Senin, 09 Desember 2019
Teori Semiotika Dalam Komunikasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam perbincangan mengenai Semiotika sebagai sebuah ilmu ada semacam ‘ruang kontradiksi’ yang secara historis dibangun diantara dua ‘kubu’ semiotika, yaitu semiotika kontinental Ferdinand De Saussure dan Semiotika Amerika Charles Sanders Pierce. Seakan-akan eksistensi kedua kubu semiotika tersebut dapat direduksi berdasarkan kerangka oposisi biner (Binary opposition): antara signifikasi vs komunikasi, statis vs dinamis, konvensional vs progressif, dogmatis vs revolusioner, reproduksi vs produksi, langue vs parole, teori vs praksis. Seakan-akan tidak ada lagi ‘ruang’ diluar ‘ruang oposisi biner’ tersebut yang di dalam tiap-tiap ruang yang ekslusif tersebut. Ferdinand De Saussure dan Semiotika Amerika Charles Sanders Pierce adalah pendiri teori dan prkatik semiotika kontemporer. Gagasan-gagasan mereka selain membentuk kerangka dasar untuk mendeskripsikan dan mengklasifikasi tanda, juga untuk menerapkan semiotik pada studi sistem pengetahuan dan budaya. Masuk dalam ranah semiotika, merupakan studi mengenai tanda (sign) dan simbol yang merupakan tradisi penting dalam pemikiran tradisi komunikasi. Tradisi semiotika mencakup teori utama mengenai bagaimana tanda mewakili suatu objek, ide, situasi, keadaan, perasaan dan sebagainya yang berada diluar diri. Studi mengenai tanda tidak saja memberikan jalan atau cara dalam mempelajari komunikasi, tetapi juga memiliki efek besar pada hampir setiap aspek atau perspektif ataupun sudut pandang yang digunakan dalam teori komunikasi. Konsep dasar yang menyatukan tradisi semiotika ini adalah tanda yang diartikan sebagai a stimulus designiting something other than itself (suatu stimulus yang mengacu yang bukan dirinya sendiri). Pesan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam komunikasi. Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmuyang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotiklazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secaraumum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. ..”Semiotics is usually defined as ageneral philosophical theory dealing with the production of signs and symbolsas part of code systems which are used to communicate information.Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (allsigns or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses)as they form code systems which systematically communicate information ormassages in literary every field of human behaviour and enterprise”.. Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual danverbal serta tactile dan olfactory atau semua tanda maupun sinyal yang bisa diakses dan diterima oleh seluruh indera yang kita miliki. Ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang Penulis tentukan yaitu : 1. Apa yang di maksud teori Semiotika ? 2. Bagaimana teori Semiotika menurut para ahli semiologi ? 3. Bagaimana pendekatan teori Semiotika menurut Ferdinand de Saussure ? C. Tujuan dan Manfaat Tujuan dan manfaat dari makalah ini sebagai berikut : 1. Sebagai perwujudan atau penerapan teori-teori yang yang selama ini diperoleh oleh para peniliti 2. Dapat memberikan pemahaman bagi orang lain mengenai cara pandang terhadap teori Semiotika 3. Dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca terkait pendekatan teori yang dilakukan oleh para tokoh 4. Mendiskursuskan gagasan dari Ferdinand DeSaussure dalam analisis Semiotikanya 5. Mengemukakan konsep Ferdinand Desaussure dan hal-hal yang melatarbelakanginya BAB II ISI A. Tokoh Teori 1. Ferdiand de Saussure Saussure yang menggunakan istilah semiologi dalam kajian semiotikanya mengusung pendekatan bahasa atau linguistik dalam studinya, tak jauh karena ia memiliki latar belakang linguistik. Saussure lahir pada tahun 1857 dan mulai menyukai bidang bahasa dan kesustraan sejak kecil, bahkan pada usia 15 tahun ia menulis tulisan yang berjudul essai sur les langue. Saussure kemudian mempelajari bidang bahasa lebih mendalam di Leipzig dan Berlin, serta mempelajari berbagai bahasa yang salah satunya adalah bahasa Sansekerta. Semiologi menurut Saussure adalah kajian mengenai tanda dalam kehidupan sosial manusia, mencakup apa saja tanda tersebut dan hukum apa yang mengatur terbentuknya tanda. Hal ini menunjukkan bahwa tanda dan makna dibalik tanda terbentuk dalam kehidupan sosial dan terpengaruhi oleh sistem (atau hukum) yang berlaku di dalamnya. Ada beberapa hal dalam sistem yang mempengaruhi pembentukan dan pelestarian tanda dalam masyarakat, dan Saussure lebih menekankan pada peranan bahasa dibanding aspek lain seperti sistem tulisan, agama, sopan-santun, adat istiadat, dan lain sebagainya. 2. Charles Sanders Peirce Charles Sanders Peirce adalah seorang filsuf Amerika, ahli logika, matematikawan, dan ilmuwan, kadang-kadang dikenal sebagai "bapak pragmatisme ". Ia dididik sebagai ahli kimia dan bekerja sebagai ilmuwan selama 30 tahun. Sekarang ia dihargai karena kontribusinya pada logika, matematika, filsafat, metodologi ilmiah, dan semiotika, dan penemuannya soal pragmatisme. Pada 1934, filsuf Paul Weiss menyebut Peirce sebagai "filsuf Amerika paling orisinal dan berwarna dan logikawan terbesar Amerika". Webster biografis Dictionary pada tahun 1943 mengatakan bahwa Peirce adalah "sekarang dianggap sebagai pemikir yang paling asli dan ahli logika terbesar pada zamannya . " Inovator dalam matematika, statistik , filsafat, metodologi penelitian, dan berbagai ilmu, Peirce menganggap dirinya, pertama dan terutama, sebuah logika. Dia membuat kontribusi besar untuk logika, tapi logika baginya mencakup banyak apa yang sekarang disebut epistemologi dan filsafat ilmu. Dia melihat logika sebagai cabang resmi semiotika, yang ia pendiri. Pada awal 1886 ia melihat bahwa operasi logis dapat dilakukan oleh sirkuit beralih listrik ; ide yang sama digunakan dekade kemudian untuk memproduksi komputer digital. 3. Roland Barthes Roland Barthes adalah filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis yang paling eksplisit mempraktikkan semiologi Ferdinand de Saussure, bahkan mengembangkan semiologi itu menjadi metode untuk menganalisa kebudayaan. Roland Barthes lahir pada tanggal 12 November 1915 dan meninggal pada 25 Maret 1980. Barthes adalah filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis yang paling eksplisit mempraktikkan semiologi Ferdinand de Saussure, bahkan mengembangkan semiologi itu menjadi metode untuk menganalisa kebudayaan. Roland Barthes menyatakan bahwa semiologi adalah tujuan untuk mengambil berbagai sistem tanda seperti substansi dan batasan, gambar-gambar, berbagai macam gesture, berbagai suara music, serta berbagai obyek, yang menyatu dalam system of significance. B. Bunyi Teori 1. C.S Peirce Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant. Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda. Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi. Contoh: Saat seorang wanita mengenakan jilbab, maka wanita itu sedang mengomunikasikan mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol kemuslimahan. 2. Roland Barthes (1915-1980) Dalam teorinya tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. a. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. b. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini,2006). Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya. Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure. Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos. Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos. Kita bisa beralih dari penelitian yang bersifat spesifik dan terbatas menuju eksplorasi dan domain disiplin yang mencakup penelitian tersebut saat melakukan peralihan kita memiliki ukuran garis batas batas dan biasanya kita begitu pusing dadapan begitu luasnya wilayah ilmu yang dipublikasikan oleh para peneliti. 3. Ferdinand DeSaussure Ada sesuatu yang disebut dengan istilah semiotika melalui peminjaman kata Inggris semiotic. Dan dalam konsep semiotika ini kita akan mengacu Ferdinand De saussure. Menurut George Mounin Saussure-lah yang menjadi tokoh karena dalam bukunya course the linguistic general, setelah membaca teks dan mendefinisikan secara garis besar ilmu umum tentang semua sistem tanda atau tentang semua sistem simbol membuat manusia bisa berkomunikasi di antara mereka. Morris mengusulkan untuk menamai doktrin itu dengan istilah semiotik dan bukannya menggunakan istilah semantik yang lebih banyak digunakan. Saussure menjelaskan bahwa kajian linguistik masih terlalu umum untuk membahas sistem tanda, karenanya perlu dibuat kajian yang lebih khusus yang ia namakan semiologi. Karena berangkat dari dasar linguistik itulah, kajian semiotika dari Saussure ini dikenal juga dalam dunia ilmu pengetahuan sebagai semiotika linguistik. Saussure sendiri menyebutkan tiga kata dalam bahasa Prancis yang berarti ‘bahasa’, yaitu parole, langage, dan langue. A. Signifiant dan Signifie Konsep pertama adalah signifiant dan signifie yang menurut Saussure merupakan komponen pembentuk tanda dan tidak bisa dipisahkan peranannya satu sama lain. Signifiant, atau disebut juga signifier, merupakan hal-hal yang tertangkap oleh pikiran kita seperti citra bunyi, gambaran visual, dan lain sebagainya. Sedangkan signifie, atau yang disebut juga sebagai signified, merupakan makna atau kesan yang ada dalam pikiran kita terhadap apa yang tertangkap Jika ditinjau dari segi linguistik yang merupakan dasar dari konsep semiologi Saussure, perumpamaannya bisa dianalogikan dengan kata dan benda “pintu”. Pintu secara signifiant merupakan komponen dari kumpulan huruf yaitu p-i-n-t-u, sedangkan secara signifie dapat dipahami sebagai sesuatu yang menghubungkan satu ruang dengan ruang lain. Kombinasi dari signifiant dan signifie ini yang kemudian membentuk tanda atas “pintu”, bukan sekedar benda mati yang digunakan oleh manusia. (Culler, 1976, 19 via Ahimsya, 2006 : 35) B. Langue dan Parole Konsep kedua adalah aspek dalam bahasa yang dibagi oleh Saussure menjadi dua yaitu langue dan parole. Langue adalah sistem bahasa dan sistem abstrak yang digunakan secara kolektif seolah disepakati bersama oleh semua pengguna bahasa, serta menjadi panduan dalam praktik berbahasa dalam suatu masyarakat. Sedangkan parole adalah praktik berbahasa dan bentuk ujaran individu dalam masyarakat pada satu waktu atau saat tertentu. Saussure menjelaskan bahwa langue bisa dikatakan sebagai fakta sosial dan menjadi acuan masyarakat dalam berbahasa, yang juga berperan sebagai sistem yang menetapkan hubungan antara signifiant dan signifie. Langue yang direalisasikan dan diterapkan oleh individu dalam masyarakat sebagai wujud ucapan bahasa ini kemudian disebut sebagai parole. Parole satu individu dengan individu lainnya bisa saja berbeda-beda karena realisasi dan penerapannya bisa beragam satu sama lain. C. Synchronic dan Diachronic Konsep yang ketiga mengenai telaah bahasa yang dibagi oleh Saussure menjadi dua, yaitu synchronic dan diachronic. Synchronic merupakan telaah bahasa yang mana mempelajari bahasa dalam satu kurun waktu tertentu, sedangkan diachronic mempelajari bahasa secara terus menerus atau sepanjang masa selama bahasa tersebut masih digunakan. Synchronic seringkali disebut sebagai studi linguistik deskriptif, karena kajian di dalamnya banyak mengkaji hal yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan bahasa apa yang digunakan pada suatu masa tertentu. Sedangkan diachronic lebih bersifat pada studi historis dan komparatif, karena bertujuan untuk mengetahui sejarah, perubahan, dan perkembangan struktural suatu bahasa pada masa yang tak terbatas. (Culler, 1976, via Ahimsa, 2006 : 46) D. Syntagmatic dan Associative / Paradigmatic Konsep semiologi Saussure yang terakhir adalah konsep mengenai hubungan antar unsur yang dibagi menjadi syntagmatic dan associative atau paradigmatic. Syntagmatic menjelaskan hubungan antar unsur dalam konsep linguistik yang bersifat teratur dan tersusun dengan beraturan. Sedangkan, associative/paradigmatic menjelaskan hubungan antar unsur dalam suatu tuturan yang tidak terdapat pada tuturan lain yang bersangkutan, yang mana terlihat nampak dalam bahasa namun tidak muncul dalam susunan kalimat Hubungan syntagmatic dan paradigmatic ini dapat terlihat pada susunan bahasa di kalimat yang kita gunakan sehari-hari, termasuk kalimat bahasa Indonesia. Jika kalimat tersebut memiliki hubungan syntagmatic, maka terlihat adanya kesatuan makna dan hubungan pada kalimat yang sama pada setiap kata di dalamnya. Sedangkan hubungan paradigmatic memperlihatkan kesatuan makna dan hubungan pada satu kalimat dengan kalimat lainnya, yang mana hubungan tersebut belum terlihat jika melihat satu kalimat saja. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Daftar Pustaka
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar