AQIDAH POKOK DAN AQIDAH CABANG
MATA KULIAH ILMU
TAUHID
ILMU KOMUNIKASI A
2018
FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN HUMANIORA

Dosen Pengampu :
Yayan Suryana.
Kelompok 5 :
1.
IZZA AULIYAI RABBY/ 18107030019
2.
GESTI NINDI SAPUTRI/18107030003
3.
SITI SARAH JULAEHA/18107030017
4.
INTAN SARI D.P
/18107030014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
AssalamualaikumWr.
Wb.
Segala puji
bagi Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan
rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna
memenuhi tugas mata kuliahTauhid.
Terima kasih kepada
:
1.
Bpk. Yayan Suryana, selaku dosen mata kuliah Tauhid
2.
Rekan-rekan Mahasiswa Ilmu Komunikasi A 2018
Kami merasa bahwa
makalah ini banyak kekurangan, untuk itu kami memohon kritik dan saran guna
kesempurnaan tugas dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Semoga makalah ini
memberikan informasi bagi teman-teman mahasiswa dan bapak ibu dosen dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan keimanan bagi kita semua.
Yogyakarta,
04/04/2018
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tak terasa sudah
sejak lama kita menjadi seorang muslim. Nikmat yang besar ini patut kita
syukuri, karena kenikmatan inilah yang akan menentukan kebahagiaan dan
kesengsaraan kita di hari akhir nanti. Dalam makalah ini kita sebagai pemakalah
tidak ingin menanyakan “sejak kapan kita masuk islam” karena jawaban dari
pertanyaan ini bukanlah suatu yang paling mendasar. Namun pertanyaan paling
penting yang harus kita renungkan adalah “sudah sejauh manakah kita telah
memahami dan mengamalkan ajaran kita ini?” pertanyaan inilah yang paling
penting yang harus direnungkan dan dijawab, karena jawaban
pertanyaan ini yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketaqwaan
kita.
B. Rumusan
Masalah
Dari uraian latar
belakang masalah diatas, makalah ini dapat kita rumuskan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa
pengertian akidah itu ?
2. Apa
itu akidah pokok dan akidah cabang dalam islam ?
C. Tujuan
Penulisan
Dari uraian latar
belakang masalah diatas, makalah ini dapat kita simpulkan tujuan penulisan
sebagai berikut :
1. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Tauhid.
2. Untuk
menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai mata kuliah Tauhid.
3. Untuk
memahami aqidah-aqidah pokok dan cabang
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akidah
Secara etimologis
akidah berasal dari kata ‘aqada- ya’qidu- ‘uqdatan- ‘aqidatan. Artinya simpul,
ikatan atau perjanjian. Jadi aqidah adalah keyakinan yang tersimpul kuat
didalam hati bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. Para ulama’
mendefiniskan aqidah sebagai“sesuatu yang terikat kepadanya hati dan hati
nurani.” Dalam Al-qur’an kata “aqidah” diartikan sebagai : “wahai orang-orang
yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” Sedangkan secara terminologi akidah
adalah suatu pokok atau dasar keyakinan yang harus dipegang teguh oleh orang yang mempercayainya. dan dalam hal ini Allah
SWT telah mejelaskan melalui firman-Nya dalam surah Al-Ikhas ayat satu dan dua.
Yang artinya “ Katakanlah Dia-Lah Allah, Yang Maha Esa. Allah Adalah Tuhan Yang
Bergantung Kepada-Nya Segala Sesuatu.” QS Al-Ikhlas ([112]: 1-2)
Dalam surah
Al-Ikhlas ayat satu dan dua di atas telah di beritakan atau di jelaskan bahwa,
kita di suru untuk meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT, dan hanya
satu-satunya Tuhan yang patut di sembah oleh seluruh umat manusia dan untuk
umat Nabi Muhammad pada khususnya. Dan Allah juga tuhan yang berdiri sendiri,
yang tidak bergantung pada satu apapun. Dia Tuhan Yang Maha Esa, yang
menciptakan langit dan bumi, tidak ada Tuhan selain Allah SWT, yang pernah kita kenal, seperti Tuhan
matahari, tuhan patung atau berhala, tuhan kayu pada pohon yang besar yang di
yakaini kekeramatnya.
Tuhan
memperkenalkan dirinya pertama kali pada Nabi Muhaammad SAW tatkala turunnya
ayat 1-5 QS. Al-Alaq. Bahwa, Tuhan itulah yang menciptakanmu, yang menciptakan
dari segumpal darah, dan juga Tuhan itu Mulia, yang mengajarkan manusia hal
yang tidak diketahuinya dengan pena.
Akidah islam adalah iman kepada
Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir juga
pada qadha’ dan qadar baik-buruk dari Allah SWT. Dan ini yang di sebut
aqida-aqida pokok dalam ajaran agama islam. Iman inin sendiri bermakna
pembenaran yang pasti, yang sesuai dengan kenyataan yang mencul dari dalil dan
bukti. Pasti artinya seratus persen kebenaranya atau kekakinannya tanpa ada
keraguan sedikitpun. Sesuai dengan fakta artinya hal yang di imani tersebut
memang benar adanya, bukan di ada-adakan (missal: keberadaan Allah, kebenaran
Al-Qur’an Dll). Muncul dari suatu dalil artinya keimanan tersebut memiliki
hujjah/dalil tertentu. Tanpa dalil sebenarnya tidak aka ada pembenaran yang
bersifat pasti.
Suatu dalil untuk masalah iman,
adakalahnya bersifat ‘aqli dan atau naqli, bergantung pada perkara yang di
imani. Jika perkara itu masih dalam jangkauan panca indra/akal maka dalil
keimanannya bersifat ‘aqli namun, jika di luar jangkauan panca indra maka ia di
dasarkan pada dalil naqli. Hanya saja perlu di ingat bahwa penentuan sumber
suatu dalil naqli juga di tetapkan dengan jalan ‘aqli. Artinya, penentuan
sumber dalil naqli tersebut di lakukan melalui penyelidikan untuk menentukan
mana yang boleh dan mana yang tidak boleh di jadikan sebagai sumber dalil
naqli. Oleh karna itu, semua dalil tentang akidah pada dasarnya di sandarkan
pada metode ‘aqliyah.
Dan dalam hal ini
Menurut Hasan Al-Banna, aqa’id (jama’
akidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati,
mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur
sedikitpun dengan keragu-raguan. Dan Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, akidah
adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia baik
secara akal, dan fitroh. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia didalam hati
serta diyakini keshahihannya dan keberadaannya secara pasti.
Aqidah senantiasa
bersangkut paut dengan yang namanya Iman, iman sendiri merupakan keteguhan
dalam hati, membenarkan dengan lisan dan direalisasikan dengan perbuatan.
Ketika seseorang mengaku beriman, sudah semestinya ia akan segera melakukan
shalat, karena shalat disini merupakan bagian dari Iman dalam ranah realisasi,
dan pada akhirnya, Iman dan Islam takkan pernah bisa dipisahkan bagai dua tali
yang saling berhubungan.
Menurut imam safi’I berkata:
Ketahuailah bahwa
kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk
makrifat kepada Allah SWT. Artinya berfikir adalah melakukan penalaran dan
perenungan qalbu dalam kondisi orang berfkir tersebut di tuntut untuk makrifat
kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bias sampai pada makrifat terhadap
hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini merupakan satu
keharusan. Hal ini merupakn suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.[1]
B. Aqidah Pokok
Akidah pada masa
Nabi masih dapat dipertahankan, yaitu ada akida pokok dan akidah cabang, dan
dalam pembahasan akidah pokok yaitu Rukun Iman antara lain:
a.
Iman kepada Allah
Ketika kita mengaku
sebagai umat islam dan telah mengucapkan dua kalimat syahadat ataupun kita
sbagai umat islam islam keturunan. Wajib kita percaya akan Allah Tuhan kita.
Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang
pasti adanya. Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa
penghabisan. Tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Yang Esa tentang ketuhana-Nya,
sifat-sifat-Nya dan perbuata-Nya. Yang hidup dan pasti ada dan mengadakan
segala yang ada. Yang Mendengar Dan Melihat. Dan Dialah yang berkuasa atas
segala sesuatu. Perihalnya apabila Ia menghendaki sesuatu yang Ia Sabdakan: “
jadilah”! maka jadilah sesuatu itu. Dan Dia mengetahuai segala yang mereka
kerjakan. Yang bersabda dan memiliki segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari
sifat mustahil dan segala kekurangan. Dialah yang menjadikan segala sesuatu
menurut kemauan dan kehendak-Nya. Segala sesuatu ada di tangan-Nya dan pada-Nya
akan kembali. Namun perlu di perhatikan bahwa Allah tidak menyuruh kita
membicarakan hal-hal yang tidak tercapai oleh akal dalam hal kepercayaan.
Yang dimaksud
dengan iman kepada Allah adalah kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah
adalah satu-satunya Tuhan yang tidak ada sekutu baginya. Meyakini bahwa Allah
adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta. Meyakini bahwa Allah
adalah satu-satunya tempat untuk menyembah, dan meyakini dengan sepenuh hati
bahwa Allah memiliki nama-nama yang mewakili sifat-sifat Allah.
b. Iman kepada Malaikat Allah
beriman kepada
malaikat adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan
malaikat sebagai makhluknya yang memiliki tugas-tugas tertentu dari Allah. Dan
mereka adalah makhluk yang tidak pernah menentang Allah dan senantiasa taat dan
patuh kepada Allah.
Iman kepada
Malaikat adalah yakin dan membenarkan bahwa Malaikat itu ada, diciptakan oleh
Allah SWT dari cahaya / nur. Malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh,
tunduk dan taat pada perintah serta ketentuan Allah SWT. Malaikat berasal dari
kata malak bahasa arab yang artinya kekuatan. Dalam ajaran agama islam terdapat
10 malaikat yang wajib kita ketahui dari banyak malaikat yang ada di dunia dan
akherat yang tidak kita ketahui yaitu antara lain :
1. Malaikat
Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada nabi dan rasul.
2. Malaikat
Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.
3. Malaikat
Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari
kiamat.
4. Malaikat
Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.
5. Malikat
Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal
perbuatan manusia di alam kubur.
6. Malaikat
Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan
manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.
7. Malaikat
Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik
manusia ketika hidup.
8. Malaikat
Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk /
jahat manusia ketika hidup.
9. Malaikat
Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.
10. Malaikat
Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu sorga / surga.
Fungsi
iman kepada Malaikat Allah :
1. Selalu
melakukan perbuatan baik dan merasa najis serta anti melakukan perbuatan
buruk karena dirinya selalu diawasi oleh malaikat.
2. Berupaya
masuk ke dalam surga yang dijaga oleh malaikat Ridwan dengan bertakwa dan
beriman kepada Allah SWT serta berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qodar.
3. Meningkatkan
keikhlasan, keimanan dan kedisiplinan kita untuk mengikuti / meniru sifat dan
perbuatan malaikat.
4. Selalu
berfikir dan berhati-hati dalam melaksanakan setiap perbuatan karena setiap
perbuatan baik yang baik maupun yang buruk akan dipertanggungjawabkan di
akhirat kelak.
Hukum Beriman
kepada Malaikat
Beriman atau
meyakini kepada Malaikat, hukumnya fardu 'ain. Ini merupakan salah satu iman
nomor 2. Hal ini didasarkan dari beberapa sumber Al Qur'an dan Hadits, salah
satunya adalah Q.S. Al Baqarah (2) : 285 yang artinya :
“Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya (Al Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, dan
rasul-rasulNya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun
dari rasul-rasulNya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat.
Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.
c. Iman kepada kitab-kitab Allah
Kita wajib percaya
bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada Rasul-rasulnya untuk
memperbaiki manusia tentang urusan dunia dan agama mereka. Seperti yang telah
di paparkan dalam firman Allah SWT. “ kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan
padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QSal-Baqarah: 2)” Diantara
kitab-kitab itu, ialah Zabur kepada Nabi Daud, Taurat kepada Nabi Musa, Injil
kepada Nabi Isa dan Al-Qur’an pada Nabi Muhammad yang menjadi penutup sekalian
Nabi alaihimus shalatu was salam. Dan bahwa A-Qur’an adalah firman Allah dan kitab terakhir yang diturunkan, yang
memuat apa yang tidak termuat pada lainnya, mengenai syariat, budi luhur dan
kesempurnaan hukum. Kita wajib percaya akan hal yang dibawa oleh Nabi s.a.w
yang mutawir dan memenuhi syarat-syaratnya. Dan yang wajib kitapercayai
hanyalah yang tegas-tegas saja, dengan tak boleh menambah-nambah keterangan
yang sudah tegas-tegas itu. Dengan keterangan berdasarkan pertimbangan,
(perkiraan), kerana firman Allah : “Sesungguhnya persangkaan itu tidak
sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran” (QS.Yunus:36). Adapun syarat yang
benar tentang kepercayaan, dalamhal ini ialah jangan ada sesuatu yang
mengurangi Keagungan dan Keluruhan Tuhan, dengan mempersamakannya dengan
makhluk. Sehingga andaikata terdapat kalimat-kalimat yang kesan pertama,
mengarah kepada arti yang demikian, meskipun berdasarkan berita yang mutawir
(meyakinkan), maka wajiblahn orang mengabaikan makna yang tersurat dan
menyerahkan tafsir arti yang sebenarnya kepada Allah dengan kepercayaan bahwa
yang yang terkesan pertama pada pikiran bukanlahyang dimaksudkan, atau dengan
takwil yang berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima. Dan sebagai orang
muslim patutlah kita bersyukur karna dari kitab-kitab Allah yang lain hanya
Al-Qur’an yang di jaga atau di pelihara sendiri oleh Allah SWT. seperti yang
telah di jelaskan dalam Al-Qur’an itu sendiri yang artinya “ sesungguhnya
kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.
(QS al-Hijr: 9)”
d.
Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Kita wajib percaya
bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutus para Rasul untuk memberi
petunjuk umat manusia akan jalan yang lurus. Mereka adalah pembawa berita yang
gembira dan peringatan, agar bagi manusia tiada. Alasan atau membantah pada
Allah setelah diutusnya para Rasul. Para Rasul itu adalah manusia seperti kita:
makan, minum dan pergi ke pasar, yang telah dipilih oleh Allah, menjadi
utusannya dan mengistemewakan mereka dengan diberi wahyu. Mereka adalah orang
–orang yang jujur, terpercaya menyampaikan tugas mereka dan cerdas, dapat
memahami dan memahamkan. Mereka adalah manusia yang mengalami yang biasa
dialami oleh orang lain selahi tak mengurangi kehormatan meraka dalam martabat mereka
yang luhur. Diantara para Rasul yang tersebut nama mereka dalam Quran adalah:
Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Luth,
Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus,
Zakariyah, Yahya, Isa dan Muhammad ‘alaihimus-shalatu wassalam. Seperti yang
telah di jelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,“Muhammad itu tidak lain
hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul
(QS Ali Imran: 144)” Dan ada Rasul-rasul yang tidak dan ada rasul-rasul yang
tidak di beritakan oleh Allah kepada kita. Tiada umat yang terdahulu melainkan
perna kedatangan nabi. Seorang muslim beriman dan percaya bahwa Allah SWT telah
memilih diantara umat manusia. Allah SWT telah mengutus para nabi serta rasul
untuk membawa kabar gembira kepada umat manusia tentang kenikmatan abadi yang
telah di sediakan bagi mereka yang beriman dan yang telah memperingatkan kepada
mereka yang telah berbuat musyrik (kekufuran). Merekapun member teladan dan
tingkah laku yang baik dan mulia pada manusia, antar lain dalam bentuk ibadah
yang benar, akhlak yang terpuji serta istiqomah (berpegang teguh) pada ajaran
Allah SWT.
Dan Allah telah
mengokohkan mereka cengan beberapa pembuktian dan segala macam mu’jijat yang
nya adalah Namun perlu di ketahuai dan
perlu menjadi perhatian adalah suatu kebenaran, bahwa kekuasaan Allah dapat
menghadirkan hal-hal yang menyimpang dari hokum kebiasaan yang pernah berlaku
bagi para nabi untuk menguatkan penugasaan dan penundukkan lawan-lawan mereka
dan tanda kebenaran mereka terhadap mereka yang mengingkari misalnya apa yang
di sebut dalam Al-Qur’an : yang tak membakar nabi Ibrahim,tongkat nabi musa
yang berubah menjadi ular. Nabi isa menghidupkan kembali orang yang sudah mati.
Dan di turunkan Al-Qur’an kepada nabi Muhammad SAW dan lain sebagainyayang
tersebut dal;am beberapa ayat dan semua itu wajib di imankan.
e..
Iman Kepada Hari Kiamat
“Jika bumi di
goncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah
mengeluarkanbeban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya,
‘mengapa bumi jadi begini.? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena
sesunggunya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (QS
al-Zalzalah: 1-5)”
Sebagai seorang
muslim yang taqwa sudah wajiblah Kita untuk yakin dan percaya akan datangnya
hari kiamat, yaitu hari dimana akhir dari dunia ini, karna ini adalah salah
satu point penting untuk mengokohkan keimanan kita kepada Allah SWT. Seperti
dalam hadist Rasulullah SAW, bersabda dalam shahih muslim, “ketika jibril
menanyakan kepada rasulullah tentang iman, Rasulullah menjawab, “hendaknya
engkau mengimani Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya,
juga Hari kiamat. Hendaklah engkau
mengimani Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)” (HR Muslim)” Hal tentang
adanya hari akhir atau hari kiamat dan segala yang terjadi tentang kerusakan
alam ini, telah di beritakan oleh
rasulullah SAW dengan riwayat mutawatir tentang kebangkitan dari dalam kubur,
pengumpulan di padang mahsyar, pemeriksaan dan hari pembalasanm. Maka Allah
member keputusan tentang perbuatan orang lalu ada yang masuk neraka
selama-lamanya dan tidak keluar daripadanya, yaitu orang-orang kafirdan
orang-orang musyrik dan ada yang masuk kemudian keluar dari neraka, yaitu
orang-orang mukmin yang berbuat dosa. Dan ada yang masuk surge dan kekal, yaitu orang-orang mukmin yang
benar-benar. Adapun waktu dan tanda-tanda hanya Allah SWT yang tahu kapan akan
terjadinya hari akhir tersebut. Seperti Allah SWT telah berfirman dalam
Al-Qur’an. Yang artinya: “mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat,
“kapankah terjadinya?” katakanlah, “ sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat
itu ada pada sisi Tuhanku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu
kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk)
yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepada kalian
melainkan dengan tiba-tiba” mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu
benar-benar mengetahinya. Katalkanlah, “sesungguhnya pengetahuan tentang hari
kiamat itu ada di sisi Allah namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS
al-A’raf: 187)”
f..
Iman kepada Qada dan Qadar
“ketika jibril menanyakan
kepada rasulullah tentang iman, Rasulullah menjawab, “hendaknya engkau
mengimani Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, juga Hari
kiamat. Hendaklah engkau mengimani Qadar
yang baik dan buruk (dari Allah)” (HR Muslim)”
Sebagia orang islam
sudah sewajibnya kita percaya bahwa Allahlah yang telah menciptakan segala
sesuatu dan Dialah yang telah menyuruh dan melarang, Dan perintah Allah adalah
kepastian yang telah ditentukan. Dan bahwanya Allah telah menentukan segala
sesuatu sebelum Dia menciptakan segala kejadian dan mengatur segala yang ada
dengan pengetahuan, ketentuan, kebijaksanaan dan kehendaknya. Adapun segala
yang dilakukan manusia itu semuanya atas Qadla’ dan Qadarnya. Sedang manusia
sendiri hanya dapat berikthiar. Seperti firman Allah yang telah dipaparkan
dalam Al-Qur’an yang artinya: “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib
suatu kaum sehingga kaum itu sendiri merubah apa yang ada pada diri mereka. (QS
ar-Ra’du: 11)” Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan
usaha adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya
dinamakan hasil uasaha sendiri. Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah,
perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah. Manusia hanya dapat mengolah bagian
yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain.
B. Aqidah Cabang
Ketika Nabi SAW
wafat pada 632 M, daerah kekuasaan Madinah tak sebatas pada kota itu saja,
tetapi meliputi seluruh Semenanjung Arabia. Negara Islam pada waktu itu,
sebagaimana digambarkan oleh William Montgomery Watt dalam bukunya yang
bertajuk Muhammad Prophet and Statesman, sudah merupakan komunitas berkumpulnya
suku-suku bangsa Arab. Mereka menjalin persekutuan dengan Muhammad SAW dan
masyarakat Madinah dalam berbagai bentuk.
Sepeninggal Nabi
SAW inilah timbul persoalan di Madinah, yaitu siapa pengganti beliau untuk
mengepalai negara yang baru lahir itu. Dari sinilah, mulai bermunculan berbagai
pandangan umat Islam. Sejarah meriwayatkan bahwa Abu Bakar as-Siddiq-lah yang
disetujui oleh umat Islam ketika itu untuk menjadi pengganti Nabi SAW dalam
mengepalai Madinah. Selanjutnya, Abu Bakar digantikan oleh Umar bin Khattab.
Kemudian, Umar digantikan oleh Usman bin Affan.
Munculnya
perselisihan
Awal kemunculan
aliran dalam Islam terjadi pada saat khilafah Islamiyah mengalami suksesi
kepemimpinan dari Usman bin Affan ke Ali bin Abi Thalib. Masa pemerintahan Ali
merupakan era kekacauan dan awal perpecahan di kalangan umat Islam. Namun,
bibit-bibit perpecahan itu mulai muncul pada akhir kekuasaan Usman.
Di masa
pemerintahan khalifah keempat ini, perang secara fisik beberapa kali terjadi
antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan para penentangnya.
Peristiwa-peristiwa ini telah menyebabkan terkoyaknya persatuan dan kesatuan
umat. Sejarah mencatat, paling tidak, dua perang besar pada masa ini, yaitu
Perang Jamal (Perang Unta) yang terjadi antara Ali dan Aisyah yang dibantu
Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah serta Perang Siffin yang berlangsung
antara pasukan Ali melawan tentara Muawiyah bin Abu Sufyan.
Faktor penyulut
Perang Jamal ini disebabkan oleh yang Ali tidak mau menghukum para pembunuh
Usman. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang dan menyelesaikan perkara
itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh Aisyah, Zubair, dan
Talhah. Zubair dan Talhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan
Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersamaan dengan
itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Ali semasa memerintah juga
mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah bin Abu
Sufyan, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi--di masa pemerintahan
Khalifah Usman yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.
Perselisihan yang
terjadi antara Ali dan para penentangnya pun menimbulkan aliran-aliran
keagamaan dalam Islam, seperti Syiah, Khawarij, Murjiah, Muktazilah,
Asy'ariyah, Maturidiyah, Ahlussunah wal Jamaah, Jabbariyah, dan
Kadariah.Aliran-aliran ini pada awalnya muncul sebagai akibat percaturan
politik yang terjadi, yaitu mengenai perbedaan pandangan dalam masalah
kepemimpinan dan kekuasaan (aspek sosial dan politik). Namun, dalam
perkembangan selanjutnya, perselisihan yang muncul mengubah sifat-sifat yang
berorientasi pada politik menjadi persoalan keimanan.
''Kelompok khawarij
yang akhirnya menjadi penentang Ali mengganggap bahwa Ali tidak melaksanakan
keputusan hukum bagi pihak yang memeranginya sebagaimana ajaran Alquran. Karena
itu, mereka menunduh Ali kafir dan darahnya halal,'' kata guru besar filsafat
Islam, Prof Dr Mulyadi Kartanegara, kepada Republika.
Sementara itu,
kelompok yang mendukung Ali dan keturunannya (Syiah) melakukan pembelaan atas
tuduhan itu. Dari sinilah, bermunculan berbagai macam aliran keagamaan dalam
bidang teologi. Selain persoalan politik dan akidah (keimanan), muncul pula
pandangan yang berbeda mengenai Alquran (makhluk atau kalamullah), qadha dan
qadar, serta sebagainya.
Sunni dan Syiah Dua
Aliran Teologi yang Masih Bertahan
Dari sekian banyak
aliran kalam (teologi) yang berkembang di masa kejayaan peradaban Islam,
seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, Murjiah, Kadariyah, Jabbariyah,
Asy'ariyah, Maturudiyah, dan sebagainya, hingga saat ini hanya dua aliran yang
masih memiliki banyak pengikut. Kedua aliran itu adalah Ahlussunnah wal Jamaah
(biasa disebut dengan kelompok Sunni) dan Syiah.
Penganut kedua
paham ini tersebar di berbagai negara di dunia yang terdapat komunitas Muslim.
Tak jarang, dalam satu negara Muslim, terdapat dua penganut aliran ini. Secara
statistik, jumlah Muslim yang menganut paham Sunni jauh lebih banyak
dibandingkan yang menganut paham Syiah. Wikipedia menyebutkan, sekitar 90
persen umat Muslim di dunia merupakan kaum Sunni dan sekitar 10 persen menganut
aliran Syiah.
Perubahan dan
pendapat-pendapat teologis yang akhirnya berkembang menjadi madzhab-mahdzhab
teologis umumnya berkaitan dengan :
a.
Masalah Tuhan
Dalam masalah zat
tuhan muncul pendapat yang menggambarkan tuhan dengan sifat-sifat bentuk
jasmani atau fisik. Sedangkan dalam masalah sifat Tuhan juga muncul persoalan,
apakah Tuhan itu mempunyai sifat atau tidak. Dalam hal ini muncul 2 golongan
yang berpendapat berbeda :
• Pertama : golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan
tidak mempunyai sifat. Dia adalah Esa, bersih dari hal-hal yang menjadikannya
tidak Esa. Mereka meng-EsakanTuhan dengan mengkosongkan Tuhan dari berbagai
sifat-sifat.
• Kedua : Golongan Ahlussunnah Wal
Jama’ah yang diwakili oleh golongan Ay’ariyah dan Maturidiyah meyakini bahwa
Tuhan mempunyai sifat yang sempurna dan tidak ada yang menyamai-Nya. Mensifati
Tuhan dengan sifat-sifat kesempurnaan tidak akan mengurangi ke-Esaan-Nya.
b.
Masalah Kitab-Kitab
Permasalahan yang
diikhtilafkan dikalangan orang islam ialah apakah Al-Qur’an itu Qadim (kekal)
atau Hadis (baru). Golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa
Al-Qur’an adalah Qadim bukan makhluk (diciptakan). Sedangkan pendapat yang lain
mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak Qadim karena Al-Qur’an itu makhluk
(diciptakan).
c.
Masalah Nabi dan Rasul
Masalah yang masih
diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman kepada para Nabi dan Rasul adalah
mengenai jumlahnya. Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Sebagian ulama’
mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000 orang. Dari jumlah itu yang
diangkat menjadi Rasul sebanyak 313 orang.
d.
Masalah Hari Kiamat
Para ulama’ telah
sepakat dalam masalah adanya hari kiamat dan hal-hal yang terjadi didalamnya,
hanya saja mereka ikhtilaf tentang apa yang akan yang dibangkitkan. Ada yang
berpendapat bahwa yang akan dibangkitkan meliputi jasmani dan rohani, dan
pendapat kedua mengatakan bahwa yang dibangkitkan adalah rohnya saja.
e.
Masalah Takdir
Dalam masalah
taqdir, orang islam sepakat perlunya meyakini adanya ketentuan Allah yang
berlaku bagi semua makhluk yang ada dialam semesta ini. Namun berbeda dalam
memahami dan memperaktekkannya.
• Pertama : Qodariyah berpendapat bahwa
segala perbuatan manusia baik maupun buruk semuanya ditentukan oleh manusia itu
sendiri. Allah tidak mempunyai sangkut
pautnya dalam hal ini karena Allah telah menyerahkan kodratnya kepada manusia.
Allah akan memberi pahala kepada orang yang
telah berbuat baik, karena dia telah menggunakan kodrat yang diberikan
Allah dijalan yang baik. Dan bagi orang yang berbuat jahat maka Allah akan menyiksanya karena
kodrat yang diberikan digunakn untuk jalan keburukan.
• Kedua : kaum Jabariyyah mempunyai
I’tiqod yang bertolak belakang dengan I’tiqod kaum Qodariyah. Jabariyyah
berpendapat bahwa manusia tidak punya daya apa-apa karena segalanya telah
ditentukan oleh Allah. Manusia tidak punya usaha, tidak punya ikhtiar sebab
seluruhnya yang menentukan adalah Allah. Pendapat Jabariyyah ini dianggap
menyimpang oleh golongan Ahlussunnah Waljama’ah. Memang semuanya ini ditentukan
oleh Allah tetapi Allah juga telah menciptakan usaha dan ikhtiar manusia. Oleh
karena itu manusia mempunyai keharusan untuk berusaha.
• Ketiga : sebenarnya I’tiqod
Ahlussunnah Waljama’ah merupakan perpaduan dari I’tiqod Jabriyyah dan
Qodariyah, artinya segala sesuatu dialam ini memang telah ditentukan oleh Allah, namun manusia
diberi kewenangan untuk melakukan ikhtiar terlebih dahulu. Seperti firman Allah
yang telah dipaparkan dalam Al-Qur’an yang artinya:“sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri merubah apa yang ada
pada diri mereka. (QS ar-Ra’du: 11)”.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan
makalah diatas maka dapat kita simpulkan sebagai berikut :
1. Akidah adalah suatu pokok atau dasar
keyakinan yang harus dipegang teguh oleh
orang yang mempercayainya. Menurut Hasan
al-Banna aqa’id (jama’ akidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini
kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang
tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.
2. Akidah pokok adalah aqidah umata islam
yang masih terpelihara dan masih murni sebagai mana yang diajarkan oleh
Rasulullah SAW yang tercakup didalam Arkanul Iman.
3. Perpecahan umat islam mulai terjadi
setelah berakhirnya kepemimpinan kholifah Umar bin Khattab. Kemudian muncul
permasalahan yang menimbulkan terjadinya pembunuhan khalifah Ustman bin affan
(th 345-656 M) oleh pemberontak yang sebagian besar dari Mesir yang tidak puas
dengan kebijakan politiknya. Awalnya peristiwa ini hanya sebuah permasalan
politik yang akhirnya berkembang menjadi persoalan teologi sehingga melahirkan
berbagai aliran dengan teologi dan
pandangan yang berbeda-beda. Pada masa ini umat islam tidak mampu lagi
mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidahnya, karena masing-masing berusaha membuka
persoalan akidah yang sebelumnya terkunci. Maka lahirlah cabang-cabang akidah
yang pemahamannya bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman.
________________________________________
1. Ilmu
Ushuluddin“Ushul” : pokok, fondamen, prinsip, aqidah, peraturan.“Aiddiin” :
agama Ushuluddin adalah pokok-pokok atau dasar-dasar agama. Ilmu tauhid dapat
pula dikatakan ilmu ushuluddin karena menguraikan pokok-pokok kepercayaan dalam
agama islam.
2 .Mukallaf ialah
orang yang berakal sehat dan telah baligh / telah berumur lima belas tahun atau
telah mengeluarkan darah putih(air mani) meskipun dengan cara bermimpi bagi
pria.Dan bagi wanita apabila telah berumur sembilan tahun, telah mengeluarkan
darah haid atau telah mengeluarkan air mani, baik dengan cara persetubuhan
suami istri atau dengan cara bermimpi. Orang itulah yang terkena perintah -
perintah Alloh dan menjauhi larangan - larangan-Nya.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Ghazali,
Muhammad. 1986. Akidah Muslim. Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya.
Muhidin. 2006. Risalah
Tauhid Dalam Ilmu Kalam. Kuala Kapuas.
Yazdi,
Mishbah. 2005. Iman Semesta. Jakarta: Al-Huda.
www.Google.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar