Senin, 09 Desember 2019

Makalah Santri Millenial


Makalah :
Santri Millenial


Disusun oleh :
Izza Auliyai Rabby
Kelompok : 10
UIN Sunan Kalijaga, Prodi Ilmu Komunikasi
Ponpes Wahid Hasyim 2018

Berawal Dari Pertanyaan, Siapakah Generasi Millenial Itu?   
                 Dewasa ini, generasi millennials menjadi topik yang cukup hangat dikalangan masyarakat, Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.
               Generasi millennials memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi.
               Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, terdapat 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun. Sungguh tidak, jika kita melihat ke dunia sosial media, generasi millennials sangat mendominasi jika dibandingkan dengan generasi X. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenials belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka. Generasi millennials cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial di sekitar mereka seperti dunia politik ataupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya.
Dan Siapakah Santri Itu ?
       Santri merupakan istilah yang diberikan kepada para penuntut ilmu Agama Islam di Indonesia. Santri juga identic dengan orang-orang yang tinggal di pondok pesantren, ciri khasnya santri ialah berjubah sarung dengan mahkota kopyah yang tersemat di kepalanya, sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka. Sejarah mencatat, Santri selalu memberikan subangasihnya untuk Negara dan Agama, baik pada periode prakolonial, era kemerdekaan, Orde baru hingga Reformasi.
               Menurut Nurcholis Madjid seorang cendikiawan Muslim, kata santri sendiri terdiri dari 2 sumber pendapat yang dijadikan acuan. Pertama, berasal dari bahasa saskerta, yaitu “Sastri,” yang berarti orang yang melek huruf,. Yang kedua berasal dari bahasa Jawa “Cantrik,” yang berarti seorang yang menetap dan mengikuti Kyai untuk menguasai suatu keahlian tertentu. Kata santri sendiri pun menurut seorang santri ponpes Hidayatul mubtadiin, Kuningan Jabar, bernama Muhammad Shalehuddin bahwa “Santri berasal dari 2 kata bahasa Inggris, Sun berarti Matahari, dan Three berarti tiga. Maka secara etimologi maka Santri adalah orang yang harus menjaga 3 Matahari besar, yakni Iman, Islam, dan Ihsan,”.
             Santri dituntut Kritis dan harus menjadi penjelajah intelektual yang kritis, pandai menganalisis dan moderat, terlebih lagi pada era Millenial dimana arus Globalisasi tidak dapat lagi dibendung lagi. Santri dalam perkembangan zaman yang kian pesat dituntut agar selalu Inovatif dan mengikuti perkembangan zaman, karena menurut Herbert Spencer seorang sosiolog terkemuka berkata, “Manusia yang punya keterampilanlah yang tak akan tergilas zaman,”. Namun Santri Millenial tetap harus menjaga etika, dan nilai-nilai moral yang menjadi identitas seorang Santri yang telah mendarah daging semenjak zamannya santri-santri salaf terdahulu. Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi seorang santri di era MIllenial.
Berikut tantangan yang harus dihadapi seorang santri di era Millenial dewasa ini :
1.     Tantangan Globalisasi yang cepat
                   Globalisasi berjalan dengan pesat dan tak dapat dibendung lagi, Seorang santri dituntut selektif dari masuknya paham-paham yang tidak sesuai dengan Identitas bangsa ini. Contohnya saja, Radikalisme yang seakan mewabah di era Millenial dewasa ini, paham-paham semacam itu merebak dengan cepat dalam arus teknologi yang pesat, menyebar hanya dengan satu klik smartphone. Paham-paham transnasionalisme yang lain seperti Liberalisme pun tak kalah berbahayanya. Maka santri harus selektif dalam pemilihan gurunya yang akan Ia gugu dan Ia tiru. Santri harus memilih seorang guru yang sanad keilmuannya muttashil atau sanad keilmuannya menyambung sampai ke Rasulullah SAW. Yang benar-benar paham agama, dan benar-benar menguasai ilmu agama tertentu.

2.     Perkembangan Iptek
                          Albert Einstein pernah berkata, “Ilmu tanpa Agama adalah cacat,” dan hal itu benar adanya, seorang yang memiliki ilmu tanpa Agama sangat rentan menggunakan ilmunya dalan konteks jalur yang tidak benar. Seperti DPR yang seharusnya menjaga amanah rakyat, justru menjadi musuh rakyat tersendiri. Ilmu semakin beraneka ragam tapi krisis moral harus juga diberantas, atas alas an interkoneksi antara ilmu Agama dan ilmu-ilmu Umum yang tak terelakkan pentingnya, agar selain santri tak tertinggal oleh peradaban, Santri juga harus tetap menjaga nilai-nilai positif yang menjadi identitas seorang santri itu sendiri. Sedangkan teknologi adalah tumpu suatu peradaban, Santri pun tidak boleh buta dalam perkembangan tekhnologi.

3.     Asimilasi Kultural
               Lagi, Globalisasi kerapkali membawa nilai-nilai budaya yang tidak sesuai dengan kepribadian Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, dalam menghadapi denkandensi ini santri harus menjadi seorang Agent of change, dalam pemberantasan krisis moral pada zaman yang serba cepat ini. Dengan bermodalkan ilmu-ilmu salaf yang menjunjung tinggi yang langsung mencontoh ke uswatun hasanahnya Rasulullah SAW.

          Kesimpulannya adalah, Seorang Santri harus terus beradaptasi dengan arus zaman, Namun Ia juga harus tetap menjaga nilai-nilai, dan moral yang menjadi identitas khasnya seorang Santri. Sesuai visi NU, Menjaga yang baik dan mengambil yang lebih baik lagi. 23/09/2018.




Daftar Pustaka

Majid, Nurcholis. Sejarah Santri. 2018. Dumay : Nu Online
          Soekanto, Soerjono. Pengantar Sosiologi. 2018 : Journal Online
          Journal Online :
        Millenial.com
       
         




            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar