
Essay :
Jurnalistik Sebelum Dan Sesudah Masa Nabi
Muhammad SAW.
Dosen Pengampu :
Bapak. Luqman Nusa
Prodi : Ilmu
komunikasi 2018
UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
Disusun oleh :
Kelompok 1 (Satu)
1. Izza Auliyai Rabby
2. Funununnisha
3. Luhfi Ameilia
4. Dika Oktaviana
5. Muhammad Aditia Nurdiansyah
Latar Belakang
Jurnalistik tidak disangka telah
dilakukan prakteknya jauh berabad-abad lalu, bahkan pada masa kenabian. Praktek Jurnalistik pada zaman dahulu berbeda
dengan prakteknya di zaman modern dewasa ini. Pada prakteknya jurnalistik zaman
dahulu lebih bersifat simple, namun memiliki kualitatif yang sangat
diperhatikan. Contohnya saja penyampaian berita pada masa Nabi Muhammad SAW
Karena sang Rasul menjadi satu-satunya penyampai wahyu maka dari itu dalam
penghimpunan Alquran dan Alhadits terjadi seleksi yang sangat ketat. dengan
memperhitungkan Kualifikasi. menghindari kesalahan, dapat membedakan mana yang
wahyu Alquran, mana yang Alhadits agar tidak tercampur. Dalam segi penghimpunan
hadits juga sangat detail dalam
menimbang segi kualitas hadits tersebut. Bahkan sang perawi Haditspun sangat
diperhatikan kejujurannya karena secara langsung mempengaruhi bobot kualitatif
keabsahan Hadits tersebut, apakah haditsnya shahih, hasan, dhaif, atau bahkan
palsu. Namun pada sisi lain para Sahabat dan Tabiin harus mewaspadai banyaknya
qaul-qaul palsu mengenai Nabi Muhammad SAW dari para Munaafiquun, Faasiquun,
dan musuh-musuh Islam lainnya.
Maka dari itu,
tujuan pembuatan essay ini adalah untuk mendeskripsikan praktek Jurnalistik di
tengah-tengah masyarakat pada zaman prakenabian Muhammad SAW dan sesudahnya,
serta mencoba mengidentifikasi sistematika praktek Jurnalistik dimasa lampau
yang jauh dari kata Modern.
Jurnalistik di Masa
Nabi-Nabi terdahulu
Jurnalistik pertama
kali terjadi prakteknya pada masa nabi Nuh As tatkala, menyampaikan risalah
Allah supaya kaumnya beriman kepada Allah serta meninggalkan penyembahan
dewa-dewa, selain itu nabi Nuh memperingatkan ancaman dari Allah bahwa akan ada
malapetaka dahsyat apabila kaum tidak mu meninggalkan kebiasaan keji
Dalam sejarah islam cikal bakal
Jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman nabi Nuh saat banjir
besar melanda kaumnya, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara keluar kapal untuk
memantau keadaan air apakah air bah sudah surut dan kemungkinan adanya makanan.
Sang burung melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke
permukaan air, ranting itu dipatuk dan dibawa pulang ke kapal nabi nuhpun
berkesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut. Kabar itupun disampaikan kepada
penumpang kapal. Atas dasar fakta tersebut nabi Nuh dianggap sebagai pencari
berita dan penyiar kabar atau wartawan pertama kali di dunia. Selain itu dalam
Alquran Allah mengabadikan tentan peran burung dalam perjuangan li’ilahi
kalimatillah. Burung Hud-Hud pada zaman Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan
tanpa sepengatehuan nabi SUlaiman AS, selaku raja, pemimpin sekaligus Rasul.
Dalam perjalanan Ia mendapati suatu kerajaan yang indah dipimpin oleh wanita
cantik bernama ratu Bilqis. Kemudian Ia melihat ratu beserta rakyatnya tidak
menyembah Allah, justru mereka menyembah matahari. Maka seekor burung Hud-Hud tersebut
menemui nabi Sulaiman AS dan menceritakan semua peristiwa yang Ia saksikan di
kerajaan Bilqis mendengar laporan burung Hud_hud nabi sulaiman segara
mengirimkan sebuah surat kepada ratu bilqis dengan diawali kalimat basmallah
yang intinya mengajak ratu bilqis beserta rakyatnya untuk masuk agamanya.
Singkat cerita ratu bilqis dan rakyatnya mengikuti ajarannya.[1]
Hubungan Islam
Dan Jurnalisme.
Perkembangan media massa modern
yang semakin pesat yang harus kita lakukan adalah meneruskan kembali pergrakan
jurnalistik Islam. Karena pada dasarnya jurnalistik Islam pernah dilakukan
Rasulullah Muhammad SAW ketika membuat surat yang dikirimkan kepada para raja
seperti Heraklius, raja Romawi. Surat dakwah ituberisi ajaran untuk menerima
Islam, selanjutnya pergerakan jurnalistik Islam juga dilaksanakan oleh para
sahabat. Jurnalistik Islam adalah suatu proses meliputi, mengolah, dan
menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam dan
kaidah-kaidah yang bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
Alquran merupakan sumber falsafah,
way of life. Alquran juga memunculkan semangat normative berupa norma-normayang
memiliki daya pengaruh terhadap kesadaran yang pada gilirannya akan mendorong
kemajuan dakwah bil alqolam
Ada 5 peranan
jurnalis muslim :
1.
Sebagai pendidikan
(muaddib)
2.
Sebagai pelurus
Informasi (musaddid)
3.
Sebagai pembaharu(
mujaddid)
4.
Sebagai pemersatu
(muahhid)
5.
Sebagai pejuang (
mujahid)
Jurnalisme pada masa
Rasulullah SAW
Pada awal permulaan
wahyu, Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah r.a. menceritakan cara permulaan
wahyu, ia berkata : „ Wahyu pertama
diterima oleh Rasulullah saw dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi
itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari.
Kemduian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk melakukan khalwah (‘uzlah).
Beliau melakukan khlwat di gua Hira’ melakukan ibadah selama beberapa malam,
kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal. Demikianlah
berulang kali hingga suatu sat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di
dalam gua Hira’. Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata ,“ Bacalah“.
Beliau menjawab,“ Aku tidak dapat membaca.“ Rasulullah saw menceritakan lebih
lanjt, Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian
aku dilepaskan. Ia berkata lagi, „Bacalah“ Aku menjawab ,“ Aku tidak dapat
membaca“ . Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tidak
berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi,“ Bacalah“ Aku
menjawab,“ Aku tidak dapat membaca.“ Untuk yang ketiga kalinya ia mendekati aku
dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia
berkata lagi,“ Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan ..
menciptakan manusia dari segumpal darah...“ dan seterusnya. Sejak saat itu Rasulullah menjadi seorang
penyiar Risalah-Nya dan menjadi satu-satunya sumber ”berita” dari Allah untuk
disampaikan kepada umatnya.[2]
Tahapan dakwah Rasulullah yang merupakan salah satu penyampaian berita dimana
merupakan salah satu aspek Jurnalisme, dilakukan melalui beberapa tahapan mulai
dari dakwah secara sembunyi hingga dakwah secara terang-terangan.
Jurnalisme pada Pasca-Kerasulan Muhammad SAW.
Dalam buku Komunikasi Massa yang terbit pada tahun
1986, Astrid Susanto memberikan pengertian jurnalistik sebagai suatu kegiatan
yang dilakukan seseorang dalam mencatat dan melaporkan serta menyebarkan
informasi kepada masyarakat umum. Informasi yang dimaksud berkenaan dengan
kegiatan sehari-hari. Hadis secara etimologi menurut Ibnu Manzhur memiliki makna Al-Jadid yang
berarti baru dan Al-Khobar yag berarti berita. Hadis juga merupakan sabda
(perkataan), perbuatan, ataupun taqrir (ketetapan) dari Rosulullah yang tentu
berisi tentang pesan-pesan mulia sebgaimana tugas Rosulullah sebagai uswatun hasanah dan rahmatal lil’alamin. Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa
hadis berkaitan dengan ke jurnalistikan yang pada hakikatnya sebagai penyalur
berita. Dalam konteks Islam teori tentang dasar jurnalisme tertuang dalam
Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6 yang memiliki arti “ Hai orang-orang beriman,
jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti, agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya,
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Berdasarkan ayat tersebut
dijelaskan bahwa kita harus selektif dalam menyampaikan dan menerima berita
agar tidak merugikan orang lain atau kelompok lain.
Pengumpulan dan penulisan hadis mulai
dilakukan setelah Rosulullah wafat karena adanya kekhawatiran tercampurnya
hadist dan Al-Qur’an. Penyampaian hadist dilakukan oleh beberapa orang
terpercaya yang nantinya sampai pada Rosulullah. Sistematika yang diterapkanpun
sangat menjunjung tinggi validitas dan kualifikasi hadist, dengan
mempertimbangkan kejujuran para perawi hadist-hadist. Contohnya tatkala seorang
perawi satu kali saja berbogong baik secara lisan maupun secara tindakan, maka
bobot hadits yang diriwayatkannya secara langsung akan terpengaruhi, seperti
pada kitab hadist Shahih Bukhori dari sekian banyaknya hadits yang dihafal Imam
Bukhori setelan melakukan peninjauan dan kualifikasi, maka hadits yang
dinyatakan Shahih berjumlah 9000 hadits saja.[3]
Kesimpulan :
Jurnalisme klasik pada prakteknya telah
dilakukan pada zaman Nabi Nuh AS, kemudian pada nabi Sulaiman AS. Selanjutnya
pada masa nabi Muhammad SAW, dan peningkatan kualifikasi Jurnalistik pesat
terjadi pasca-Kerasulan nabi Muhammad SAW, tepatnya padaa pengumpulan mushaf
Alquran, dan pembukuan Alhadits.
[1] Ali, Muhammad. Sejarah para Nabi.
2007. Jakarta : Darul kutubil Islamiyah
[2] Ramadhan, Said. Sirah Nabawiyyah.
Online references. hal 30-40.
[3] Susantro, Astrid. Komunikasi Massa.
1986. Jakarta : Binacipta Publisher
Tidak ada komentar:
Posting Komentar