![]() |

Perkembangan Filsafat Dengan Kacamata Mesin Waktu
-Apa
jadinya jika Thales bercakap dengan Karl Max? bagaimana pula Rhazes jika ia
bertatap muka dengan Niecsht?-
Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni
Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan, filsafat modern dan filsafat
kontemporer.Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad
pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya
filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer
didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern. Setiap periode memiliki ciri
khasnya masing-masing, tergantung pola pikir para the man of change masing-masing. Setiap peradaban memiliki problema
yang harus dipecahkan masing-masing kepala pula.
1.
FILSAFAT PERIODE KLASIK
Filsafat yunani telah mencapai
kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani dan menjadikan titik tolak
peradaban manusia di dunia.Filsafat yunani telah menyebar dan mempengaruhi di
berbagai bangsa diantaranya adalah bangsa Romawi, karena Romawi merupakan
kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa Romawi yang semula
beragama kristen dan kemudian kemasukan filsafat merupakan suatu formulasi baru
yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga munculah filsafat Eropa yang
tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani. Filsafat yang memiliki ciri khas
tentang keadaan masyarakat dan Politik, menentang mitologi athena yang merebak
bagaikan jamur busuk, ketika Filsafat datang, para dewa mati.
Para sarjana filsafat mengatakan bahwa
mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu
tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan
pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato:
"All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato". Pada
Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih
dipersoalkan sampai hari ini.Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi,
substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan
tema-tema bagi filsafat seluruhnya.

Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu
Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian
pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya
perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip
yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya
itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat
to apeiron atau yang tak terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara.
Thales juga berpendapat bahwa bumi
terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis
berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang
lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air
dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan.Dan manusia pertama tumbuh dalam
perut ikan.Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang
mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya.Udara di alam
semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.
Filosof berikutnya yang perlu
diperkenalkan adalah Pythagoras.Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama
dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke
dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan
seterusnya.Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari
reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari
tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan,
Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum
matematis.Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai
kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah
bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah
rumah. Pythagoras adalah Filosof yang cendikiawan, menguasai matematika hingga
dewasa kini disebut sebagai bapak Matematika.
Pada Zaman Pythagoras ada Herakleitos Di
kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah
lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah
menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga
berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap.Segala
sesuatu yang ada sedang menjadi.Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai
uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang
tinggal tetap.Filosof pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika
adalah Parmenides.Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada
tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak
terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa
ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak
mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos.
Kemudian lahirlah generasi berikutnya,
mereka adalah murid-murid selanjutnya, banyak yang berasal dari academia, dilansir dari lysis :
- Socrates
Menurut Socrates, pengetahuan dapat
diperoleh dengan melakukan pengamatan terhadap hal-hal yang konkret dan beragam
corak, namun masih termasuk dalam jenis yang sama. Unsur-unsur yang berbeda
kemudian dihilangkan, sehingga tinggal unsur yang sama dan bersifat umum sebagai
pengetahuan yang sejati. Dengan demikian, Socrates mengemukakan konsep:
“Barangsiapa yang memiliki pengertian sejati, akan memiliki kebajikan (arête)
atau keutamaan moral, sehingga dapat menjadi manusia yang sempurna”
- Plato (427
– 347 SM)
Plato merupakan murid setia Socrates.
Titik tolak pemikiran filsafatnya adalah menentukan mana yang paling benar,
pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman atau pengetahuan indra yang
berubah-ubah (Heracleitos) atau pengetahuan yang didapatkan dari akal yang
tetap (Parmenides). Di bidang politik, Plato memperkenalkan konsep penting,
yang menyebutkan di dalam negara ideal terdapat tiga golongan sebagai berikut:
- Pemerintah
sebagai golongan tertinggi (para penjaga, para filsuf)
- Prajurit
sebagai golongan pembantu, yang menjaga keamanan negara dan ketaatan
warganya
- Polis atau
golongan rakyat biasa yang bertugas memikul ekonomi negara (petani,
pedagang, tukang)
- Aristoteles
(348 – 322 SM)
Aristoteles merupakam filsuf yang
mengembangkan konsep logika (yang disebutnya sebagai analitika) dan etika. Di
bidang ilmu pengetahuan, Aristoteles membangi ilmu pengetahuan menjadi:
- Ilmu
pengetahuan praktis (etika dan politik)
- Ilmu
pengetahuan produktif (teknik dan kesenian)
- Ilmu
pengetahuan teoretik (fisika, matematika, dan metafisika)
Dari pemikiran-pemikiran pilsuf diatas
bisa diambil ciri-ciri filsafat barat zaman klasik antara lain :
- Ilmu
pengetahuan masih bersifat umum
- Kebanyakan
masih memikirkan asal usul kehidupan
- Masih ada
perbedaan pemikiran antara filsuf satu dengan yang lain
- Pembagian
ilmu pengetahuan masih terbatas
2.
FILSAFAT ISLAM
Filsafat Islam dimaksudkan
adalah filsafat dalam perspektif pemikiran orang Islam. Seperti juga pendidikan
Islam adalah dimaksudkan pendidikan dalam perspektif orang Islam.
Karena berdasarkan perspektif pemikiran orang, maka
kemungkinan keliru dan bertentangan satu sama lain adalah hal yang wajar.
Para ahli mengakui bahwa bangsa Arab pada abad 8-12
tampil ke depan (maju) karena dua hal: pertama, karena pengaruh
sinar al-Qur’an yang memberi semangat terhadap kegiatan keilmuan, kedua, karena
pergumulannya dengan bangsa asing (Yunani), sehingga ilmu pengetahuan atau
filsafat mereka dapat diserap, serta terjadinya akulturasi budaya antar mereka
(Ghallab: 121). Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk
senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka
perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan.
al-Qur’an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan
ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur Beberapa ayat petama yang
diwahyukan Muhammad s.a.w. menandaskan pentingnya membaca, menulis dan
belajar-mengajar. Allah menyeru: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan qalam.
Para tokohnya yakni :

·
Alkindi
Dialah
pelopor Filsafat berkembang didaerah Bahgdad, didukung antusiasme Sultan,
Bahgdad menjadi pusat Ilmu pengetahuan pada masanya. Buku-buku Filsafat Yunani
diterjemahkan, Alkindi sendiri menjadi seorang rekonsiliator Filsafat dan
Agama—yakni, menyesuaikan Filsafat agar tidak melenceng dari Agama Islam,
namun, merealisasikan afalaa ta’qiluun.
·
Alfaraby
Alfarabi
adalah the second teacher, yang
menafsirkan kitab dari Aristoteles yang menjadi the firs teacher.
·
Arrazy
Arrazi
merupakan seorang tabib Islam, menulis buku ThibbArruhanii
dia memberikan metode pemikiran filsafat, penulis produktif sekitar 200-an
buku.
·
Ikhwan
AlShafa
Merupakan
perkumpulan aliran Mu’tazilah yang menyusun organisasi pemikiran yang radikal,
mereka lahir pasca kepemimpinan Khalifah Almakmun, pemimpin setelahnya membuang
jauh-jauh madzhab Mutazilah.
·
Ibnu
Rusyd
Dikenal
juga sebagai Averrois dalam pandangan orang barat, ia sebagai the great komentator of aristotle. Ia
jugalah yang meluruskan kitab tahafut
alfalasifat, karya Alghazali, dalam kitabnya tahafut altahafut. Sejatinya Imam AlGhazali tidak melarang filsafat
secara penuh, hanya beberapa bagian saja yang ia haramkan. Ia juga sebagai
pelopor Filsafat yang menjadikan Eropa Renaisans, dari zaman kegelapan.
3.
FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN
Awal skolastik
Sutarjo Wiramihardja mengatakan bahwa
zaman ini berhubungan dengan terjadinya perpindahan penduduk, yaitu perpindahan
bangsa Hun dari Asia ke Eropa sehingga bangsa Jerman pindah melewati perbatasan
kekaisaran romawi yang secara politik sudah mengalami kemerosotan. Walaupun
demikian masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan yang mana
sebelumnya merosot karena kuatnya dominasi golongan gereja[5].
Tokoh-tokoh filsafat pada masa ini
adalah :

1.
Agustinus
(354-430 M)
Pemikirannya adalah dibalik keteraturan
dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan.
Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama . kebanaran berpangkal pada aksioma
bahwa segala sesuatu yang dicipatakan oleh Allah dari yang tidak ada (creation
ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting
adalah cinta pada Tuhan-tuhan.
2. Santo Anselmus (1033-1109)
Ungkapan yang terkenal dari Santo
Anselmus adalah credo ut intelligam(saya percaya agar saya paham )
3. Peter Abaelardus (1079-1142)
Kebebasan berfikir dieropa dipelopori
oleh peter abaelardus. ia menginginkan kebebaasn berfikir dengan membalik dictum
Augustinus-Anselmus, credo ut intelligam dan merumuskan pandangannya
sendiri menjadi intelligo ut credom (saya paham supaya saya percaya).
- Kejayaan
skolastik(1200-1300)
Pada masa ini bukan hanya filsuf
kristiani saja yang berkrmbang tetapi juga pemikiran pada masa ini dipengaruhi
oleh filsuf Islam. Masa ini juga disebut dengan masa berbunga karena muncul
universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarakan pendidikan ilmu pengetahuan.
Tokoh yang paling terkenal pada masa ini
ialah Thomas Aquinas (1225-1274)
- Masa akhir
skolastik (1300-1450 M)
Runtuhnya masa skolastik ditandai dengan
pemikiran Willism Occam (1285-1349) dengan tulisan-tulisannya menyerang
kekuasaan gereja dan teologi Kristen. William Occam merasa membela agama dengan
menceraikan ilmu dari teologi. Tuhan harus diterima atas dasar keimanan, bukan
dengan pembuktian, karena kepercayaan teologis tidak dapat mendeostrasikan[6].
Ciri-ciri filsafat abad pertengahan
adalah:
- Filsafat
sudah diajarkan pada sekolah-sekolah
- Adanya
pengaruh gereja
- Pemikiran
mereka berdasarkan keyakinan kepada doktrin gereja
4.
FILSAFAT MODERN
Bermula dari William Ockham (1295-1349), yang
mengetengahkan Via Moderna (jalan modern) dan Via Antiqua (jalan kuno).
Akibatnya manusia didewa-dewakan, manusia tidak lagi memusatkan pikirannya
kepada Tuhan dan surga. Akibatnya, terjadi perkembangan ilmu pengetahuan secara
pesat dan membuahkan sesuatu yang mengagumkan. Di sisi lain, nilai filsafat
merosot karena dianggap ketinggalan zaman.
Dalam era filsafat modern, yang kemudian
dilanjutkan dengan era filsafat ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran,
diantaranya Rasionalisme dan Empirisme selain Renaissance.
Renaisance
Renaissance ialah humanisme,
individualisme, lepas dari agama (tidak mau diatur oleh agama), empirisme dan
rasionalisme. Hasil yang diperoleh dari watak itu ialah pengetahuan rasional
berkembang. Filsafat berkembang bukan pada zaman Renaisans itu, melainkan kelak
pada zaman sesudahnya (zaman modern). Sains berkembang karena semangat dan
hasil empirisme itu. Agama (Kristen) semakin ditinggalkan, ini karena semangat
humanisme itu. Ini kelihatan dengan jelas kelak pada zaman modern. Rupanya
setiap gerakan pemikiran mempunyai kecenderungan menghasilkan yang positif,
tetapi sekaligus yang negatif.
Jadi, Zaman Modern filsafat didahului oleh
Zaman Renaisans. Sebenarnya secara esensial Zaman Renaisans itu, dalam
filsafat, tidak berbeda dari zaman Modern. Ciri-ciri filsafat Renaisans ada
pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Pada
filsafatnya kita menemukan ciri-ciri Renaisans tersebut. Ciri itu antara lain
ialah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani (renaissance), individualisme,
humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. Sekalipun demikian, para
ahli lebih senang menyebut Descartes sebagai tokoh rasionalisme. Penggelaran
yang tidak salah, tetapi bukanlah hanya Descartes yang dapat dianggap sebagai tokoh
rasionalisme. Rasionalis pertama dan serius pada zaman modern memang Descartes.
Setelah pemikiran Renaisans sampai pada
penyempurnaannya, yaitu telah tercapainya kedewasaan pemikiran, maka terdapat
keseragaman mengenai sumber pengetahuan yang secara alamiah dapat dipakai
manusia, yaitu akal (rasio) dan pengalaman (empiri). Karena orang mempunyai
kecenderungan untuk membentuk aliran berdeasarkan salah satu di antara
keduanya, maka kedua-duanya sama-sama membentuk aliran tersendiri yang saling
bertentangan.
Rasionalisme
Latar belakang munculnya rasionalisme
adalah keiginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional
(skolastik), yang pernah diterima tetapi ternyata tidak mampu menangani
hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam
pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khalan.
Rasionalisme adalah salah satu aliran
filsafat utama yang meletakkan kandasan konseptual epistimologi. Dalam
pandangan penganut rasionalisme dengan proses rasional, yaitu melalui
penalaran, pengetahuan dapat dicapai secara dan absah dan benar. Faham filsafat
rasional menyatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh
pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Jika empirisisme mengatakan bahwa pengetahuan
diperoleh dengan jalan mengalami obyek empiris, maka rasionalisme mengajarkan
bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu ialah
kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika. Dalam menyusun pengetahuan, kaum
Rasionalis menggunakan penalaran deduktif.
Rasionalisme ada dua macam: dalam bidang
agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan
autoritas, dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme.
empirisme
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan
penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan yang
lain berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan
berdasarkan pengalaman konkret ini disebut penganut empirisme.
Secara radikal, empirisme berpendirian
bahwa sebenarnya seseorang hanya bisa memperoleh pengetahuan merlalui
pengalaman dengan menggunakan indra lahiriahnya. Empirisme suatu doktrin
filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta
pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme
diambil dari bahas Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman.
Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Untuk memahami isi
doktrin ini perlu dipahami lebih dahulu dua ciri pokok empirisme, yaitu
mengenai teori tentang makna dan teori tentang pengetahuan.
Paham empirisme menganggap bahwa
pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari
pengalaman konkret. Menurut paham empirisme ini, gejala alam ini bersifat
konkret dan dapat ditangkap dengan pancaindera manusia. Dengan pertolongan
pancainderanya, manusia berhasil menghimpun sangat banyak pengetahuan. Penganut
empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif.

Sebagai tokohnya adalah Thomas Hobbes,
John Locke, dan David Hume.
5.
FILSAFAT
POST-MODERN
Postmodern
merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalanya memenuhi
janji-janjinya. Postmodern juga cendeung mengkritik segala sesuatu yang
diasosiasikan dengan modernitas, yaitu akumulasi penglaman peradaban barat.
Postmodernisme
bersifat relative. Kebenaran adalah relative, kenyataan (realita) adalah
relative, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain.
Hal tersebut jelas memepunyai implikasi
bagaimana kita memandang diri dan mengkonstruk identitas diri. Hal ini senada
dengan devisi dari Friedrich Wiliam Nietzsche (1844-1900) yang dikenal sebagai
nabi dari postmodernisme. Dia mengatakan bahwa”Ada banyak macam mata. Bahkan
sphink juga mamiliki mata, dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan
oleh sebab itu tidak ada kebenaran.
Postmodernisme pertamakali
muncul di Prancis sekitar tahun 1970-an. Pada awalnya postmodern lahir
terhadap kritik arsitektur, dan harus kita akui kata postmodern itu
sendiri muncul sebagai bagian dari modernitas ketika postmodern mulai
memasuki ranah filsafat.
Post
dalam modern tidak dimaksudkan sebagai sbuah periode atau waktu tetapi lebih
merupakan sebuah konsep yang hendak melampaui segala hal modern. Postmodern ini
merupakan sebuh kritik atas realitas modernitas yang dianggap telah gagal dalam
melnjutkan proyek p encerahan. Nafas utama dari postmodernadalah penolakan atas
narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan gangguan
terhadap akalbudi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, local,
tersebar dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakan dirinya.
Tokoh-Tokoh Postmodern dan Ajarannya

1.Friedrich Wilhelm Nietzsche sche
(1844-1900)
Lahir
di Rochen, Prusia 15 oktober 1884. Menurutnya manusia harus menggunakakan
skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercaya dari
akal. Terlalu naïf jika akal dipercaya mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran
itu sendiri tidak ada. Jika orng beranggapan dengan akal diperoleh pengetahuan
atau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber kekeliruan.
2.
Jacques Derrida
(Al-Jazair, 15 juli 1930-Paris, 9 oktober 2004)
Seorang
filsuf Prancis keturunan Yahudi sebagai pendiri ilmu dekonstruktivisme.
Menurutnya apa yang dicari manusia modern selama ini, yaitu kepastian tunggal
yang “ada di depan,” tidaklah ada dan tidak ada satupun yang bisa dijadikan
pegangan. Karena, satu-satunya yang bisa dikatakan pasti, ternyata adalah
ketidakpastian, atau permainan. Semuanaya harus ditunda atau ditangguhkan
sembari kita terus bermain bebas dengan perbedaan. Inilah yang ditawarkan
Derrida, dan postmodernitas adalah permainan dengan
ketidakpastian.
3.
Capra
Capra
melihat didunia saat ini banyak sekali terdapat kontradiksi. Kontradiksi inilah
yang disebutnya sebagai kakacauan. Ini adalah suatu tanda kehancuran
kebudayaan. Menurutnya, budaya dunia ( dalam hal ini terutama Barat) telah
terpuruk di lembah kehancuran,penuh kontradiksi, kacau. Penyebab utamanya ialah
tidak tepatnya paradigm yang digunakan dalam penyusunan kebudayaan barat itu.
Inilah kekeliruan pemikiran yang dimaksud.
Capra
melihat bahwa kekacauan itu karena tidak digunakan paradigm utuh dalam
merekayasa budaya. Dan capra menuding bahwa Cartesian dan Newtonian-lah yang
bertanggungjawab memunculkan paradigma itu. Selanjutnya penggunaan paradigma
itulah sebagai penyebab kekacauan budaya.
Capra
mengusulkan harus ada paradigma tunggal (yang mampu melihat alam sebagai
sesuatu yang wholeness) untuk digunakan dalam mendesains
kembalibudaya dunia. Dia menghendaki agar filsafat China yaitu I Ching
digunakan dalam mereformulasikan paradigma baru tersebut. Menurutnya filsafat
China tersebut mampu melihat dunia sebagai suatu system.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar