Senin, 09 Desember 2019

Analisis Komunikasi Antar Pribadi di Pondok Pesantren Sulaimaniyyah


ANALISIS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DI PESANTREN SULAIMANIYYAH

Disusun Oleh :
Izza Auliyai Rabby/18107030019
Prodi Ilmu Komunikasi 2018
Fakultas Ilmu Sosial Dan Humaniora

Dosen Pengampu :
Marfuah M.PD



                            
I.                   PENDAHULUAN—3
1.      APA ITU PESANTREN?—3
2.      URGENITAS DALAM KOMUNIKASI PESANTREN—3
II.                KAJIAN TEORI—4
1.      SEMIOTIKA—4
III.             PEMBAHASAN
1.      KOMUNIKASI ETIKA—GURU-MURID—6
2.      KOMUNIKASI ETIKA—JUNIOR-SENIOR--6
3.      KOMUNIKASI ETIKA—SANTRI SEJAWAT—7
IV.             KESIMPULAN—8
V.                DAFTAR PUSTAKA—9













1.      PENDAHULUAN
APA ITU PESANTREN?
Pesantren merupakan suatu instansi pendidikan nonformal yang mendalami pelajaran agama. Pesantren sendiri menjadi tempat tinggal para santri dalam menuntut ilmu. Pesantren  merupakan organisasi yang terstruktur dan memiliki control hierarkis. Dapat dikatakan, bahwa pesantren merupakan suatu jenjang nonformal yang turut mewarnai khazanah warna-warni pendidikan di Indonesia.
Pondok Pesantren Sulaimaniyyah beralamat di Caturtunggal, Yogyakarta. Sulaimaniyyah sendiri merupakan instansi pendidikan keagamaan yang berafiliasi dengan yayasan Sulaimaniyyah Internasional yang berpusat di Instanbul, Turki.
2.      URGENITAS DALAM KOMUNIKASI PESANTREN
Beda tempat beda budaya, air yang berasal dari daerah bersalju akanlah berbeda dengan air yang berasal dari gurun, begitulah peribahasa yang bisa menggambarkan Komunikasi ponpes Sulaimaniyyah Yogyakarta.
Pondok pesantren Sulaimaniyyah merupakan pondok bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, mengikuti aliran fikih empat madzhab, aliran teologis Al’asyariyyah dan Almaturidiyyah, dan mengikuti aliran sufisme Naqsabandiyyah Qodiriyyah.
Maka, dalam komunikasi yang terjadi senantiasa bersifat persuasif dan sugestif, komunikasi yang terjadi disini senantiasa diupayakan tidak menyebrang dari aliran yang telah disebutkan dimuka. Karena berafiliasi langsung dengan yayasan Turki, maka, yang terjadi adalah lahirnya akulturasi dan komunikasi lintas budaya, antara budayanya turki, Nusantara dan budaya Islam itu sendiri.
Maka, urgensi komunikasi yang tepat disini diperlukan. Bagaimana menyatukan santri-santri yang ber-background beda budayanya—ada yang berasal dari Jawa, Sunda dsb—diperlukan komunikasi yang tepat dan meng-integrasikan. Dalam konteks komunikasi antarpribadi dan komunikasi organisasi.

3.      KAJIAN TEORI
3.1  SEMIOTIKA
Istilah, yang dieja semeiotika, berasal dari bahasa Yunani σημειωτικός sēmeiōtikos, "tanda-tanda jeli".
Ahli semiotik mengklasifikasikan tanda-tanda atau sistem-sistem tanda dalam kaitannya dengan cara mereka ditransmisikan (lihat modalitas). Proses membawa makna tergantung pada penggunaan kode yang mungkin berupa suara individu atau surat-surat yang manusia gunakan untuk membentuk kata-kata, gerakan tubuh mereka yang dilakukan untuk menunjukkan sikap atau emosi, atau bahkan sesuatu yang umum berupa pakaian yang mereka kenakan. Untuk koin kata yang menyebut sesuatu (lihat kata-kata leksikal), suatu komunitas/masyarakat harus menyepakati arti sederhana (makna denotatif) dalam bahasa mereka, tetapi kata yang dapat mengirimkan arti bahwa hanya dalam struktur gramatikal bahasa dan kode (lihat sintaks dan semantik). Kode juga mewakili nilai-nilai budaya, dan dapat menambah nuansa baru terhadap konotasi bagi setiap aspek kehidupan.
Untuk menjelaskan hubungan antara semiotika dan studi komunikasi, komunikasi didefinisikan sebagai proses mentransfer data dan-atau pemaknaan dari sumber ke penerima. Oleh karena itu, teori komunikasi membangun model berdasarkan kode, media, dan konteks untuk menjelaskan aspek biologi, psikologi, dan mekanik yang terlibat. Kedua disiplin ilmu ini juga mengakui bahwa proses teknis tidak dapat dipisahkan dari fakta bahwa penerima harus membaca makna data, yaitu, dapat membedakan data sebagai bentuk yang penting, dan membuat makna dari itu sendiri. Ini berarti bahwa ada tumpang tindih yang saling diperlukan antara semiotika dan komunikasi. Memang, banyak konsep bersama, meskipun dalam setiap bidang penekanannya berbeda. Dalam Messages and Meanings: An Introduction to Semiotics, Marcel Danesi (1994) menyarankan bahwa prioritas ahli semiotik 'yang pertama untuk mempelajari makna, dan komunikasi yang kedua. 
Mengacu pada semiotika sebagai aspek penting dalam komunikasi, disini saya akan mencoba menginterpretasikan bagaimana semiotika-semiotika dihadapkan pada Budaya komunikasi Pondok Pesantren sulaimaniyyah Yogyakarta.
Semiotika mencakup kontek pembahasan yang begitu luasnya, semakin zaman berubah iapun akan berubah secara berkala, mengikuti arus peradaban. Semiotika media akan berbeda tentunya dengan semiotika klasik (nonmedia). Semiotika media lebih menekankan kepada hal-hal yang mekanis dan terfokus pada interpretasi pesan dan terakomodir dengan simbol-simbol yang erat kaitannya dengan tekhnologi. Sebaliknya, Semiotika klasik seakan terlihat lebih sederhana jika ditinjau dari segi simbol yang berkaitan dengan teknologi.
Semiotika merupakan ilmu simbol dan interpretasi makna. Setiap fenomena sangat rentan dan sebagian besar bisa disebut dengan fenomena komunikasi. Cakupan komunikasi meluas hingga hal-hal yang detil sekalipun, seperti nafas yang terengah, batuk, bersin dan lain sebagainya.
Semiotika yang digunakan ada yang bersifat struktural dan secara tidak sengaja mengikuti reflek dan perilaku afektif. Di pesantren Sulaimaniyyah para Abi dalam mengajarkan Santri-santrinya seringkali menggunakan semiotika yang bersifat peruasif dalam konteks dakwah dan pengajaran ilmu-ilmu agama.
4.      PEMBAHASAN
4.1  KOMUNIKASI ETIKA—GURU-MURID
Komunikasi pondok pesantren Sulaimaniyyah memiliki sistem pengajaran yang berlangsung selama 1,45 jam, enam hari dalam seminggu. Tentu saja, sistem pengajaran takkan terlepas dari ranah Komunikasi. Pesan yang disampaikan seorang guru kepara santri-santrinya merupakan proses komunikasi itu sendiri.
Setiap pagi hari, seorang Guru atau dalam budaya Ponpes Sulaimaniyyah, guru disebut Abi dalam bahasa turki, yang berarti ‘Kakak”.
Disini, Abi dipandang sebagai komunikator dan Santri sebagai Komunikan. Pembelajaran yang mengikuti alur kurikulum yang telah disepakati secara internasional disampaikan secara sistematis.
Ponpes Sulaimaniyyah Yogyakarta memiliki beberapa kelas dalam melaksanakan pembelajarannya, tersegmentasi begitu rapih. Untuk mahasiswa semester 1-2 diajari Ulumul Qur’an dengan bimbingan langsung dari abinya. Dapat dikatakan disini terjadi suatu komunikasi transaksional, dimana antara Abi dan Santrinya terjadi interaksi verbal dan adanya pertukaran informasi, sebagai contoh, Abi menjelaskan sesuatu tentang tajwid, dan Sang Santri bertanya tentang hukum-hukumnya, bagaimana suatu huruf hijayyah bertemu dengan huruf hijayyah lainnya hingga jatuhlah suatu hukum tajwid.
