Senin, 09 Desember 2019

China dan Jurnalisme


China dan Jurnalisme
(KELOMPOK 3)
             Kata jurnalisme berasal dari kata “journal” yang artinya catatan harian, sedangkan  dalam bahasa latin berarti orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik. Jurnalistik sendiri menurut Roland E. Wolseley dalam buku berjudul Understanding Magazines(1969) adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan. Menurut Macdougall, jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa. Sedangkan, jurnalistik menurut kita adalah kegiatan mencari, mengumpulkan, menulis, mengedit, suatu informasi untuk disiarkan kepada khalayak dalam berbagai media seperti majalah, surat kabar, koran, internet dan lain sebagainya.
             Sejarah jurnalistik dimulai sejak 3000 tahun yang lalu. Firaun di Mesir, Amenhotep III, mengirimkan ratusan pesan kepada perwiranya di provinsi-provinsi untuk memberitahukan apa yang terjadi di ibu kota. Di Roma 2000 tahun yang lalu Acta Diurna tindakan-tindakan harian-tindakan tindakan senat, peraturan-peraturan pemerintah, berita kelahiran dan kematian-ditempelkan di tempat tempat umum. Selama abad pertengahan di Eropa, siaran berita yang ditulis tangan merupakan media informasi yang penting bagi para usahawan.
          Setiap bentuk jurnalistik memiliki ciri dan kekhasannya masing-masing. Ciri dan kekhasannya itu antara lain terletak pada aspek filosofi penerbitan, dinamika teknis persiapan dan pengelolaan, serta asumsi dampak yang ditimbulkan terhadap khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa. Sebagai contoh filosofi surat kabar harian menekankan pada segi keunggulan dan kecepatan dalam perolehan dan penyebaran informasi.  Sedangkan filosofi penerbitan majalah berita mingguan lebih banyak menekankan segi kelengkapan dan kedalaman informasi serta ketajaman daya analisisnya.
            Keperluan untuk mengetahui apa yang terjadi merupakan kunci lahirnya jurnalisme selama berabad abad. Tetapi, jurnalisme itu sendiri baru benar-benar dimulai ketika huruf huruf lepas untuk percetakan mulai digunakan di Eropa pada sekitar tahun 1440. Dengan mesin cetak,  lembaran-lembaran berita dan pamflet-pamflet dapat dicetak dengan kecepatan yang lebih tinggi,  dalam jumlah yang lebih banyak, dan dengan ongkos yang lebih rendah.
        Surat kabar pertama yang terbit di Eropa secara teratur di mulai di Jerman tahun 1609: Aviso di Wolfen Buttel dan Relation di Strasbourg. Tak lama kemudian, surat-surat kabar lainnya muncul di Belanda (1618), Perancis (1620), Inggris (1620), Italia (1636). Surat kabar surat kabar abad ke 17 ini bertiras sekitar 100-200 eksemplar sekali terbit, meskipun Frankfurter Journal pada tahun 1680 sudah memiliki tiras 1500 sekali terbit.
     Pada tahun 1650, surat kabar pertama yang terbit sebagai harian adalah Einkommende Zeitung di Leipzig, Jerman. Pada tahun 1702 menyusul Daily Caurant di London yang menjadi harian pertama di Inggris yang berhasil di terbitkan. Ketika lebih banyak penduduk memperoleh pendapatan lebih besar dan lebih banyak diantara mereka yang belajar membaca, maka semakin besarlah permintaan tentang surat kabar. Bersamaan dengan itu, terjadi penemuan-penemuan mesin yang lebih baik dalam mempercepat produksi koran dan memperkecil ongkos.
             Pada tahun 1833, di New York City,  Benjamin H. Day,  menerbitkan untuk pertama kalinya apa yang disebut Penny Newspaper (surat kabar murah yang harganya satu penny) ia memuat berita-berita pendek yang ditulis dengan hidup, termasuk peliputan secara rinci tentang berita-berita kepolisian untuk pertama kalinya. Berita-berita human-interest dengan ongkos murah ini menyebabkan bertambahnya secara cepat sirkulasi surat kabar tersebut. Kini di Amerika serikat beredar 60.000.000 eksemplar harian setiap harinya. Jurnalisme kini telah tumbuh jauh melampaui surat kabar pada awal kelahirannya. Majalah mulai berkembang sekitar 2 abad lalu. Pada tahun 1920 radio kemersial dan majalah-majalah berita muncul ke atas panggung. Televisi komersial mengalami boom setelah perang dunia kedua.
Jurnalistik mempunyai peranan yang cukup penting dalam perkembangan kehidupan manusia. Melalui karya-karyanya, jurnalistik berfungsi sebagai media informasi, media edukasi, media hiburan, dan media kontrol sosial. Oleh karena pentingnya peran tersebut, seorang jurnalis harus objektif dalam menyampaikan gagasannya dan tidak boleh cenderung kepada salah satu pihak. Namun kini, tidak jarang media jurnalistik condong kepada salah satu pihak ataupun menyampaikan gagasan berdasarkan kepentingan tertentu.
Sebenarnya kegiatan jurnalistik di dunia saling berkaitan satu sama lain dalam berbagai versi. Beberapa bangsa memiliki andil yang cukup besar dalam proses perkembangan jurnalistik dunia, salah satunya adalah China. Di China, jurnalistik dimulai sejak ditemukannya kertas pertama kali oleh Cai Lun pada awal abad kedua. Kertas ini terbuat dari kulit kayu, kain, batang gandum yang relatif murah, ringan, tipis, dan tahan lama. Kemudian pada awal abad ketiga, proses pembuatan kertas ini menyebar ke wilayah Korea dan Jepang hingga ke Arab serta Eropa. Penemuan kertas jenis baru ini membuat jurnalisme yang dulunya dianggap untuk kalangan atas, menjadi berkembang pesat.
Pada tahun 911 M muncul surat kabar pertama bernama “King Pau” atau “Tching Pao” yang berarti “kabar dari istana”. Kemudian Kaisar Quang Soo mulai mengedarkan surat kabar tersebut secara teratur setiap seminggu sekali pada tahun 1351 M. Penyebaran informasi semakin berkembang pesar sejak ditemukannya mesin cetak yang masih sederhana di China dan Korea sekitar tahun 175 AD. Terobosan besar datang pada tahun 1440 oleh Johanes Gutenberg dari kota Maiz Jerman. Gutenberg menciptakan sebuah metode pengecoran potongan-potongan huruf di atas campuran logam yang terbuat dari timah. Potongan-potongan ini dapat ditekankan diatas halaman berteks untuk percetakan. Penggunaan mesin cetak merupakan sebuah kunci perbedaan teknologi yang memberikan penemu Eropa keuntungan atas rekan mereka yang berasal dari China yaitu mesin cetak yang berbasis sekrup yang digunakan dalam produksi anggur dan minyak zaitun. Hal ini merupakan kecanggihan mesin kira-kira pada tahun 1000, alat yang digunakan untuk mengaplikasikan tekanan diatas bidang yang datar merupakan alat yang biasa digunakan di Eropa.
            Jurnalisme di China menganut sistem pers otoriter. Authoritarian theory (teori pers otoriter) diakui sebagai teori pers tertua berasal dari abad ke-16. Pers otoriter berarti bahwa pers dikuasai oleh negara atau penguasa sebagai media untuk menyampaikan informasi yang dianggapnya perlu diketahui oleh masyarakat. Pers harus mendukung kebijakan pemerintah dan mengabdi kepada negara. Dalam sistem pers otoriter, kebebasan pers tidak dibutuhkan lagi, begitu juga dengan adanya suatu organisasi pekerja media yang sifatnya independen. Prinsip teori ini adalah bahwa negara memiliki kedudukan lebih tinggi daripada individu dalam skala nilai kehidupan sosial.
Namun dengan menganut sistem tersebut, pers di China tidak bisa dijadikan alat kontrol masyarakat terhadap kinerja pemerintah dan justru dijadikan alat kekuasaan negara untuk menekan. Bahkan sistem ini tidak hanya berlaku bagi media-media lokal, melainkan media asing yang berada di China pun turut dikendalikan oleh pemerintah. Wartawan asing yang berada di China dibatasi ruang geraknya. Mereka sering menghadapi kesulitan saat proses peliputan bahkan hingga diculik dan dipenjara.
Dalam indeks tahunan kebebasan pers yang disusun oleh organisasi Reporters Sans Frontieres, RSF, Wartawan Lintas Batas menyebutkan bahwa China merupakan penjara terbesar bagi para wartawan dan blogger. China merupakan negara paling berbahaya dengan catatan terburuk untuk kebebasan media.
Dari penjelasan di atas China memang memberikan andil yang besar bagi proses perkembangan jurnalisme dunia, namun kehebatan tersebut tidak diimbangi dengan jaminan hak kebebasan para jurnalis untuk mengungkapkan dan menyiarkan informasi di saat segala informasi dengan sangat mudah dapat diakses.

Sumber Referensi:
Jurnalistik karangan prof. Dr.  Muhammad Budyatna, M.A.
Jurnalistik indonesia karangan Drs. AS haris sumadiria M.SI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar