Jurnalisme Lintas
Ruang Dan Waktu

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Prodi Ilmu Komunikasi 2018
Disusun Oleh
:
Izza Auliyai Rabby : 18107030019
Dosen
Pengampu :
Bpk. Luqman Nusa
Pendahuluan :
Kata jurnalisme berasal
dari kata “journal” yang artinya catatan harian, sedangkan dalam bahasa latin berarti orang yang
melakukan pekerjaan jurnalistik. Jurnalistik
merupakan kegiatan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi.
Jurnalisme pada prakteknya telah ada prakteknaya berabad-abad silam, Bahkan
pada masa Kenabian. Jurnalisme selalu berkembang mengikuti arus perkembangan
zaman. Jurnalisme pada masa ke masa memiliki ciri khas sistematika dan
metodologi yang berbeda pada setiap zamannya, dari masa Kenabian hingga masa
Modern. Setiap adanya perkembangan teknologi maka secara langsung mempengaruhi
sistematika dan pendistribusian suatu berita pada komunikan. Maka dalam makalah
yang sederhana ini Penulis mencoba memeparkan dan menganalisis setiap
perkembangan Jurnalisme masa ke masa.
Jurnalisme Pada Masa Kenabian
Terdahulu Sebelum Nabi Muhammad SAW.
Jurnalisme pada masa ini sangatlah jauh dari kata
modernitas. Maka sistematika pun otomatis berbeda. Dalam sejarah islam cikal
bakal Jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman nabi Nuh saat
banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara keluar kapal
untuk memantau keadaan air apakah air bah sudah surut dan kemungkinan adanya
makanan. Sang burung melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul
ke permukaan air, ranting itu dipatuk dan dibawa pulang ke kapal nabi nuhpun
berkesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut. Kabar itupun disampaikan kepada
penumpang kapal. Atas dasar fakta tersebut nabi Nuh dianggap sebagai pencari
berita dan penyiar kabar atau wartawan pertama kali di dunia. Selain itu dalam
Alquran Allah mengabadikan tentan peran burung dalam perjuangan li’ilahi
kalimatillah. Burung Hud-Hud pada zaman Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan
tanpa sepengatehuan nabi SUlaiman AS, selaku raja, pemimpin sekaligus Rasul.
Dalam perjalanan Ia mendapati suatu kerajaan yang indah dipimpin oleh wanita
cantik bernama ratu Bilqis. Kemudian Ia melihat ratu beserta rakyatnya tidak
menyembah Allah, justru mereka menyembah matahari. Maka seekor burung Hud-Hud
tersebut menemui nabi Sulaiman AS dan menceritakan semua peristiwa yang Ia
saksikan di kerajaan Bilqis mendengar laporan burung Hud_hud nabi sulaiman
segara mengirimkan sebuah surat kepada ratu bilqis dengan diawali kalimat
basmallah yang intinya mengajak ratu bilqis beserta rakyatnya untuk masuk
agamanya. Singkat cerita ratu bilqis dan rakyatnya mengikuti ajarannya.[1].
Jurnalisme Pada Masa Kenabian Muhammad SAW.
Islam Memberikan Kontribusi besar dalam perkembangan
Jurnalisme, Menurut kitab Sirah
Nabawiyyah Karya Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad SAW menjadi Agent of change pada masanya. Nabi
Muhammad SAW memberantas kebutaan huruf dan pada wahyu pertama QS. Al-Alaq Ayat
satu disebutkan bahwa Iqro berarti
bacalah. Selanjutnya perkembangan Jurnalistik pun berkembang pesat pasca
Kenabian Muhammmad SAW, terutama pada klarifikasi dan metodologi yang ketat
dalam pengumpulan Wahyu baik Alquran ataupun Alhadits. Pada masa ini
Jurnalistik masih disampaikan dari mulut ke mulut saja.
Perkembangan Jurnalisme Pada Masa Eropa.
Jurnalisme pada masa Eropa pertama kali ada saat Jurnalisme pertama kali
terjadi di masa kekaisaran Romawi kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar
(100-44 SM). Dikenal dengan sebutan “Acta Diurna”, yaitu papan pengumuman yang
diyakini sebagai jurnalistik pertama di dunia. Julius Caes juga dikenal dengan
“Bapak Pers Dunia”.
Pada sekitar abad 17-18 penerbitan surat kabar dan majalah untuk publik
muncul pertama kalinya di wilayah Eropa Barat, Inggris dan Amerika Serikat.
Bangsa barat baru mengenal kertas beberapa ratus tahun setelah orang Arab menggunakannya.
Pabrik kertas pertama di Eropa di bangun pada 1276 M di Italia. Dokumen kertas
tertua yaitu Mozarab Misa dari abad ke 11, kertas dibuat dengan menggunakan
kulit pohon linen. Pada sekitar abad 17-18 penerbitan surat kabar dan majalah
untuk publik muncul pertama kalinya di wilayah Eropa Barat, Inggris dan Amerika
Serikat. Setelah itu muncul lah berbagai
jenis surat kabar yang ada di dunia.
Perkembangan Jurnalisme di China
Jurnalisme
di Eropa menggunakan system Jurnalisme Otoriter, yakni semua Jurnalisme harus
mengikuti kemauan Pemerintah kala itu. . Pers harus mendukung kebijakan pemerintah dan mengabdi kepada
negara. Dalam sistem pers otoriter, kebebasan pers tidak dibutuhkan lagi,
begitu juga dengan adanya suatu organisasi pekerja media yang sifatnya
independen. Prinsip teori ini adalah bahwa negara memiliki kedudukan lebih
tinggi daripada individu dalam skala nilai kehidupan sosial.
Pembuatan surat kabar pertama
oleh King Pao. Yang mengabarkan titah kaisar.
Penemuan kertas pada tahun 105, pada masa Dinasti Han (202-220 SM). Pada
masa dinasti Shang (1600 – 1050 SM) dan dinasti
Zhou (1050 SM – 256) di China kuno, dokumen umumnya ditulis di lembaran
tulang atau bambu (bisa berupa lempengan maupun lembaran bambu yang di jahit
kemudian digulung).
Perkembangan Awal Jurnalisme
di Indonesia, Masa Penjajahan
Pada tahun 1619
diterbitkan surat kabar berjudul “Memories der neverlles” (tulis tangan). Surat
kabar pada masa itu bebahasa Belanda. Pada tahun 1901 terbit surat kabar berbahasa
Indonesia ‘Warta Berita’. Seluruh media jurnalistik memuat kritik terhadap
keberadaan Belanda di Indonesia.
Pada masa penjajahan
Jepang, surat kabar surat kabar dipaksa bergabung menjadi satu sesuai rencana
Jepang. Kabar yang boleh dimuat hanya kabar yang pro-Jepang.
Perkembangan Jurnalisme pada
masa Orde Lama
Pertamakali pers
keberadaannya sangat didukung oleh pemerintah, karena fungsinya untuk mendukung
kebijakan-kebijakan pemerintah namun akhirnya media pers mendapat banyak
pengekangan dari pemerintah itu sendiri karena penentangan dari pihak pers
Indonesia terhadap pers Belanda. Pada masa orde lama, kebebasan pers mengalami
penekanan karena berkaitan dengan keputusan yang tercantum pada UUD 1945 yang
menjamin kebebasan berpikir, menyatakan pendapat dan memperoleh penghasilan.
Perkembangan Jurnalisme pada
masa Orde Baru
Pada masa kemiliteran,
media pers digunakan untuk mengeksploitasi segala keburukan PKI. Digunakan juga
untuk mengungkan kejahatan politik masa presiden Soekarno. Sehingga kemiliteran
angkatan darat yang dipimpin Soeharto lebih mudah dalam menjatuhkan presiden
Soekarno
Pada masa awal Orde Baru,
eksistensi media pers berkembang sehingga muncul banyak media pers baru di
Indonesia. Ketika kekuasaan presiden sudah kuat muncul PWI (persatuan Wartawan
Indonesia) yang dibuat sebagai tangan kanan pemerintah. Terjadi penangkapan
jurnalis dan pembredelan pada tahu 1974. Dunia pertelevisian dilarang
menyiarkan kritik terhadap pemerintah dan diharuskan menyiarkan berita pro
terhadap presiden Soeharto, begitu juga pada radio dan surat kabar.
Perkembangan Jurnalisme Pasca Reformasi
- Tahun 1945-1950
Terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang salah satunya pers,
2.
Tahun 1950- 1960
Pers sebagai alat propaganda partai politik.
3.
Tahun 1970
Pers mengalami
depotitisasi dan komersialisasi pers 1973.
4.
Tahun 1980
1982 departemen penerangan mengeluarkan peraturan menteri penerangan
No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izin Pernerbitan Pers (SIUPP). Dengan adanya
SIUPP ini pers sangat mudah untuk di tutup dan diberhentikan kegiatannya.
- Tahun 1990
Pers menentang pemerintah dengan membuat artikel yang kritis terhadap
tokoh dan kebijakan orde baru. Tahun 1992
6.
Tahun 1998-1999
Pers mengalami pembebasan UU No. 40 Tahun 1999
tentang pers dipermudahnya pengurusan SIUPP. Berdasarkan pasal 33 UU
No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers adalah sebagai media informasi,
pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Dan pasal tersebut dapat mengambil
kesimpulan bahwa pers bebas dalam menyebarkan tayangan tersebut bermanfat bagi
masyarakat yang melihatnya dan sesuai dengan norma sosial agama dan budaya
masyarakat. Dan diharapkan tidak menimbulan perpecahan masyarakat yang dapat
menimbulkan disentergrasi bangsa.
Pasca reformasi dunia jurnalistik menjadi bebas/tidak
terkekang. Medianya semakin berkembang dari waktu ke waktu. Tahun 1998 media
surat kabar mulai muncul dan berkembang pesat. lalu tahun 2000 mulai muncul
media elektronik seperti radio dan televise swasta. Tahun 2004 hingga sekarang
(Era digitalisasi) dunia jurnalistik berkembang pesat dan semakin canggih
dengan adanya new media seperti media media online sehingga masyarakat umum
bisa menjadi jurnalis untuk berita online.
Kesimpulan :
Jurnalisme seiring berkembangnya zaman melewati banyak
rintangan dalam menyampaikan aspirasinya, seiring perubahan zaman Jurnalisme
juga mengalami perubahan karena faktor teknologi yang datang. Jurnalisme juga
diatur melalui topografi wilayah tertentu, dengan misi penggunaan Jurnalisme
sesuai dengan Ideologi suatu wilayah tersebut. Peran Jurnalisme sangatlah
mempengaruhi keadaan social suatu wilayah. Jurnalistik dapat menjadi alat
pendukung atau justru senjata makan tuan.
Daftar
Pustaka
- Hisyam, Ibnu. 2018. Sirah Nabawiyyah. Journal online pdf
- Nurudin. 2009. Jurnalisme Masa Kini, PT RajaGrafindo Persada ; Jakarta
- Jones, Janet. Salter, 2012 .Lee. Digital Journalism : Sage
Publications : Jakarta
Journal Online :
·
Wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar