Senin, 09 Desember 2019

Sapta Sabda dan Kursi untuk Millenial


Izza Auliyai Rabby / Ilmu Komunikasi 2018/ 18107030019

Sapta Sabda dan Kursi untuk Millenial
Nadiem akan mendengarkan dan berbincang dengan para para pakar pendidikan yang sudah mumpuni di bidangnya. "Saya di sini bukan untuk jadi guru, tapi jadi murid. Saya mulai dari nol. Saya akan belajar sebanyak-banyaknya," kata dia. Karena bukan berlatar pendidikan, Nadiem berharap para dirjen dapat memahami bila dirinya berproses di Kemendikbud. "Saya mohon satu hal bagi dirjen dan tim saya, mohon sabar dengan saya walaupun bukan latar pendidikan. Tapi saya murid yang cukup baik," kata Nadiem.
Nadiem adalah kalangan Millenial yang mumpuni di bidang ekonomi, namanya mengangkasa seiring naiknya Gojek ke panggung ekonomi Indonesia, startup menjadi momok hangat perbincangan muda-mudi, dan kini, Gojek menjadi salah satu decacorn, yaps valuasi 10 Juta Dollar adalah angka yang fantastis untuk Indonesia.
Lalu? Bagaimana dengan tampuk kepemimpinan dibawah Nadiem si Millenial? Lalu, apa alasan Jokowi menyampirkan pangkat “menteri pendidikan” pada pria berkaca mata itu? Setidaknya ada 7 perkara yang bisa dijadikan argumen kenapa para Millenial pantas untuk unjuk gigi dalam panggung politik Indonesia.
Pertama, Generasi digital native pun turut memengaruhi perkembangan industri, yang tengah gencar-gencarnya didengungkan revolusi industri 4.0. Pendidikan, tidak terkecuali menjadi bidang yang mengalami perubahan.
Kedua, Disrupsi, Rhenald Khasali mengemukakan, setiap satu dekade, akan ada lapangan pekerjaan yang pasang-surut, dan Millenial adalah generasi yang selalu update, sudah menjadi pengetahuan umum, Media sosial adalah kendaraan Millenial dewasa ini, bahkan mendekati kebutuhan pokok.
Ketiga, the eksplotion of data, ledakan data, terutama pada Big Data, menyebabkan 3 aspek besar pada manajemen data yang dapat dikelola millenial, volume, variety, velocity, adalah momok baru yang harus dihadapi di Abad 21, inilah disrupsi, menghapuskan pekerjaan kemampuan rendah-repetitif, tetapi lahir lapangan pekerjaan kompleks-dinamis.
Keempat,  Banyak orang meyakini jika pendidikan tinggi tidak selalu membawa pada jenjang pekerjaan yang lebih baik. Paham ini juga dipercaya oleh generasi millennial. Meski begitu, mereka rupanya tidak main-main dalam urusan pendidikan. Kehidupan nyata dan sekolah menjadi pendidikan utama mereka. Generasi millennial pada akhirnya memilih bersekolah tinggi sekaligus melakukan perjalanan untuk bisa mendapatkan ilmu baru.
Kelima, era Job seeker bukanlah favorit Millenial, mereka adalah Job Creator. Generasi millennial menjadi salah satu generasi yang dianggap mandiri. Kenapa? Karena generasi ini senang mencari uang dengan usaha sendiri. Nggak heran kalau pada usia 28 tahun saja mereka sudah bisa menjadi CEO. Generasi millennial tidak senang bekerja dengan orang lain, sehingga mereka memutuskan untuk mendirikan bisnis sendiri atau menjadi entrepreneur. Salah satu celah yang mereka manfaatkan adalah digital karena mereka tumbuh dan berkembang dengan internet, peluang yang dicari pun tak jauh-jauh dari dunia ini.
Keenam, Pendidikan, terkesan rapuh dan berkiblat pada Revolusi Industri 3.0, sedangkan ruang dan waktu menuntut pendidikan yang dapat menyesuaikan realisme 4.0 yang dinamis nan sulit ditebak, maka HOTS adalah sistem paling “seksi” untuk diterapkan. HOTS bukan mata pelajaran, bukan juga soal ujian, tambah Abduhzen. HOTS adalah tujuan akhir yang dicapai melalui pendekatan, proses dan metode pembelajaran. Kekeliruan memahami konsep HOTS akan berdampak pada kesalahan model pembelajaran yang makin tidak efektif dan tidak produktif.
Terakhir, Millenial tidak Kolonial, Millenial tidak kompetitif, tapi kolaboratif. Generasi millenial mempunyai tujuh sifat dan perilaku sebagai berikut: millenial lebih percaya informasi interaktif daripada informasi searah, millenial lebih memilih ponsel dibanding TV, millenial wajib punya media social, millenial kurang suka membaca secara konvensional, millenial lebih tahu teknologi dibanding orangtua mereka, millenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif, serta millenial mulai banyak melakukan transaksi secara cashless.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar