Senin, 09 Desember 2019

AQIDAH POKOK DAN AQIDAH CABANG





AQIDAH POKOK DAN AQIDAH CABANG

MATA KULIAH ILMU TAUHID
ILMU KOMUNIKASI A 2018
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA


Dosen Pengampu :
Yayan Suryana.
Kelompok 5 :
1.      IZZA AULIYAI RABBY/ 18107030019
2.      GESTI NINDI SAPUTRI/18107030003
3.      SITI SARAH JULAEHA/18107030017
4.      INTAN SARI D.P           /18107030014

DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR


AssalamualaikumWr. Wb.
Segala puji  bagi  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya kami mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliahTauhid.
Terima kasih kepada :
1.          Bpk. Yayan Suryana, selaku dosen mata kuliah Tauhid
2.          Rekan-rekan Mahasiswa Ilmu Komunikasi A 2018
Kami merasa bahwa makalah ini banyak kekurangan, untuk itu kami memohon kritik dan saran guna kesempurnaan tugas dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi teman-teman mahasiswa dan bapak ibu dosen dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan keimanan bagi kita semua.


Yogyakarta, 04/04/2018

Penulis




BAB 1

PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang

Tak terasa sudah sejak lama kita menjadi seorang muslim. Nikmat yang besar ini patut kita syukuri, karena kenikmatan inilah yang akan menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan kita di hari akhir nanti. Dalam makalah ini kita sebagai pemakalah tidak ingin menanyakan “sejak kapan kita masuk islam” karena jawaban dari pertanyaan ini bukanlah suatu yang paling mendasar. Namun pertanyaan paling penting yang harus kita renungkan adalah “sudah sejauh manakah kita telah memahami dan mengamalkan ajaran kita ini?” pertanyaan inilah yang paling penting  yang harus direnungkan dan dijawab, karena jawaban pertanyaan ini yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketaqwaan kita.

B.      Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah diatas, makalah ini dapat kita rumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.        Apa pengertian akidah itu ?
2.        Apa itu akidah pokok dan akidah cabang dalam islam ?

C.    Tujuan Penulisan                                            

Dari uraian latar belakang masalah diatas, makalah ini dapat kita simpulkan tujuan penulisan sebagai berikut :
1.        Untuk memenuhi tugas mata kuliah Tauhid.
2.        Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai mata kuliah Tauhid.
3.        Untuk memahami aqidah-aqidah pokok dan cabang









BAB II

PEMBAHASAN


A.   Pengertian Akidah

Secara etimologis akidah berasal dari kata ‘aqada- ya’qidu- ‘uqdatan- ‘aqidatan. Artinya simpul, ikatan atau perjanjian. Jadi aqidah adalah keyakinan yang tersimpul kuat didalam hati bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. Para ulama’ mendefiniskan aqidah sebagai“sesuatu yang terikat kepadanya hati dan hati nurani.” Dalam Al-qur’an kata “aqidah” diartikan sebagai : “wahai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” Sedangkan secara terminologi akidah adalah suatu pokok atau dasar keyakinan yang harus dipegang  teguh oleh orang  yang mempercayainya. dan dalam hal ini Allah SWT telah mejelaskan melalui firman-Nya dalam surah Al-Ikhas ayat satu dan dua. Yang artinya “ Katakanlah Dia-Lah Allah, Yang Maha Esa. Allah Adalah Tuhan Yang Bergantung Kepada-Nya Segala Sesuatu.” QS Al-Ikhlas  ([112]: 1-2)
Dalam surah Al-Ikhlas ayat satu dan dua di atas telah di beritakan atau di jelaskan bahwa, kita di suru untuk meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT, dan hanya satu-satunya Tuhan yang patut di sembah oleh seluruh umat manusia dan untuk umat Nabi Muhammad pada khususnya. Dan Allah juga tuhan yang berdiri sendiri, yang tidak bergantung pada satu apapun. Dia Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan langit dan bumi, tidak ada Tuhan selain Allah  SWT, yang pernah kita kenal, seperti Tuhan matahari, tuhan patung atau berhala, tuhan kayu pada pohon yang besar yang di yakaini kekeramatnya.
Tuhan memperkenalkan dirinya pertama kali pada Nabi Muhaammad SAW tatkala turunnya ayat 1-5 QS. Al-Alaq. Bahwa, Tuhan itulah yang menciptakanmu, yang menciptakan dari segumpal darah, dan juga Tuhan itu Mulia, yang mengajarkan manusia hal yang tidak diketahuinya dengan pena.
            Akidah islam adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir juga pada qadha’ dan qadar baik-buruk dari Allah SWT. Dan ini yang di sebut aqida-aqida pokok dalam ajaran agama islam. Iman inin sendiri bermakna pembenaran yang pasti, yang sesuai dengan kenyataan yang mencul dari dalil dan bukti. Pasti artinya seratus persen kebenaranya atau kekakinannya tanpa ada keraguan sedikitpun. Sesuai dengan fakta artinya hal yang di imani tersebut memang benar adanya, bukan di ada-adakan (missal: keberadaan Allah, kebenaran Al-Qur’an Dll). Muncul dari suatu dalil artinya keimanan tersebut memiliki hujjah/dalil tertentu. Tanpa dalil sebenarnya tidak aka ada pembenaran yang bersifat pasti.
            Suatu dalil untuk masalah iman, adakalahnya bersifat ‘aqli dan atau naqli, bergantung pada perkara yang di imani. Jika perkara itu masih dalam jangkauan panca indra/akal maka dalil keimanannya bersifat ‘aqli namun, jika di luar jangkauan panca indra maka ia di dasarkan pada dalil naqli. Hanya saja perlu di ingat bahwa penentuan sumber suatu dalil naqli juga di tetapkan dengan jalan ‘aqli. Artinya, penentuan sumber dalil naqli tersebut di lakukan melalui penyelidikan untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh di jadikan sebagai sumber dalil naqli. Oleh karna itu, semua dalil tentang akidah pada dasarnya di sandarkan pada metode ‘aqliyah.
Dan dalam hal ini Menurut  Hasan Al-Banna, aqa’id (jama’ akidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Dan Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia baik secara akal, dan fitroh. Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia didalam hati serta diyakini keshahihannya dan keberadaannya secara pasti.
Aqidah senantiasa bersangkut paut dengan yang namanya Iman, iman sendiri merupakan keteguhan dalam hati, membenarkan dengan lisan dan direalisasikan dengan perbuatan. Ketika seseorang mengaku beriman, sudah semestinya ia akan segera melakukan shalat, karena shalat disini merupakan bagian dari Iman dalam ranah realisasi, dan pada akhirnya, Iman dan Islam takkan pernah bisa dipisahkan bagai dua tali yang saling berhubungan.

  Menurut imam safi’I berkata:
Ketahuailah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk makrifat kepada Allah SWT. Artinya berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan qalbu dalam kondisi orang berfkir tersebut di tuntut untuk makrifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bias sampai pada makrifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini merupakan satu keharusan. Hal ini merupakn suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.[1]



B.     Aqidah Pokok

Akidah pada masa Nabi masih dapat dipertahankan, yaitu ada akida pokok dan akidah cabang, dan dalam pembahasan akidah pokok yaitu Rukun Iman antara lain:

a.      Iman kepada Allah

Ketika kita mengaku sebagai umat islam dan telah mengucapkan dua kalimat syahadat ataupun kita sbagai umat islam islam keturunan. Wajib kita percaya akan Allah Tuhan kita. Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya. Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan. Tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Yang Esa tentang ketuhana-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuata-Nya. Yang hidup dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada. Yang Mendengar Dan Melihat. Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu. Perihalnya apabila Ia menghendaki sesuatu yang Ia Sabdakan: “ jadilah”! maka jadilah sesuatu itu. Dan Dia mengetahuai segala yang mereka kerjakan. Yang bersabda dan memiliki segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan. Dialah yang menjadikan segala sesuatu menurut kemauan dan kehendak-Nya. Segala sesuatu ada di tangan-Nya dan pada-Nya akan kembali. Namun perlu di perhatikan bahwa Allah tidak menyuruh kita membicarakan hal-hal yang tidak tercapai oleh akal dalam hal kepercayaan.
Yang dimaksud dengan iman kepada Allah adalah kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang tidak ada sekutu baginya. Meyakini bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta. Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya tempat untuk menyembah, dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah memiliki nama-nama yang mewakili sifat-sifat Allah.

b. Iman kepada Malaikat Allah

beriman kepada malaikat adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan malaikat sebagai makhluknya yang memiliki tugas-tugas tertentu dari Allah. Dan mereka adalah makhluk yang tidak pernah menentang Allah dan senantiasa taat dan patuh kepada Allah.
Iman kepada Malaikat adalah yakin dan membenarkan bahwa Malaikat itu ada, diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya / nur. Malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh, tunduk dan taat pada perintah serta ketentuan Allah SWT. Malaikat berasal dari kata malak bahasa arab yang artinya kekuatan. Dalam ajaran agama islam terdapat 10 malaikat yang wajib kita ketahui dari banyak malaikat yang ada di dunia dan akherat yang tidak kita ketahui yaitu antara lain :
1.      Malaikat Jibril yang  menyampaikan  wahyu Allah kepada nabi dan  rasul.
2.      Malaikat Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.
3.      Malaikat Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari kiamat.
4.      Malaikat Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.
5.      Malikat Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan  pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam  kubur.
6.      Malaikat Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam  kubur  bersama Malaikat Munkar.
7.      Malaikat Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik manusia ketika hidup.
8.      Malaikat Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk / jahat manusia ketika hidup.
9.      Malaikat Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.
10.  Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu sorga / surga.
Fungsi iman kepada Malaikat Allah :
1.      Selalu melakukan perbuatan baik dan merasa najis serta anti melakukan  perbuatan buruk karena dirinya selalu diawasi oleh malaikat.
2.      Berupaya masuk ke dalam surga yang dijaga oleh malaikat Ridwan dengan bertakwa dan beriman kepada Allah SWT serta berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qodar.
3.      Meningkatkan keikhlasan, keimanan dan kedisiplinan kita untuk mengikuti / meniru sifat dan perbuatan malaikat.
4.      Selalu berfikir dan berhati-hati dalam melaksanakan setiap perbuatan karena setiap perbuatan baik yang baik maupun yang buruk akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Hukum Beriman kepada Malaikat
Beriman atau meyakini kepada Malaikat, hukumnya fardu 'ain. Ini merupakan salah satu iman nomor 2. Hal ini didasarkan dari beberapa sumber Al Qur'an dan Hadits, salah satunya adalah Q.S. Al Baqarah (2) : 285 yang artinya :
Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasulNya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.

c. Iman kepada kitab-kitab Allah

Kita wajib percaya bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada Rasul-rasulnya untuk memperbaiki manusia tentang urusan dunia dan agama mereka. Seperti yang telah di paparkan dalam firman Allah SWT. “ kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QSal-Baqarah: 2)” Diantara kitab-kitab itu, ialah Zabur kepada Nabi Daud, Taurat kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa dan Al-Qur’an pada Nabi Muhammad yang menjadi penutup sekalian Nabi alaihimus shalatu was salam. Dan bahwa A-Qur’an adalah firman Allah  dan kitab terakhir yang diturunkan, yang memuat apa yang tidak termuat pada lainnya, mengenai syariat, budi luhur dan kesempurnaan hukum. Kita wajib percaya akan hal yang dibawa oleh Nabi s.a.w yang mutawir dan memenuhi syarat-syaratnya. Dan yang wajib kitapercayai hanyalah yang tegas-tegas saja, dengan tak boleh menambah-nambah keterangan yang sudah tegas-tegas itu. Dengan keterangan berdasarkan pertimbangan, (perkiraan), kerana firman Allah : “Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran” (QS.Yunus:36). Adapun syarat yang benar tentang kepercayaan, dalamhal ini ialah jangan ada sesuatu yang mengurangi Keagungan dan Keluruhan Tuhan, dengan mempersamakannya dengan makhluk. Sehingga andaikata terdapat kalimat-kalimat yang kesan pertama, mengarah kepada arti yang demikian, meskipun berdasarkan berita yang mutawir (meyakinkan), maka wajiblahn orang mengabaikan makna yang tersurat dan menyerahkan tafsir arti yang sebenarnya kepada Allah dengan kepercayaan bahwa yang yang terkesan pertama pada pikiran bukanlahyang dimaksudkan, atau dengan takwil yang berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima. Dan sebagai orang muslim patutlah kita bersyukur karna dari kitab-kitab Allah yang lain hanya Al-Qur’an yang di jaga atau di pelihara sendiri oleh Allah SWT. seperti yang telah di jelaskan dalam Al-Qur’an itu sendiri yang artinya “ sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (QS al-Hijr: 9)”

d.  Iman kepada Rasul-Rasul Allah

Kita wajib percaya bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutus para Rasul untuk memberi petunjuk umat manusia akan jalan yang lurus. Mereka adalah pembawa berita yang gembira dan peringatan, agar bagi manusia tiada. Alasan atau membantah pada Allah setelah diutusnya para Rasul. Para Rasul itu adalah manusia seperti kita: makan, minum dan pergi ke pasar, yang telah dipilih oleh Allah, menjadi utusannya dan mengistemewakan mereka dengan diberi wahyu. Mereka adalah orang –orang yang jujur, terpercaya menyampaikan tugas mereka dan cerdas, dapat memahami dan memahamkan. Mereka adalah manusia yang mengalami yang biasa dialami oleh orang lain selahi tak mengurangi kehormatan meraka dalam martabat mereka yang luhur. Diantara para Rasul yang tersebut nama mereka dalam Quran adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Luth, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakariyah, Yahya, Isa dan Muhammad ‘alaihimus-shalatu wassalam. Seperti yang telah di jelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul (QS Ali Imran: 144)” Dan ada Rasul-rasul yang tidak dan ada rasul-rasul yang tidak di beritakan oleh Allah kepada kita. Tiada umat yang terdahulu melainkan perna kedatangan nabi. Seorang muslim beriman dan percaya bahwa Allah SWT telah memilih diantara umat manusia. Allah SWT telah mengutus para nabi serta rasul untuk membawa kabar gembira kepada umat manusia tentang kenikmatan abadi yang telah di sediakan bagi mereka yang beriman dan yang telah memperingatkan kepada mereka yang telah berbuat musyrik (kekufuran). Merekapun member teladan dan tingkah laku yang baik dan mulia pada manusia, antar lain dalam bentuk ibadah yang benar, akhlak yang terpuji serta istiqomah (berpegang teguh) pada ajaran Allah SWT.
Dan Allah telah mengokohkan mereka cengan beberapa pembuktian dan segala macam mu’jijat yang nya adalah  Namun perlu di ketahuai dan perlu menjadi perhatian adalah suatu kebenaran, bahwa kekuasaan Allah dapat menghadirkan hal-hal yang menyimpang dari hokum kebiasaan yang pernah berlaku bagi para nabi untuk menguatkan penugasaan dan penundukkan lawan-lawan mereka dan tanda kebenaran mereka terhadap mereka yang mengingkari misalnya apa yang di sebut dalam Al-Qur’an : yang tak membakar nabi Ibrahim,tongkat nabi musa yang berubah menjadi ular. Nabi isa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Dan di turunkan Al-Qur’an kepada nabi Muhammad SAW dan lain sebagainyayang tersebut dal;am beberapa ayat dan semua itu wajib di imankan.

e..   Iman Kepada Hari Kiamat

“Jika bumi di goncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkanbeban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya, ‘mengapa bumi jadi begini.? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesunggunya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (QS al-Zalzalah: 1-5)”
Sebagai seorang muslim yang taqwa sudah wajiblah Kita untuk yakin dan percaya akan datangnya hari kiamat, yaitu hari dimana akhir dari dunia ini, karna ini adalah salah satu point penting untuk mengokohkan keimanan kita kepada Allah SWT. Seperti dalam hadist Rasulullah SAW, bersabda dalam shahih muslim, “ketika jibril menanyakan kepada rasulullah tentang iman, Rasulullah menjawab, “hendaknya engkau mengimani Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, juga Hari kiamat. Hendaklah  engkau mengimani Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)” (HR Muslim)” Hal tentang adanya hari akhir atau hari kiamat dan segala yang terjadi tentang kerusakan alam ini, telah  di beritakan oleh rasulullah SAW dengan riwayat mutawatir tentang kebangkitan dari dalam kubur, pengumpulan di padang mahsyar, pemeriksaan dan hari pembalasanm. Maka Allah member keputusan tentang perbuatan orang lalu ada yang masuk neraka selama-lamanya dan tidak keluar daripadanya, yaitu orang-orang kafirdan orang-orang musyrik dan ada yang masuk kemudian keluar dari neraka, yaitu orang-orang mukmin yang berbuat dosa. Dan ada yang masuk surge  dan kekal, yaitu orang-orang mukmin yang benar-benar. Adapun waktu dan tanda-tanda hanya Allah SWT yang tahu kapan akan terjadinya hari akhir tersebut. Seperti Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an. Yang artinya: “mereka bertanya kepadamu tentang hari kiamat, “kapankah terjadinya?” katakanlah, “ sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba” mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahinya. Katalkanlah, “sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu ada di sisi Allah namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS al-A’raf: 187)”

f..       Iman kepada Qada dan Qadar

                 “ketika jibril menanyakan kepada rasulullah tentang iman, Rasulullah menjawab, “hendaknya engkau mengimani Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, juga Hari kiamat. Hendaklah  engkau mengimani Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)” (HR Muslim)”
Sebagia orang islam sudah sewajibnya kita percaya bahwa Allahlah yang telah menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang telah menyuruh dan melarang, Dan perintah Allah adalah kepastian yang telah ditentukan. Dan bahwanya Allah telah menentukan segala sesuatu sebelum Dia menciptakan segala kejadian dan mengatur segala yang ada dengan pengetahuan, ketentuan, kebijaksanaan dan kehendaknya. Adapun segala yang dilakukan manusia itu semuanya atas Qadla’ dan Qadarnya. Sedang manusia sendiri hanya dapat berikthiar. Seperti firman Allah yang telah dipaparkan dalam Al-Qur’an yang artinya: “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri merubah apa yang ada pada diri mereka. (QS ar-Ra’du: 11)” Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya dinamakan hasil uasaha sendiri. Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah, perbuatan manusia itu adalah ciptaan Allah. Manusia hanya dapat mengolah bagian yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain.

B.     Aqidah Cabang

Ketika Nabi SAW wafat pada 632 M, daerah kekuasaan Madinah tak sebatas pada kota itu saja, tetapi meliputi seluruh Semenanjung Arabia. Negara Islam pada waktu itu, sebagaimana digambarkan oleh William Montgomery Watt dalam bukunya yang bertajuk Muhammad Prophet and Statesman, sudah merupakan komunitas berkumpulnya suku-suku bangsa Arab. Mereka menjalin persekutuan dengan Muhammad SAW dan masyarakat Madinah dalam berbagai bentuk.
Sepeninggal Nabi SAW inilah timbul persoalan di Madinah, yaitu siapa pengganti beliau untuk mengepalai negara yang baru lahir itu. Dari sinilah, mulai bermunculan berbagai pandangan umat Islam. Sejarah meriwayatkan bahwa Abu Bakar as-Siddiq-lah yang disetujui oleh umat Islam ketika itu untuk menjadi pengganti Nabi SAW dalam mengepalai Madinah. Selanjutnya, Abu Bakar digantikan oleh Umar bin Khattab. Kemudian, Umar digantikan oleh Usman bin Affan.
Munculnya perselisihan
Awal kemunculan aliran dalam Islam terjadi pada saat khilafah Islamiyah mengalami suksesi kepemimpinan dari Usman bin Affan ke Ali bin Abi Thalib. Masa pemerintahan Ali merupakan era kekacauan dan awal perpecahan di kalangan umat Islam. Namun, bibit-bibit perpecahan itu mulai muncul pada akhir kekuasaan Usman.
Di masa pemerintahan khalifah keempat ini, perang secara fisik beberapa kali terjadi antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan para penentangnya. Peristiwa-peristiwa ini telah menyebabkan terkoyaknya persatuan dan kesatuan umat. Sejarah mencatat, paling tidak, dua perang besar pada masa ini, yaitu Perang Jamal (Perang Unta) yang terjadi antara Ali dan Aisyah yang dibantu Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah serta Perang Siffin yang berlangsung antara pasukan Ali melawan tentara Muawiyah bin Abu Sufyan.
Faktor penyulut Perang Jamal ini disebabkan oleh yang Ali tidak mau menghukum para pembunuh Usman. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang dan menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak oleh Aisyah, Zubair, dan Talhah. Zubair dan Talhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersamaan dengan itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Ali semasa memerintah juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah bin Abu Sufyan, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi--di masa pemerintahan Khalifah Usman yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.
Perselisihan yang terjadi antara Ali dan para penentangnya pun menimbulkan aliran-aliran keagamaan dalam Islam, seperti Syiah, Khawarij, Murjiah, Muktazilah, Asy'ariyah, Maturidiyah, Ahlussunah wal Jamaah, Jabbariyah, dan Kadariah.Aliran-aliran ini pada awalnya muncul sebagai akibat percaturan politik yang terjadi, yaitu mengenai perbedaan pandangan dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan (aspek sosial dan politik). Namun, dalam perkembangan selanjutnya, perselisihan yang muncul mengubah sifat-sifat yang berorientasi pada politik menjadi persoalan keimanan.
''Kelompok khawarij yang akhirnya menjadi penentang Ali mengganggap bahwa Ali tidak melaksanakan keputusan hukum bagi pihak yang memeranginya sebagaimana ajaran Alquran. Karena itu, mereka menunduh Ali kafir dan darahnya halal,'' kata guru besar filsafat Islam, Prof Dr Mulyadi Kartanegara, kepada Republika.
Sementara itu, kelompok yang mendukung Ali dan keturunannya (Syiah) melakukan pembelaan atas tuduhan itu. Dari sinilah, bermunculan berbagai macam aliran keagamaan dalam bidang teologi. Selain persoalan politik dan akidah (keimanan), muncul pula pandangan yang berbeda mengenai Alquran (makhluk atau kalamullah), qadha dan qadar, serta sebagainya.
Sunni dan Syiah Dua Aliran Teologi yang Masih Bertahan
Dari sekian banyak aliran kalam (teologi) yang berkembang di masa kejayaan peradaban Islam, seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, Murjiah, Kadariyah, Jabbariyah, Asy'ariyah, Maturudiyah, dan sebagainya, hingga saat ini hanya dua aliran yang masih memiliki banyak pengikut. Kedua aliran itu adalah Ahlussunnah wal Jamaah (biasa disebut dengan kelompok Sunni) dan Syiah.
Penganut kedua paham ini tersebar di berbagai negara di dunia yang terdapat komunitas Muslim. Tak jarang, dalam satu negara Muslim, terdapat dua penganut aliran ini. Secara statistik, jumlah Muslim yang menganut paham Sunni jauh lebih banyak dibandingkan yang menganut paham Syiah. Wikipedia menyebutkan, sekitar 90 persen umat Muslim di dunia merupakan kaum Sunni dan sekitar 10 persen menganut aliran Syiah.
Perubahan dan pendapat-pendapat teologis yang akhirnya berkembang menjadi madzhab-mahdzhab teologis umumnya berkaitan dengan :

a.      Masalah Tuhan

Dalam masalah zat tuhan muncul pendapat yang menggambarkan tuhan dengan sifat-sifat bentuk jasmani atau fisik. Sedangkan dalam masalah sifat Tuhan juga muncul persoalan, apakah Tuhan itu mempunyai sifat atau tidak. Dalam hal ini muncul 2 golongan yang berpendapat berbeda :
         Pertama  : golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Dia adalah Esa, bersih dari hal-hal yang menjadikannya tidak Esa. Mereka meng-EsakanTuhan dengan mengkosongkan Tuhan dari berbagai sifat-sifat.
        Kedua : Golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diwakili oleh golongan Ay’ariyah dan Maturidiyah meyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat yang sempurna dan tidak ada yang menyamai-Nya. Mensifati Tuhan dengan sifat-sifat kesempurnaan tidak akan mengurangi ke-Esaan-Nya.

b.      Masalah Kitab-Kitab

Permasalahan yang diikhtilafkan dikalangan orang islam ialah apakah Al-Qur’an itu Qadim (kekal) atau Hadis (baru). Golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah Qadim bukan makhluk (diciptakan). Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak Qadim karena Al-Qur’an itu makhluk (diciptakan).

c.       Masalah Nabi dan Rasul

Masalah yang masih diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman kepada para Nabi dan Rasul adalah mengenai jumlahnya. Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000 orang. Dari jumlah itu yang diangkat menjadi Rasul sebanyak 313 orang.

d.      Masalah Hari Kiamat

Para ulama’ telah sepakat dalam masalah adanya hari kiamat dan hal-hal yang terjadi didalamnya, hanya saja mereka ikhtilaf tentang apa yang akan yang dibangkitkan. Ada yang berpendapat bahwa yang akan dibangkitkan meliputi jasmani dan rohani, dan pendapat kedua mengatakan bahwa yang dibangkitkan adalah rohnya saja.

e.       Masalah Takdir

Dalam masalah taqdir, orang islam sepakat perlunya meyakini adanya ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk yang ada dialam semesta ini. Namun berbeda dalam memahami dan memperaktekkannya.
         Pertama : Qodariyah berpendapat bahwa segala perbuatan manusia baik maupun buruk semuanya ditentukan oleh manusia itu sendiri. Allah tidak mempunyai  sangkut pautnya dalam hal ini karena Allah telah menyerahkan kodratnya kepada manusia. Allah akan memberi pahala kepada orang yang  telah berbuat baik, karena dia telah menggunakan kodrat yang diberikan Allah dijalan yang baik. Dan bagi orang yang berbuat  jahat maka Allah akan menyiksanya karena kodrat yang diberikan digunakn untuk jalan keburukan.
         Kedua : kaum Jabariyyah mempunyai I’tiqod yang bertolak belakang dengan I’tiqod kaum Qodariyah. Jabariyyah berpendapat bahwa manusia tidak punya daya apa-apa karena segalanya telah ditentukan oleh Allah. Manusia tidak punya usaha, tidak punya ikhtiar sebab seluruhnya yang menentukan adalah Allah. Pendapat Jabariyyah ini dianggap menyimpang oleh golongan Ahlussunnah Waljama’ah. Memang semuanya ini ditentukan oleh Allah tetapi Allah juga telah menciptakan usaha dan ikhtiar manusia. Oleh karena itu manusia mempunyai keharusan untuk berusaha.
         Ketiga : sebenarnya I’tiqod Ahlussunnah Waljama’ah merupakan perpaduan dari I’tiqod Jabriyyah dan Qodariyah, artinya segala sesuatu dialam ini memang  telah ditentukan oleh Allah, namun manusia diberi kewenangan untuk melakukan ikhtiar terlebih dahulu. Seperti firman Allah yang telah dipaparkan dalam Al-Qur’an yang artinya:“sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri merubah apa yang ada pada diri mereka. (QS ar-Ra’du: 11)”.

 

BAB III

PENUTUP

A.          Kesimpulan

Dari pemaparan makalah diatas maka dapat kita simpulkan sebagai berikut :
1.         Akidah adalah suatu pokok atau dasar keyakinan yang harus dipegang  teguh oleh orang  yang mempercayainya. Menurut Hasan al-Banna aqa’id (jama’ akidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.
2.         Akidah pokok adalah aqidah umata islam yang masih terpelihara dan masih murni sebagai mana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang tercakup didalam Arkanul Iman.
3.         Perpecahan umat islam mulai terjadi setelah berakhirnya kepemimpinan kholifah Umar bin Khattab. Kemudian muncul permasalahan yang menimbulkan terjadinya pembunuhan khalifah Ustman bin affan (th 345-656 M) oleh pemberontak yang sebagian besar dari Mesir yang tidak puas dengan kebijakan politiknya. Awalnya peristiwa ini hanya sebuah permasalan politik yang akhirnya berkembang menjadi persoalan teologi sehingga melahirkan berbagai  aliran dengan teologi dan pandangan yang berbeda-beda. Pada masa ini umat islam tidak mampu lagi mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidahnya, karena masing-masing berusaha membuka persoalan akidah yang sebelumnya terkunci. Maka lahirlah cabang-cabang akidah yang pemahamannya bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman.
________________________________________
1. Ilmu Ushuluddin“Ushul” : pokok, fondamen, prinsip, aqidah, peraturan.“Aiddiin” : agama Ushuluddin adalah pokok-pokok atau dasar-dasar agama. Ilmu tauhid dapat pula dikatakan ilmu ushuluddin karena menguraikan pokok-pokok kepercayaan dalam agama islam.
2 .Mukallaf ialah orang yang berakal sehat dan telah baligh / telah berumur lima belas tahun atau telah mengeluarkan darah putih(air mani) meskipun dengan cara bermimpi bagi pria.Dan bagi wanita apabila telah berumur sembilan tahun, telah mengeluarkan darah haid atau telah mengeluarkan air mani, baik dengan cara persetubuhan suami istri atau dengan cara bermimpi. Orang itulah yang terkena perintah - perintah Alloh dan menjauhi larangan - larangan-Nya.









 

DAFTAR PUSTAKA


Al-Ghazali, Muhammad. 1986. Akidah Muslim. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Muhidin.  2006. Risalah Tauhid Dalam Ilmu Kalam. Kuala Kapuas.
Yazdi, Mishbah.  2005.  Iman Semesta. Jakarta: Al-Huda.
www.Google.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar