Senin, 09 Desember 2019

Kisah Cinta Pohon Yogyakarta


Kisah Cinta Pohon Yogyakarta

Bagian Satu : Benih
Benih, ialah awal pohon yang kokoh…
Benih yang baik demi kualitas pohon yang baik,
Begitupun mimpi-mimpi, harus dituai dengan benih yang mendasari idealisme atas dasar cinta dan kasih….
 



                  
               “Apa, kau mau menikahinya? Modal apa kau, kasih makan apa kau, hah? Cinta,”
ketus Pria bongsor paruh baya itu. Dengan suara menggelegar di ruangan yang luas, sehingga suaranya meraung-raung.
              Air mata sang gadis meleleh tak tertahankan, malam itu menjadi malam yang sangat buruk baginya, ditambah badai hujan diluar yang membuat suasana makin dramatis. Namun tak disangka pukulan mendarat di kepala sang gadis yang beperawakan mungil tapi semampai. Seketika pandangannya kabur dan berakhir gelap.
                 “Doooor,”
                   “Akhhhhhhhh….,” Sayup-sayup suara ledakan pistol disusul teriakan parau menembus telinga sang gadis selintas sebelum benar-benar tak sadarkan diri.
..........................................
                                   Nun, jauh sebelum kejadian itu…
                Jingga membelai senja penuh mesra. Burung-burung berterbangan menuju sarangnya, Cahya mentari mulai tenggelam dari peraduannya. Binar Maghrib dan desauan adzan menyapa manusia dengan beragam kesibukannya…
             “Sampai jumpa, nak,” pamit ibuku dengan derain air mata yang meleleh.
               “iya, bu. Doakan anakmu ini menggapai mimpinya,,” Lirihku di dalam hati.
Hari ini, 16 agustus 2018. Kali pertama Zamzami Ghibran menginjakkan kaki di Yogyakarta, mimpinya pertama yang Ia nanti-nantikan. Mengambil S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Ilmu Komunikasi. Jurusan yang sesuai passionnya. Menulis! Ya, menulis, terutama Jurnalistik dan Kesusastraan.
                Awalnya Zamzami tak diizinkan sang Ibu merantau ke Yogyakarta demi mimpinya. Selain faktor ekonomi, Zamzami juga tak memiliki sanak saudara disana. Tak ayal kini Ia tinggal di kos-kosan dekil dan berbekal uang saku 50 ribu, ya 50 ribu !, cukup berapa hari? Bukan masalah besar baginya, He’s dream never end.
                       Mungkin saja Zamzami Ghibran berasal dari keluarga yang sangat kurang mampu, tapi bukan berarti Ia miskin tekad, miskin cita-cita. Bagi keluarga Ghibran penderitaan adalah nikmat yang masih berproses, bagai benih yang kian tumbuh dan akhirnya memberikan buah...
               Tekad Zamzami tak ada secara sendirinya, Ia tumbuh atas dorongan Ayahnya. Kata-kata sang Ayah yang tak terlupakan bagi Zamzami ialah “orang berkarakter memiliki tekad tak berhujung. Mungkin Ia akan terjatuh dan terus terjatuh tertatih. Namun Ia selalu bangkit dan selalu berjuang menggapai mimpinya, bagai pohon yang bertumbuh, suksespun perlu proses,”.Semangat Zamzami terbakar dan tak terasa air matanya meleleh setiap mengingat kata-kata sang Ayah yang penuh nutrisi  itu. Segera Ia ambil buku “mimpinya” dan gambarkan suatu project pohon mimpi. Benar pohon mimpi, yang bertumbuh dengan proses, sama seperti cita-cita.
Ia pun menggambarkan dengan lihai…
3,5 Tahun
Lulusan terbaik
Baca+nulis
hafidz
Sehari 1 lembar
Aku masih benih disini
 














             Zamzami masih belum terpikirkan banyak goalpoint mimpi-mimpinya. Ia memposisikan diri sebagai benih dari titik nol. Dua saja targetnya, jadi hafidz Alquran di sepuluh bulan pertamanya dan menjadi lulusan terbaik tercepat dalam skala waktu 3,5 tahun. Bagaikan pohon yang harus dirawat, Zamzami akan merawat dan mewujudkan dua mimpinya itu dengan istiqomah, untuk jadi hafidz Iaa akan berusaha menghafal Alquran sehari satu lembar, sedangkan sekarang Zamzami memiliki hafalan 5 Juz, dan untuk menjadi lulusan terbaik Ia akan berusaha banyak membaca dan menulis, selain hobi, menulis juga passionnya.
          Adzan Isya berkumandang memecah khayal Zamzami, segera Ia langkahkan kaki ke masjid. Setelah shalat Isya Zamzami terkantuk, padahal rencananya Ia akan membaca buku. Namun apa daya hari ini Ia terlalu lelah akibat perjalanan. Segera Ia menggelar secarik sajadah yang Ia bawa ke Yogyakarta. Ia mempunyai 2 sajadah, satu untuk shalat satu untuk tidur. Uangnya tak cukup tuk sekedar membeli sehampar kasur tipis, bahkan sajadahnya pun tak mampu menyelimutinya di kedinginan malam, namun Ia yakin kesengsaraan ini akan berakhir manis pada akhirnya. Ia berwudhu dan shalat witir 3 rakaat sebelum tidur dan sedikit wirid selepas shalat. Kali ini matanya terasa sangatlah berat dan tak sanggup lagi menahan kantuk lebih lama lagi, bergegas Ia menghamparkan sajadahnya dan mulai berbaring.
                         Bulan malam itu purnama, bertengger pada peraduannya. Bintang gemintang mesra menempel di pelataran cakrawala, cahyanya bekerlipan mampu memecah gulita yang pekat. Begitupun sang jangkrik yang mampu memecah sunyi, terciptalah suasana harmoni, turut mengantarkan manusia yang kelelahan di jalan-Nya menuju peristirahatannya dalam lelap yang penuh kenikmatan. Bernama Zamzami Ghibran.  Dan kami jadikan malam untuk beristirahat. Fabiayyialaairabbikumaatukadzibaan...

             Zamzami berdo’a dan akhirnya terpejam setelah larut dari dzikir yang menenangkan….
Ia pun tak lupa meminta dibangunkan sang Tuhan semesta alam agar membelainya penuh kasih dalam buaian tahajjud yang menggetarkan langit, tempat dimana do’a sangat mustajab penuh perhatian. Perhatian dari sang Tuhan semesta alam yang setia mendengar do’a-do’a para hambanya….

Ia terlelap dengan penuh peraan suka cita, juga cinta….





……………………………………………….


Hai orang yang berselimut,

bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),

(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).

Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.

(Dia-lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.[1]

………………….

              

 Tuhan mengabulkan do’a sang hamba. Lewat desauan angin malam yang lembut menyentuh kaki Zamzami hingga Ia terbangun dan terduduk sesaat. Nampak sang rembulan masih setia menunggui Zamzami terbangun, begitupun bintang dan juga jangkrik yang tak ingin kalah meramaikan sunyinya malam yang indah. Zamzami Ghibran bangun dengan cinta menuju cinta yang lain, yakni sujud pada sang pencipta cinta yang hidup dan setia mencintai hamba-hambanya. Mala mini udaranya sangat menusuk sumsum Zamzami, Ia tak dapat membayangkan dinginnya air malam ini. Tetapi yang namanya kebaikan ya harus diperjuangkan, memang selalu berat melaksanakannya, daripada menuruti nafsu yang hanya sesaat menawarkan kenikmatan, ya… kenikmatan yang fana dan menipu. Selesai shalat Zamzami menghafal Alquran, Ia agak menyesal sempat berhenti menghafal, so otomatis kemampuan menghafalnya berkurang.
            Setelah dua jam ternyata Ia hanya mampu menghimpun Alquran dalam dadanya sehalaman penuh, jika dulu mungkin Ia bias dapat satu lembar langsung. Merasa cukup Ia murojaah sampai shubuh. Shubuh akhirnya menyapa Ia bergegas menuju masjid dekat dengan kosnya. Ia numpak pit[2].
              “17 agustus 2018, dirgahayu Indonesiaku,”
              “kemerdekaanmu kini telah menua,”
             “berdarah pilu para pahlawanku,”
            “ kini daku merdeka, tak sudi lagi dijajah,”
           “ termasuk kemalasan dan rasa lemah,” celoteh baitan puisi Zamzami yang membelah sunyi di penghujung subuh. Dan entah kenapa dengan puisinya sendiri Ia merasakan kekuatan baru.
                “Kemerdekaan, berarti pembebasan dari kelemahan”
      Batin Zamzami yang kian terbakar api patriotismenya. Segera Ia berangkat mencari pekerjaan paruh waktu demi sesuap nasi bekal hidupnya di Yogyakarta. Setelah mengelilingi seantero kota Yogyakarta, akhirnya Zamzami mendapatkan lowongan yang Alhamdulillah tidak terlalu jauh dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai penjaga sekaligus mengelola bagian perpustakaan kota. Baginya ini duren runtuh, selain kerja Ia juga merasa tak perlu meraup kocek demi beli buku dan nyari bahan referensi.
               Zamzami pulang dengan puas, 35 ribu dirasa cukup tuk makan dua hari dan tuk beli peralatan PBAK[3] UIN Sunan Kalijaga 2018.
“Alhamdulillah,” syukurnya dalam hati.



         
                




[1] QS Almuzzammil ayat 1-10
[2] Jawa : mengendarai sepeda
[3] Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan, semacam masa orientasi mahasiswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar