ANALISIS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DI PESANTREN
SULAIMANIYYAH

Disusun
Oleh :
Izza
Auliyai Rabby/18107030019
Prodi
Ilmu Komunikasi 2018
Fakultas
Ilmu Sosial Dan Humaniora
Dosen
Pengampu :
Marfuah
M.PD
I.
PENDAHULUAN—3
1.
APA
ITU PESANTREN?—3
2.
URGENITAS
DALAM KOMUNIKASI PESANTREN—3
II.
KAJIAN
TEORI—4
1.
SEMIOTIKA—4
III.
PEMBAHASAN
1.
KOMUNIKASI
ETIKA—GURU-MURID—6
2.
KOMUNIKASI
ETIKA—JUNIOR-SENIOR--6
3.
KOMUNIKASI
ETIKA—SANTRI SEJAWAT—7
IV.
KESIMPULAN—8
V.
DAFTAR
PUSTAKA—9
1.
PENDAHULUAN
APA ITU PESANTREN?
Pesantren merupakan suatu
instansi pendidikan nonformal yang mendalami pelajaran agama. Pesantren sendiri
menjadi tempat tinggal para santri dalam menuntut ilmu. Pesantren merupakan organisasi yang terstruktur dan
memiliki control hierarkis. Dapat
dikatakan, bahwa pesantren merupakan suatu jenjang nonformal yang turut
mewarnai khazanah warna-warni pendidikan di Indonesia.
Pondok Pesantren
Sulaimaniyyah beralamat di Caturtunggal, Yogyakarta. Sulaimaniyyah sendiri
merupakan instansi pendidikan keagamaan yang berafiliasi dengan yayasan
Sulaimaniyyah Internasional yang berpusat di Instanbul, Turki.
2.
URGENITAS
DALAM KOMUNIKASI PESANTREN
Beda tempat beda budaya, air
yang berasal dari daerah bersalju akanlah berbeda dengan air yang berasal dari
gurun, begitulah peribahasa yang bisa menggambarkan Komunikasi ponpes
Sulaimaniyyah Yogyakarta.
Pondok pesantren
Sulaimaniyyah merupakan pondok bermanhaj Ahlussunnah
Wal Jamaah, mengikuti aliran fikih empat madzhab, aliran teologis
Al’asyariyyah dan Almaturidiyyah, dan mengikuti aliran sufisme Naqsabandiyyah
Qodiriyyah.
Maka, dalam komunikasi yang
terjadi senantiasa bersifat persuasif dan sugestif, komunikasi yang terjadi
disini senantiasa diupayakan tidak menyebrang dari aliran yang telah disebutkan
dimuka. Karena berafiliasi langsung dengan yayasan Turki, maka, yang terjadi
adalah lahirnya akulturasi dan komunikasi lintas budaya, antara budayanya
turki, Nusantara dan budaya Islam itu sendiri.
Maka, urgensi komunikasi
yang tepat disini diperlukan. Bagaimana menyatukan santri-santri yang ber-background beda budayanya—ada yang
berasal dari Jawa, Sunda dsb—diperlukan komunikasi yang tepat dan meng-integrasikan.
Dalam konteks komunikasi antarpribadi dan komunikasi organisasi.
3.
KAJIAN
TEORI
3.1 SEMIOTIKA
Istilah,
yang dieja semeiotika, berasal dari bahasa Yunani σημειωτικός sēmeiōtikos, "tanda-tanda
jeli".
Ahli semiotik mengklasifikasikan tanda-tanda atau
sistem-sistem tanda dalam kaitannya dengan cara mereka ditransmisikan (lihat
modalitas). Proses membawa makna tergantung pada penggunaan kode yang mungkin
berupa suara individu atau surat-surat yang manusia gunakan untuk membentuk
kata-kata, gerakan tubuh mereka yang dilakukan untuk menunjukkan sikap atau
emosi, atau bahkan sesuatu yang umum berupa pakaian yang mereka kenakan. Untuk
koin kata yang menyebut sesuatu (lihat kata-kata leksikal), suatu komunitas/masyarakat
harus menyepakati arti sederhana (makna denotatif) dalam bahasa mereka, tetapi
kata yang dapat mengirimkan arti bahwa hanya dalam struktur gramatikal bahasa
dan kode (lihat sintaks dan semantik). Kode juga mewakili nilai-nilai budaya,
dan dapat menambah nuansa baru terhadap konotasi bagi setiap aspek kehidupan.
Untuk menjelaskan hubungan antara semiotika dan studi
komunikasi, komunikasi didefinisikan sebagai proses mentransfer data dan-atau
pemaknaan dari sumber ke penerima. Oleh karena itu, teori komunikasi membangun
model berdasarkan kode, media, dan konteks untuk menjelaskan aspek biologi,
psikologi, dan mekanik yang terlibat. Kedua disiplin ilmu ini juga mengakui
bahwa proses teknis tidak dapat dipisahkan dari fakta bahwa penerima harus
membaca makna data, yaitu, dapat membedakan data sebagai bentuk yang penting,
dan membuat makna dari itu sendiri. Ini berarti bahwa ada tumpang tindih yang
saling diperlukan antara semiotika dan komunikasi. Memang, banyak konsep
bersama, meskipun dalam setiap bidang penekanannya berbeda. Dalam Messages
and Meanings: An Introduction to Semiotics, Marcel Danesi (1994)
menyarankan bahwa prioritas ahli semiotik 'yang pertama untuk mempelajari
makna, dan komunikasi yang kedua.
Mengacu pada semiotika sebagai aspek penting dalam
komunikasi, disini saya akan mencoba menginterpretasikan bagaimana
semiotika-semiotika dihadapkan pada Budaya komunikasi Pondok Pesantren
sulaimaniyyah Yogyakarta.
Semiotika mencakup kontek pembahasan yang begitu luasnya,
semakin zaman berubah iapun akan berubah secara berkala, mengikuti arus
peradaban. Semiotika media akan berbeda tentunya dengan semiotika klasik
(nonmedia). Semiotika media lebih menekankan kepada hal-hal yang mekanis dan
terfokus pada interpretasi pesan dan terakomodir dengan simbol-simbol yang erat
kaitannya dengan tekhnologi. Sebaliknya, Semiotika klasik seakan terlihat lebih
sederhana jika ditinjau dari segi simbol yang berkaitan dengan teknologi.
Semiotika merupakan ilmu simbol dan interpretasi makna.
Setiap fenomena sangat rentan dan sebagian besar bisa disebut dengan fenomena
komunikasi. Cakupan komunikasi meluas hingga hal-hal yang detil sekalipun,
seperti nafas yang terengah, batuk, bersin dan lain sebagainya.
Semiotika yang digunakan ada yang bersifat struktural dan
secara tidak sengaja mengikuti reflek dan perilaku afektif. Di pesantren
Sulaimaniyyah para Abi dalam
mengajarkan Santri-santrinya seringkali menggunakan semiotika yang bersifat
peruasif dalam konteks dakwah dan pengajaran ilmu-ilmu agama.
4.
PEMBAHASAN
4.1 KOMUNIKASI ETIKA—GURU-MURID
Komunikasi pondok pesantren
Sulaimaniyyah memiliki sistem pengajaran yang berlangsung selama 1,45 jam, enam
hari dalam seminggu. Tentu saja, sistem pengajaran takkan terlepas dari ranah
Komunikasi. Pesan yang disampaikan seorang guru kepara santri-santrinya
merupakan proses komunikasi itu sendiri.
Setiap pagi hari, seorang
Guru atau dalam budaya Ponpes Sulaimaniyyah, guru disebut Abi dalam bahasa turki, yang berarti ‘Kakak”.
Disini, Abi dipandang sebagai komunikator dan Santri sebagai Komunikan.
Pembelajaran yang mengikuti alur kurikulum yang telah disepakati secara
internasional disampaikan secara sistematis.
Ponpes Sulaimaniyyah
Yogyakarta memiliki beberapa kelas dalam melaksanakan pembelajarannya,
tersegmentasi begitu rapih. Untuk mahasiswa semester 1-2 diajari Ulumul Qur’an dengan bimbingan langsung
dari abinya. Dapat dikatakan disini
terjadi suatu komunikasi transaksional, dimana antara Abi dan Santrinya terjadi
interaksi verbal dan adanya pertukaran informasi, sebagai contoh, Abi
menjelaskan sesuatu tentang tajwid, dan Sang Santri bertanya tentang
hukum-hukumnya, bagaimana suatu huruf hijayyah bertemu dengan huruf hijayyah
lainnya hingga jatuhlah suatu hukum tajwid.
Untuk semester lanjutan 3-4
mulai memasuki ranah ilmu balaghoh berupa
Nahwu-Sharaf. ilmu ini disampaikan secara lisan, dan kemudian ditugaskan oleh
Abi pada santri-santrinya agar menghafalnya, disini bisa kita rumuskan, bahwa
terjadi juga fenomena komunikasi tatap muka, satu arah dan dua arah sekaligus.
Teruntuk semester lanjutan,
para Santri mulai disiapkan untuk takkammul
yakni jenjang yang akan para Santri laksanakan ketika lulus nantinya, dan
diberikan beasiswa full di Turki untuk mengecap pendidikan agama yang lebih
mendalam.
Dikarenakan para Santri
berasal dari kota, dan adat yang berbeda, maka paa Abi harus memaklumi akan
adanya perbedaan budaya komunikasi. Disisi satu santri dari Jawa yang
berperawakan lembut dan sisi lainnya ada santi yang bersifat agak keras,
seperti santri yang berasal dari suku Batak.
Para Abi menjelaskan dengan
sabar bagaimana Komunikasi yang berasaskan pada akhlaw rasulullah SAW.
Mengajarkan etika-etika dalam berkomunikasi.
Para Abi memberikan
pembelajaran, disini dapat diketengahkan terjadinya komunikasi persuasif.
Kesimpulannya, para Abi
disini menjadi agen Komunikator yang bertugas beradaptasi dan mengadaptasikan
para komunikan yang tak lain dan tak bukan adalah para Santrinya.
4.2 KOMUNIKASI
ETIKA—SENIOR-JUNIOR
Keindahan komunikasi akanlah
terjadi apabila adanya perbedaan. Perbedaan afalah warna-warna yang menjadi penghias
pelbagai fenomena komunikasi.
Di pesantren Sulaimaniyyah
sendiri, selain background para
santrinya sendiri yanng berbeda, disini juga terdapat strata yang berbeda antar
satu dengan lainnya—strata umur.
Maka, dalam kajian
komunikasi, fenomena ini disebut dengan komunikasi vertikal, dimana ada
aspek-aspek tertentu yang menjadikan si Adik kelas agak lebih sopan kepada
Kakak tingkatnya, dimana disini bisa diambil ciri-ciri semiotisnya seperti menunduk, lirihnya perkataan, melembutkan
suara, menengadahkan tangan, dan sikap-sikap lainnya.
4.3 KOMUNIKASI ETIKA—TEMAN
SEJAWAT
Retorika seseorang saat
bercengkrama dengan orang-orang sangatlah dipengaruhi oleh berbagai faktor,
sebut saja salah satunya adalah faktor umur. Jika seseorang berhadapan dengan
seseorang yang sebaya dengannya tentunya ia akan lebih terbuka dan tidak
sungkan. Namun, disini perlu diperhatikan, karena kita berada di wilayah
pesantren, maka, etika harus tetap dijunjung tinggi. Pondok Pesantren Sulaimaniyyah
mengisntruksikan setiap santri-santrinya agar senantiasa berbudi pekerti dan
bermoral, baik itu dari segi ucapan, tindakan, bahkan dari gerak-gerik hati.
Ponpes Sulaimaniyyah
memiliki background tasawwuf yang kental dan melekat. Setiap santri dituntut
agar wara’ dan lebih berhati-hati.
Dapat kita bagi menjadi dua
jenis dalam berinteraksi dengan teman sejawat.
1. ketika seseorang dihadapkan dengan lawan jenis, para santri didoktrin
agar bisa menjaga pandangan, menatap disaat seperlunya saja. Karena bagi
Pesantren, salah satu hal yang menyebabkan kehancuran seseorang berawal dari
pandangan, pada kasus ini dapat kita temukan begitu banyaknya yang terjadi pada
ketertarikan lawan jenis.
2. Retorika yang digunakan—seorang santri dituntut agar tetap bersikap
sopan, sama halnya dengan tindakan-tindakan nonverbal yang dipraktikkan—seperti
menundukkan kepala, melembutkan suara, tidak menggunakan diksi kasar ataupun
kotor menjadi khazanah tersendiri yang
menjadi tuntutan dan inilah hasil manis dari indoktrinisasi yang bersifat positif
dilakukan secara berkala. Suatu indoktrinisasi yang mengakar kuat, hingga
akhirnya menyebar luas dan salah satunya masuk kedalam ranah komunikasi. Sebab,
komunikasi merupakan suatu tindakan sosial.
VI.
KESIMPULAN
Komunikasi Anatar Pribadi
adalah disiplin ilmu yang menyampaikan aspek-aspek psiko-analisis, karena subject matternya adalah antar personal.
Beda halnya dengan
komunikasi lainnya yang melibatkan banyaknya tokoh-tokoh komunikasi yang
seringkali mengecap aspek sosio-kultural.
Semiotika dan pesan-pesan
yang disampaikan melalui Ponpes Sulaimaniyyah, senantiasa terpengaruhi oleh
aspek-aspek pengalaman pribadi, dan kemudian bertransformasi menjadi pesan yang
telah melewati proses panjang kepada santri-santrinya.
Maka, yang terjadi adalah
lahirnya Cabang disiplin ilmu lainnya disamping Komunikasi Pribadi disebabkan
variabel-variabel tersebut, seperti Komunikasi lintas Budaya, dan sebagainya.
VII.
DAFTAR
PUSTAKA
Budayatna, Muhammad. Teori Komunikasi Antar Pribadi.
2006. Bandung : Kencana.
Syahputra, Iswandi. Ilmu Komunikasi ; teori, dan
praktik. 2016. Yogyakarta ; indie.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar