Senin, 09 Desember 2019

Jurnalistik Sebelum dan Sesudah Masa Kenabian Muhammad SAW



Essay :
Jurnalistik Sebelum Dan Sesudah Masa Nabi Muhammad SAW.

Dosen Pengampu :
Bapak. Luqman Nusa

Prodi : Ilmu komunikasi 2018
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Disusun oleh :
Kelompok 1 (Satu)
1.       Izza Auliyai Rabby
2.       Funununnisha
3.       Luhfi Ameilia
4.       Dika Oktaviana
5.       Muhammad Aditia Nurdiansyah


Latar Belakang
               Jurnalistik tidak disangka telah dilakukan prakteknya jauh berabad-abad lalu, bahkan pada masa kenabian.  Praktek Jurnalistik pada zaman dahulu berbeda dengan prakteknya di zaman modern dewasa ini. Pada prakteknya jurnalistik zaman dahulu lebih bersifat simple, namun memiliki kualitatif yang sangat diperhatikan. Contohnya saja penyampaian berita pada masa Nabi Muhammad SAW Karena sang Rasul menjadi satu-satunya penyampai wahyu maka dari itu dalam penghimpunan Alquran dan Alhadits terjadi seleksi yang sangat ketat. dengan memperhitungkan Kualifikasi. menghindari kesalahan, dapat membedakan mana yang wahyu Alquran, mana yang Alhadits agar tidak tercampur. Dalam segi penghimpunan hadits juga sangat detail dalam menimbang segi kualitas hadits tersebut. Bahkan sang perawi Haditspun sangat diperhatikan kejujurannya karena secara langsung mempengaruhi bobot kualitatif keabsahan Hadits tersebut, apakah haditsnya shahih, hasan, dhaif, atau bahkan palsu. Namun pada sisi lain para Sahabat dan Tabiin harus mewaspadai banyaknya qaul-qaul palsu mengenai Nabi Muhammad SAW dari para Munaafiquun, Faasiquun, dan musuh-musuh Islam lainnya.
                Maka dari itu, tujuan pembuatan essay ini adalah untuk mendeskripsikan praktek Jurnalistik di tengah-tengah masyarakat pada zaman prakenabian Muhammad SAW dan sesudahnya, serta mencoba mengidentifikasi sistematika praktek Jurnalistik dimasa lampau yang jauh dari kata Modern.
 Jurnalistik di Masa Nabi-Nabi terdahulu
            Jurnalistik pertama kali terjadi prakteknya pada masa nabi Nuh As tatkala, menyampaikan risalah Allah supaya kaumnya beriman kepada Allah serta meninggalkan penyembahan dewa-dewa, selain itu nabi Nuh memperingatkan ancaman dari Allah bahwa akan ada malapetaka dahsyat apabila kaum tidak mu meninggalkan kebiasaan keji
           Dalam sejarah islam cikal bakal Jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman nabi Nuh saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara keluar kapal untuk memantau keadaan air apakah air bah sudah surut dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air, ranting itu dipatuk dan dibawa pulang ke kapal nabi nuhpun berkesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut. Kabar itupun disampaikan kepada penumpang kapal. Atas dasar fakta tersebut nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar atau wartawan pertama kali di dunia. Selain itu dalam Alquran Allah mengabadikan tentan peran burung dalam perjuangan li’ilahi kalimatillah. Burung Hud-Hud pada zaman Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan tanpa sepengatehuan nabi SUlaiman AS, selaku raja, pemimpin sekaligus Rasul. Dalam perjalanan Ia mendapati suatu kerajaan yang indah dipimpin oleh wanita cantik bernama ratu Bilqis. Kemudian Ia melihat ratu beserta rakyatnya tidak menyembah Allah, justru mereka menyembah matahari. Maka seekor burung Hud-Hud tersebut menemui nabi Sulaiman AS dan menceritakan semua peristiwa yang Ia saksikan di kerajaan Bilqis mendengar laporan burung Hud_hud nabi sulaiman segara mengirimkan sebuah surat kepada ratu bilqis dengan diawali kalimat basmallah yang intinya mengajak ratu bilqis beserta rakyatnya untuk masuk agamanya. Singkat cerita ratu bilqis dan rakyatnya mengikuti ajarannya.[1]

Hubungan Islam Dan Jurnalisme.

                Perkembangan media massa modern yang semakin pesat yang harus kita lakukan adalah meneruskan kembali pergrakan jurnalistik Islam. Karena pada dasarnya jurnalistik Islam pernah dilakukan Rasulullah Muhammad SAW ketika membuat surat yang dikirimkan kepada para raja seperti Heraklius, raja Romawi. Surat dakwah ituberisi ajaran untuk menerima Islam, selanjutnya pergerakan jurnalistik Islam juga dilaksanakan oleh para sahabat. Jurnalistik Islam adalah suatu proses meliputi, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam dan kaidah-kaidah yang bersumber dari sunnah Rasulullah SAW.
            Alquran merupakan sumber falsafah, way of life. Alquran juga memunculkan semangat normative berupa norma-normayang memiliki daya pengaruh terhadap kesadaran yang pada gilirannya akan mendorong kemajuan dakwah bil alqolam

Ada 5 peranan jurnalis muslim :
1.      Sebagai pendidikan (muaddib)
2.      Sebagai pelurus Informasi (musaddid)
3.      Sebagai pembaharu( mujaddid)
4.      Sebagai pemersatu (muahhid)
5.      Sebagai pejuang ( mujahid)

Jurnalisme pada masa Rasulullah SAW
         Pada awal permulaan wahyu, Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah r.a. menceritakan cara permulaan wahyu, ia berkata :  „ Wahyu pertama diterima oleh Rasulullah saw dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari. Kemduian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk melakukan khalwah (‘uzlah). Beliau melakukan khlwat di gua Hira’ melakukan ibadah selama beberapa malam, kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal. Demikianlah berulang kali hingga suatu sat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di dalam gua Hira’. Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata ,“ Bacalah“. Beliau menjawab,“ Aku tidak dapat membaca.“ Rasulullah saw menceritakan lebih lanjt, Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku  sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, „Bacalah“ Aku menjawab ,“ Aku tidak dapat membaca“ . Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tidak berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi,“ Bacalah“ Aku menjawab,“ Aku tidak dapat membaca.“ Untuk yang ketiga kalinya ia mendekati aku dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi,“ Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan .. menciptakan manusia dari segumpal darah...“ dan seterusnya.   Sejak saat itu Rasulullah menjadi seorang penyiar Risalah-Nya dan menjadi satu-satunya sumber ”berita” dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya.[2] Tahapan dakwah Rasulullah yang merupakan salah satu penyampaian berita dimana merupakan salah satu aspek Jurnalisme, dilakukan melalui beberapa tahapan mulai dari dakwah secara sembunyi hingga dakwah secara terang-terangan.
Jurnalisme pada Pasca-Kerasulan Muhammad SAW.

                             Dalam buku Komunikasi Massa yang terbit pada tahun 1986, Astrid Susanto memberikan pengertian jurnalistik sebagai suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dalam mencatat dan melaporkan serta menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Informasi yang dimaksud berkenaan dengan kegiatan sehari-hari. Hadis secara etimologi menurut  Ibnu Manzhur memiliki makna Al-Jadid yang berarti baru dan Al-Khobar yag berarti berita. Hadis juga merupakan sabda (perkataan), perbuatan, ataupun taqrir (ketetapan) dari Rosulullah yang tentu berisi tentang pesan-pesan mulia sebgaimana tugas Rosulullah sebagai uswatun hasanah dan rahmatal lil’alamin. Berdasarkan pemaparan diatas menunjukkan bahwa hadis berkaitan dengan ke jurnalistikan yang pada hakikatnya sebagai penyalur berita. Dalam konteks Islam teori tentang dasar jurnalisme tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6 yang memiliki arti “ Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Berdasarkan ayat tersebut dijelaskan bahwa kita harus selektif dalam menyampaikan dan menerima berita agar tidak merugikan orang lain atau kelompok lain.
Pengumpulan dan penulisan hadis mulai dilakukan setelah Rosulullah wafat karena adanya kekhawatiran tercampurnya hadist dan Al-Qur’an. Penyampaian hadist dilakukan oleh beberapa orang terpercaya yang nantinya sampai pada Rosulullah. Sistematika yang diterapkanpun sangat menjunjung tinggi validitas dan kualifikasi hadist, dengan mempertimbangkan kejujuran para perawi hadist-hadist. Contohnya tatkala seorang perawi satu kali saja berbogong baik secara lisan maupun secara tindakan, maka bobot hadits yang diriwayatkannya secara langsung akan terpengaruhi, seperti pada kitab hadist Shahih Bukhori dari sekian banyaknya hadits yang dihafal Imam Bukhori setelan melakukan peninjauan dan kualifikasi, maka hadits yang dinyatakan Shahih berjumlah 9000 hadits saja.[3]

Kesimpulan :
Jurnalisme klasik pada prakteknya telah dilakukan pada zaman Nabi Nuh AS, kemudian pada nabi Sulaiman AS. Selanjutnya pada masa nabi Muhammad SAW, dan peningkatan kualifikasi Jurnalistik pesat terjadi pasca-Kerasulan nabi Muhammad SAW, tepatnya padaa pengumpulan mushaf Alquran, dan pembukuan Alhadits.




[1] Ali, Muhammad. Sejarah para Nabi. 2007. Jakarta : Darul kutubil Islamiyah
[2] Ramadhan, Said. Sirah Nabawiyyah. Online references. hal 30-40.
[3] Susantro, Astrid. Komunikasi Massa. 1986. Jakarta : Binacipta Publisher

Tidak ada komentar:

Posting Komentar