Senin, 09 Desember 2019

Perkembangan Filsafat Dengan Kacamata Mesin Waktu



Rounded Rectangle: IZZA AULIYAI RABBY / 18107030019
ILMU KOMUNIKASI A 2018
MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
 

                                                                                                                                             

Perkembangan Filsafat Dengan Kacamata Mesin Waktu
­-Apa jadinya jika Thales bercakap dengan Karl Max? bagaimana pula Rhazes jika ia bertatap muka dengan Niecsht?-
Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan, filsafat modern dan filsafat kontemporer.Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern. Setiap periode memiliki ciri khasnya masing-masing, tergantung pola pikir para the man of change masing-masing. Setiap peradaban memiliki problema yang harus dipecahkan masing-masing kepala pula.
1.      FILSAFAT PERIODE KLASIK
Filsafat yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia.Filsafat yunani telah menyebar dan mempengaruhi di berbagai bangsa diantaranya adalah bangsa Romawi, karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa Romawi yang semula beragama kristen dan kemudian kemasukan filsafat merupakan suatu formulasi baru yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga munculah filsafat Eropa yang tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani. Filsafat yang memiliki ciri khas tentang keadaan masyarakat dan Politik, menentang mitologi athena yang merebak bagaikan jamur busuk, ketika Filsafat datang, para dewa mati.
Para sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato: "All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato". Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini.Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.
Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara.
Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan.Dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan.Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya.Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.
Filosof berikutnya yang perlu diperkenalkan adalah Pythagoras.Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya.Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis.Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah. Pythagoras adalah Filosof yang cendikiawan, menguasai matematika hingga dewasa kini disebut sebagai bapak Matematika.
Pada Zaman Pythagoras ada Herakleitos Di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap.Segala sesuatu yang ada sedang menjadi.Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.Filosof pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika adalah Parmenides.Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos.
Kemudian lahirlah generasi berikutnya, mereka adalah murid-murid selanjutnya, banyak yang berasal dari academia, dilansir dari lysis :
  • Socrates
Menurut Socrates, pengetahuan dapat diperoleh dengan melakukan pengamatan terhadap hal-hal yang konkret dan beragam corak, namun masih termasuk dalam jenis yang sama. Unsur-unsur yang berbeda kemudian dihilangkan, sehingga tinggal unsur yang sama dan bersifat umum sebagai pengetahuan yang sejati. Dengan demikian, Socrates mengemukakan konsep: “Barangsiapa yang memiliki pengertian sejati, akan memiliki kebajikan (arête) atau keutamaan moral, sehingga dapat menjadi manusia yang sempurna”
  • Plato (427 – 347 SM)
Plato merupakan murid setia Socrates. Titik tolak pemikiran filsafatnya adalah menentukan mana yang paling benar, pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman atau pengetahuan indra yang berubah-ubah (Heracleitos) atau pengetahuan yang didapatkan dari akal yang tetap (Parmenides). Di bidang politik, Plato memperkenalkan konsep penting, yang menyebutkan di dalam negara ideal terdapat tiga golongan sebagai berikut:
  • Pemerintah sebagai golongan tertinggi (para penjaga, para filsuf)
  • Prajurit sebagai golongan pembantu, yang menjaga keamanan negara dan ketaatan warganya
  • Polis atau golongan rakyat biasa yang bertugas memikul ekonomi negara (petani, pedagang, tukang)
  • Aristoteles (348 – 322 SM)
Aristoteles merupakam filsuf yang mengembangkan konsep logika (yang disebutnya sebagai analitika) dan etika. Di bidang ilmu pengetahuan, Aristoteles membangi ilmu pengetahuan menjadi:
  • Ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik)
  • Ilmu pengetahuan produktif (teknik dan kesenian)
  • Ilmu pengetahuan teoretik (fisika, matematika, dan metafisika)
Dari pemikiran-pemikiran pilsuf diatas bisa diambil ciri-ciri filsafat barat zaman klasik antara lain :
  • Ilmu pengetahuan masih bersifat umum
  • Kebanyakan masih memikirkan asal usul kehidupan
  • Masih ada perbedaan pemikiran antara filsuf satu dengan yang lain
  • Pembagian ilmu pengetahuan masih terbatas
2.      FILSAFAT ISLAM
Filsafat Islam dimaksudkan adalah filsafat dalam perspektif pemikiran orang Islam. Seperti juga pendidikan Islam adalah dimaksudkan pendidikan dalam perspektif orang Islam.
Karena berdasarkan perspektif pemikiran orang, maka kemungkinan keliru dan bertentangan satu sama lain adalah hal yang wajar. 
Para ahli mengakui bahwa bangsa Arab pada abad 8-12 tampil ke depan (maju) karena dua hal: pertama, karena pengaruh sinar al-Qur’an yang memberi semangat terhadap kegiatan keilmuan, kedua, karena pergumulannya dengan bangsa asing (Yunani), sehingga ilmu pengetahuan atau filsafat mereka dapat diserap, serta terjadinya akulturasi budaya antar mereka (Ghallab: 121). Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur Beberapa ayat petama yang diwahyukan Muhammad s.a.w. menandaskan pentingnya membaca, menulis dan belajar-mengajar. Allah menyeru: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam
Para tokohnya yakni :
·         Alkindi
Dialah pelopor Filsafat berkembang didaerah Bahgdad, didukung antusiasme Sultan, Bahgdad menjadi pusat Ilmu pengetahuan pada masanya. Buku-buku Filsafat Yunani diterjemahkan, Alkindi sendiri menjadi seorang rekonsiliator Filsafat dan Agama—yakni, menyesuaikan Filsafat agar tidak melenceng dari Agama Islam, namun, merealisasikan afalaa ta’qiluun.
·         Alfaraby
Alfarabi adalah the second teacher, yang menafsirkan kitab dari Aristoteles yang menjadi the firs teacher.
·         Arrazy
Arrazi merupakan seorang tabib Islam, menulis buku ThibbArruhanii dia memberikan metode pemikiran filsafat, penulis produktif sekitar 200-an buku.
·         Ikhwan AlShafa
Merupakan perkumpulan aliran Mu’tazilah yang menyusun organisasi pemikiran yang radikal, mereka lahir pasca kepemimpinan Khalifah Almakmun, pemimpin setelahnya membuang jauh-jauh madzhab Mutazilah.
·         Ibnu Rusyd
Dikenal juga sebagai Averrois dalam pandangan orang barat, ia sebagai the great komentator of aristotle. Ia jugalah yang meluruskan kitab tahafut alfalasifat, karya Alghazali, dalam kitabnya tahafut altahafut. Sejatinya Imam AlGhazali tidak melarang filsafat secara penuh, hanya beberapa bagian saja yang ia haramkan. Ia juga sebagai pelopor Filsafat yang menjadikan Eropa Renaisans, dari zaman kegelapan.

3.      FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN
            Awal skolastik
Sutarjo Wiramihardja mengatakan bahwa zaman ini berhubungan dengan terjadinya perpindahan penduduk, yaitu perpindahan bangsa Hun dari Asia ke Eropa sehingga bangsa Jerman pindah melewati perbatasan kekaisaran romawi yang secara politik sudah mengalami kemerosotan. Walaupun demikian masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan yang mana sebelumnya merosot karena kuatnya dominasi golongan gereja[5].
Tokoh-tokoh filsafat pada masa ini adalah :
1.      Agustinus (354-430 M)
Pemikirannya adalah dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama . kebanaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu yang dicipatakan oleh Allah dari yang tidak ada (creation ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan-tuhan.
2. Santo Anselmus (1033-1109)
Ungkapan yang terkenal dari Santo Anselmus adalah credo ut intelligam(saya percaya agar saya paham )
3. Peter Abaelardus (1079-1142)
Kebebasan berfikir dieropa dipelopori oleh peter abaelardus. ia menginginkan kebebaasn berfikir dengan membalik dictum Augustinus-Anselmus, credo ut intelligam  dan merumuskan pandangannya sendiri menjadi intelligo ut credom (saya paham supaya saya percaya).
  1. Kejayaan skolastik(1200-1300)
Pada masa ini bukan hanya filsuf kristiani saja yang berkrmbang tetapi juga pemikiran pada masa ini dipengaruhi oleh filsuf Islam. Masa ini juga disebut dengan masa berbunga karena muncul universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan.
Tokoh yang paling terkenal pada masa ini ialah Thomas Aquinas (1225-1274)
  1. Masa akhir skolastik (1300-1450 M)
Runtuhnya masa skolastik ditandai dengan pemikiran Willism Occam (1285-1349) dengan tulisan-tulisannya menyerang kekuasaan gereja dan teologi Kristen. William Occam merasa membela agama dengan menceraikan ilmu dari teologi. Tuhan harus diterima atas dasar keimanan, bukan dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak dapat mendeostrasikan[6].
Ciri-ciri filsafat abad pertengahan adalah:
  • Filsafat sudah diajarkan pada sekolah-sekolah
  • Adanya pengaruh gereja
  • Pemikiran mereka berdasarkan keyakinan kepada doktrin gereja
4.      FILSAFAT MODERN
Bermula dari William Ockham (1295-1349), yang mengetengahkan Via Moderna (jalan modern) dan Via Antiqua (jalan kuno). Akibatnya manusia didewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada Tuhan dan surga. Akibatnya, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat dan membuahkan sesuatu yang mengagumkan. Di sisi lain, nilai filsafat merosot karena dianggap ketinggalan zaman.
Dalam era filsafat modern, yang kemudian dilanjutkan dengan era filsafat ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran, diantaranya Rasionalisme dan Empirisme selain Renaissance.
Renaisance
Renaissance ialah humanisme, individualisme, lepas dari agama (tidak mau diatur oleh agama), empirisme dan rasionalisme. Hasil yang diperoleh dari watak itu ialah pengetahuan rasional berkembang. Filsafat berkembang bukan pada zaman Renaisans itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (zaman modern). Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisme itu. Agama (Kristen) semakin ditinggalkan, ini karena semangat humanisme itu. Ini kelihatan dengan jelas kelak pada zaman modern. Rupanya setiap gerakan pemikiran mempunyai kecenderungan menghasilkan yang positif, tetapi sekaligus yang negatif.
Jadi, Zaman Modern filsafat didahului oleh Zaman Renaisans. Sebenarnya secara esensial Zaman Renaisans itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman Modern. Ciri-ciri filsafat Renaisans ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Pada filsafatnya kita menemukan ciri-ciri Renaisans tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani (renaissance), individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. Sekalipun demikian, para ahli lebih senang menyebut Descartes sebagai tokoh rasionalisme. Penggelaran yang tidak salah, tetapi bukanlah hanya Descartes yang dapat dianggap sebagai tokoh rasionalisme. Rasionalis pertama dan serius pada zaman modern memang Descartes.
Setelah pemikiran Renaisans sampai pada penyempurnaannya, yaitu telah tercapainya kedewasaan pemikiran, maka terdapat keseragaman mengenai sumber pengetahuan yang secara alamiah dapat dipakai manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Karena orang mempunyai kecenderungan untuk membentuk aliran berdeasarkan salah satu di antara keduanya, maka kedua-duanya sama-sama membentuk aliran tersendiri yang saling bertentangan.
Rasionalisme
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keiginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik), yang pernah diterima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khalan.
Rasionalisme adalah salah satu aliran filsafat utama yang meletakkan kandasan konseptual epistimologi. Dalam pandangan penganut rasionalisme dengan proses rasional, yaitu melalui penalaran, pengetahuan dapat dicapai secara dan absah dan benar. Faham filsafat rasional menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Jika empirisisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengalami obyek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika. Dalam menyusun pengetahuan, kaum Rasionalis menggunakan penalaran deduktif.
Rasionalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas, dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme.
 
empirisme
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan yang lain berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret ini disebut penganut empirisme.
Secara radikal, empirisme berpendirian bahwa sebenarnya seseorang hanya bisa memperoleh pengetahuan merlalui pengalaman dengan menggunakan indra lahiriahnya. Empirisme suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme diambil dari bahas Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Untuk memahami isi doktrin ini perlu dipahami lebih dahulu dua ciri pokok empirisme, yaitu mengenai teori tentang makna dan teori tentang pengetahuan.
Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret. Menurut paham empirisme ini, gejala alam ini bersifat konkret dan dapat ditangkap dengan pancaindera manusia. Dengan pertolongan pancainderanya, manusia berhasil menghimpun sangat banyak pengetahuan. Penganut empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif.
Sebagai tokohnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume.
5.      FILSAFAT POST-MODERN
Postmodern merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalanya memenuhi janji-janjinya. Postmodern juga cendeung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu akumulasi penglaman peradaban barat.
Postmodernisme bersifat relative. Kebenaran adalah relative, kenyataan (realita) adalah relative, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain. Hal tersebut jelas memepunyai  implikasi bagaimana kita memandang diri dan mengkonstruk identitas diri. Hal ini senada dengan devisi dari Friedrich Wiliam Nietzsche (1844-1900) yang dikenal sebagai nabi dari postmodernisme. Dia mengatakan bahwa”Ada banyak macam mata. Bahkan sphink juga mamiliki mata, dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.
Postmodernisme pertamakali muncul di Prancis sekitar tahun 1970-an. Pada awalnya postmodern lahir terhadap kritik arsitektur, dan harus kita akui kata postmodern itu sendiri muncul sebagai bagian dari modernitas ketika postmodern mulai memasuki ranah filsafat.  
Post dalam modern tidak dimaksudkan sebagai sbuah periode atau waktu tetapi lebih merupakan sebuah konsep yang hendak melampaui segala hal modern. Postmodern ini merupakan sebuh kritik atas realitas modernitas yang dianggap telah gagal dalam melnjutkan proyek p encerahan. Nafas utama dari postmodernadalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan gangguan terhadap akalbudi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, local, tersebar dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakan dirinya.
Tokoh-Tokoh Postmodern dan Ajarannya
1.Friedrich Wilhelm Nietzsche sche (1844-1900)
Lahir di Rochen, Prusia 15 oktober 1884. Menurutnya manusia harus menggunakakan skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercaya dari akal. Terlalu naïf jika akal dipercaya mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orng beranggapan dengan akal diperoleh pengetahuan atau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber kekeliruan.
2.        Jacques Derrida (Al-Jazair, 15 juli 1930-Paris, 9 oktober 2004)
Seorang filsuf Prancis keturunan Yahudi sebagai pendiri ilmu dekonstruktivisme. Menurutnya apa yang dicari manusia modern selama ini, yaitu kepastian tunggal yang “ada di depan,” tidaklah ada dan tidak ada satupun yang bisa dijadikan pegangan. Karena, satu-satunya yang bisa dikatakan pasti, ternyata adalah ketidakpastian, atau permainan. Semuanaya harus ditunda atau ditangguhkan sembari kita terus bermain bebas dengan perbedaan. Inilah yang ditawarkan Derrida, dan postmodernitas adalah permainan dengan ketidakpastian.
3. Capra
Capra melihat didunia saat ini banyak sekali terdapat kontradiksi. Kontradiksi inilah yang disebutnya sebagai kakacauan. Ini adalah suatu tanda kehancuran kebudayaan. Menurutnya, budaya dunia ( dalam hal ini terutama Barat) telah terpuruk di lembah kehancuran,penuh kontradiksi, kacau. Penyebab utamanya ialah tidak tepatnya paradigm yang digunakan dalam penyusunan kebudayaan barat itu. Inilah kekeliruan pemikiran yang dimaksud.
Capra melihat bahwa kekacauan itu karena tidak digunakan paradigm utuh dalam merekayasa budaya. Dan capra menuding bahwa Cartesian dan Newtonian-lah yang bertanggungjawab memunculkan paradigma itu. Selanjutnya penggunaan paradigma itulah sebagai penyebab kekacauan budaya.
Capra mengusulkan harus ada paradigma tunggal (yang mampu melihat alam sebagai sesuatu yang wholeness) untuk digunakan dalam mendesains kembalibudaya dunia. Dia menghendaki agar filsafat China yaitu I Ching digunakan dalam mereformulasikan paradigma baru tersebut. Menurutnya filsafat China tersebut mampu melihat dunia sebagai suatu system.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar