zamzami yang kian
terbakar api patriotismenya. Segera Ia berangkat mencari pekerjaan paruh waktu
demi sesuap nasi bekal hidupnya di Yogyakarta. Setelah mengelilingi seantero
kota Yogyakarta, akhirnya Zamzami mendapatkan lowongan yang Alhamdulillah tidak
terlalu jauh dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai penjaga sekaligus
mengelola bagian perpustakaan kota. Baginya ini duren runtuh, selain kerja Ia juga merasa tak perlu meraup kocek demi beli buku dan nyari bahan
referensi.
Zamzami pulang
dengan puas, 35 ribu dirasa cukup tuk makan dua hari dan tuk beli peralatan
PBAK
UIN Sunan Kalijaga 2018.
“Alhamdulillah,”
syukurnya dalam hati.