Untuk semester lanjutan 3-4 mulai memasuki ranah ilmu balaghoh berupa Nahwu-Sharaf. ilmu ini disampaikan secara lisan, dan kemudian ditugaskan oleh Abi pada santri-santrinya agar menghafalnya, disini bisa kita rumuskan, bahwa terjadi juga fenomena komunikasi tatap muka, satu arah dan dua arah sekaligus.
Teruntuk semester lanjutan, para Santri mulai disiapkan untuk takkammul yakni jenjang yang akan para Santri laksanakan ketika lulus nantinya, dan diberikan beasiswa full di Turki untuk mengecap pendidikan agama yang lebih mendalam.
Dikarenakan para Santri berasal dari kota, dan adat yang berbeda, maka paa Abi harus memaklumi akan adanya perbedaan budaya komunikasi. Disisi satu santri dari Jawa yang berperawakan lembut dan sisi lainnya ada santi yang bersifat agak keras, seperti santri yang berasal dari suku Batak.
Para Abi menjelaskan dengan sabar bagaimana Komunikasi yang berasaskan pada akhlaw rasulullah SAW. Mengajarkan etika-etika dalam berkomunikasi.
Para Abi memberikan pembelajaran, disini dapat diketengahkan terjadinya komunikasi persuasif.
Kesimpulannya, para Abi disini menjadi agen Komunikator yang bertugas beradaptasi dan mengadaptasikan para komunikan yang tak lain dan tak bukan adalah para Santrinya.
4.2  KOMUNIKASI ETIKA—SENIOR-JUNIOR
Keindahan komunikasi akanlah terjadi apabila adanya perbedaan. Perbedaan afalah warna-warna yang menjadi penghias pelbagai fenomena komunikasi.
Di pesantren Sulaimaniyyah sendiri, selain background para santrinya sendiri yanng berbeda, disini juga terdapat strata yang berbeda antar satu dengan lainnya—strata umur.
Maka, dalam kajian komunikasi, fenomena ini disebut dengan komunikasi vertikal, dimana ada aspek-aspek tertentu yang menjadikan si Adik kelas agak lebih sopan kepada Kakak tingkatnya, dimana disini bisa diambil ciri-ciri semiotisnya seperti menunduk, lirihnya perkataan, melembutkan suara, menengadahkan tangan, dan sikap-sikap lainnya.
4.3  KOMUNIKASI ETIKA—TEMAN SEJAWAT
Retorika seseorang saat bercengkrama dengan orang-orang sangatlah dipengaruhi oleh berbagai faktor, sebut saja salah satunya adalah faktor umur. Jika seseorang berhadapan dengan seseorang yang sebaya dengannya tentunya ia akan lebih terbuka dan tidak sungkan. Namun, disini perlu diperhatikan, karena kita berada di wilayah pesantren, maka, etika harus tetap dijunjung tinggi. Pondok Pesantren Sulaimaniyyah mengisntruksikan setiap santri-santrinya agar senantiasa berbudi pekerti dan bermoral, baik itu dari segi ucapan, tindakan, bahkan dari gerak-gerik hati.
Ponpes Sulaimaniyyah memiliki background tasawwuf  yang kental dan melekat. Setiap santri dituntut agar wara’ dan lebih berhati-hati.
Dapat kita bagi menjadi dua jenis dalam berinteraksi dengan teman sejawat.
1.      ketika seseorang dihadapkan dengan lawan jenis, para santri didoktrin agar bisa menjaga pandangan, menatap disaat seperlunya saja. Karena bagi Pesantren, salah satu hal yang menyebabkan kehancuran seseorang berawal dari pandangan, pada kasus ini dapat kita temukan begitu banyaknya yang terjadi pada ketertarikan lawan jenis.
2.      Retorika yang digunakan—seorang santri dituntut agar tetap bersikap sopan, sama halnya dengan tindakan-tindakan nonverbal yang dipraktikkan—seperti menundukkan kepala, melembutkan suara, tidak menggunakan diksi kasar ataupun kotor menjadi khazanah tersendiri  yang menjadi tuntutan dan inilah hasil manis dari indoktrinisasi yang bersifat positif dilakukan secara berkala. Suatu indoktrinisasi yang mengakar kuat, hingga akhirnya menyebar luas dan salah satunya masuk kedalam ranah komunikasi. Sebab, komunikasi merupakan suatu tindakan sosial.

VI.             KESIMPULAN
Komunikasi Anatar Pribadi adalah disiplin ilmu yang menyampaikan aspek-aspek psiko-analisis, karena subject matternya adalah antar personal.
Beda halnya dengan komunikasi lainnya yang melibatkan banyaknya tokoh-tokoh komunikasi yang seringkali mengecap aspek sosio-kultural.
Semiotika dan pesan-pesan yang disampaikan melalui Ponpes Sulaimaniyyah, senantiasa terpengaruhi oleh aspek-aspek pengalaman pribadi, dan kemudian bertransformasi menjadi pesan yang telah melewati proses panjang kepada santri-santrinya.
Maka, yang terjadi adalah lahirnya Cabang disiplin ilmu lainnya disamping Komunikasi Pribadi disebabkan variabel-variabel tersebut, seperti Komunikasi lintas Budaya, dan sebagainya.

VII.          DAFTAR PUSTAKA
Budayatna, Muhammad. Teori Komunikasi Antar Pribadi. 2006. Bandung : Kencana.
Syahputra, Iswandi. Ilmu Komunikasi ; teori, dan praktik. 2016. Yogyakarta ; indie.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar