China
dan Jurnalisme
(KELOMPOK 3)
Kata jurnalisme berasal dari kata “journal”
yang artinya catatan harian, sedangkan
dalam bahasa latin berarti orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.
Jurnalistik sendiri menurut Roland E. Wolseley dalam buku berjudul Understanding
Magazines(1969) adalah pengumpulan, penulisan,
penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati,
hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat
kabar, majalah, dan disiarkan. Menurut Macdougall, jurnalisme
adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa.
Sedangkan, jurnalistik menurut kita adalah kegiatan mencari, mengumpulkan,
menulis, mengedit, suatu informasi untuk disiarkan kepada khalayak dalam
berbagai media seperti majalah, surat kabar, koran, internet dan lain
sebagainya.
Sejarah jurnalistik
dimulai sejak 3000 tahun yang lalu. Firaun di Mesir, Amenhotep III, mengirimkan
ratusan pesan kepada perwiranya di provinsi-provinsi untuk memberitahukan apa
yang terjadi di ibu kota. Di Roma 2000 tahun yang lalu Acta Diurna tindakan-tindakan
harian-tindakan tindakan senat, peraturan-peraturan pemerintah, berita
kelahiran dan kematian-ditempelkan di tempat tempat umum. Selama abad
pertengahan di Eropa, siaran berita yang ditulis tangan merupakan media
informasi yang penting bagi para usahawan.
Setiap bentuk jurnalistik memiliki
ciri dan kekhasannya masing-masing. Ciri dan kekhasannya itu antara lain
terletak pada aspek filosofi penerbitan, dinamika teknis persiapan dan
pengelolaan, serta asumsi dampak yang ditimbulkan terhadap khalayak pembaca,
pendengar, atau pemirsa. Sebagai contoh filosofi surat kabar harian menekankan
pada segi keunggulan dan kecepatan dalam perolehan dan penyebaran
informasi. Sedangkan filosofi penerbitan
majalah berita mingguan lebih banyak menekankan segi kelengkapan dan kedalaman
informasi serta ketajaman daya analisisnya.
Keperluan untuk mengetahui apa yang
terjadi merupakan kunci lahirnya jurnalisme selama berabad abad. Tetapi,
jurnalisme itu sendiri baru benar-benar dimulai ketika huruf huruf lepas untuk
percetakan mulai digunakan di Eropa pada sekitar tahun 1440. Dengan mesin
cetak, lembaran-lembaran berita dan pamflet-pamflet
dapat dicetak dengan kecepatan yang lebih tinggi, dalam jumlah yang lebih banyak, dan dengan
ongkos yang lebih rendah.
Surat kabar pertama yang terbit di Eropa
secara teratur di mulai di Jerman tahun 1609: Aviso di Wolfen Buttel dan
Relation di Strasbourg. Tak lama kemudian, surat-surat kabar lainnya muncul di
Belanda (1618), Perancis (1620), Inggris (1620), Italia (1636). Surat kabar
surat kabar abad ke 17 ini bertiras sekitar 100-200 eksemplar sekali terbit,
meskipun Frankfurter Journal pada tahun 1680 sudah memiliki tiras 1500 sekali
terbit.
Pada tahun 1650, surat kabar pertama yang terbit sebagai harian adalah
Einkommende Zeitung di Leipzig, Jerman. Pada tahun 1702 menyusul Daily Caurant
di London yang menjadi harian pertama di Inggris yang berhasil di terbitkan.
Ketika lebih banyak penduduk memperoleh pendapatan lebih besar dan lebih banyak
diantara mereka yang belajar membaca, maka semakin besarlah permintaan tentang
surat kabar. Bersamaan dengan itu, terjadi penemuan-penemuan mesin yang lebih
baik dalam mempercepat produksi koran dan memperkecil ongkos.
Pada tahun 1833, di New
York City, Benjamin H. Day, menerbitkan untuk pertama kalinya apa yang
disebut Penny Newspaper (surat kabar murah yang harganya satu penny) ia memuat
berita-berita pendek yang ditulis dengan hidup, termasuk peliputan secara rinci
tentang berita-berita kepolisian untuk pertama kalinya. Berita-berita
human-interest dengan ongkos murah ini menyebabkan bertambahnya secara cepat
sirkulasi surat kabar tersebut. Kini di Amerika serikat beredar 60.000.000
eksemplar harian setiap harinya. Jurnalisme kini telah tumbuh jauh melampaui
surat kabar pada awal kelahirannya. Majalah mulai berkembang sekitar 2 abad
lalu. Pada tahun 1920 radio kemersial dan majalah-majalah berita muncul ke atas
panggung. Televisi komersial mengalami boom setelah perang dunia kedua.
Jurnalistik mempunyai
peranan yang cukup penting dalam perkembangan kehidupan manusia. Melalui
karya-karyanya, jurnalistik berfungsi sebagai media informasi, media edukasi,
media hiburan, dan media kontrol sosial. Oleh karena pentingnya peran tersebut,
seorang jurnalis harus objektif dalam menyampaikan gagasannya dan tidak boleh
cenderung kepada salah satu pihak. Namun kini, tidak jarang media jurnalistik
condong kepada salah satu pihak ataupun menyampaikan gagasan berdasarkan kepentingan
tertentu.
Sebenarnya kegiatan
jurnalistik di dunia saling berkaitan satu sama lain dalam berbagai versi. Beberapa bangsa memiliki andil yang cukup besar dalam
proses perkembangan jurnalistik dunia, salah satunya adalah China. Di China,
jurnalistik dimulai sejak ditemukannya kertas pertama kali oleh Cai Lun pada
awal abad kedua. Kertas ini terbuat dari kulit kayu, kain, batang gandum yang
relatif murah, ringan, tipis, dan tahan lama. Kemudian pada awal abad ketiga,
proses pembuatan kertas ini menyebar ke wilayah Korea dan Jepang hingga ke Arab
serta Eropa. Penemuan kertas jenis baru ini membuat jurnalisme yang dulunya
dianggap untuk kalangan atas, menjadi berkembang pesat.
Pada tahun
911 M muncul surat kabar pertama bernama “King Pau” atau “Tching Pao” yang
berarti “kabar dari istana”. Kemudian Kaisar Quang Soo mulai mengedarkan surat
kabar tersebut secara teratur setiap seminggu sekali pada tahun 1351 M.
Penyebaran informasi semakin berkembang pesar sejak ditemukannya mesin cetak
yang masih sederhana di China dan Korea sekitar tahun 175 AD.
Terobosan besar datang pada tahun 1440 oleh Johanes Gutenberg dari kota Maiz
Jerman. Gutenberg menciptakan sebuah metode pengecoran potongan-potongan huruf
di atas campuran logam yang terbuat dari timah. Potongan-potongan ini dapat
ditekankan diatas halaman berteks untuk percetakan. Penggunaan mesin cetak
merupakan sebuah kunci perbedaan teknologi yang memberikan penemu Eropa
keuntungan atas rekan mereka yang berasal dari China yaitu mesin cetak yang
berbasis sekrup yang digunakan dalam produksi anggur dan minyak zaitun. Hal ini
merupakan kecanggihan mesin kira-kira pada tahun 1000, alat yang digunakan
untuk mengaplikasikan tekanan diatas bidang yang datar merupakan alat yang
biasa digunakan di Eropa.
Jurnalisme di China menganut sistem
pers otoriter. Authoritarian theory (teori pers otoriter) diakui sebagai teori
pers tertua berasal dari abad ke-16. Pers otoriter berarti bahwa pers dikuasai
oleh negara atau penguasa sebagai media untuk menyampaikan informasi yang
dianggapnya perlu diketahui oleh masyarakat. Pers harus mendukung kebijakan
pemerintah dan mengabdi kepada negara. Dalam sistem pers otoriter, kebebasan
pers tidak dibutuhkan lagi, begitu juga dengan adanya suatu organisasi pekerja
media yang sifatnya independen. Prinsip teori ini adalah bahwa negara memiliki
kedudukan lebih tinggi daripada individu dalam skala nilai kehidupan sosial.
Namun
dengan menganut sistem tersebut, pers di China tidak bisa dijadikan alat
kontrol masyarakat terhadap kinerja pemerintah dan justru dijadikan alat
kekuasaan negara untuk menekan. Bahkan sistem ini tidak hanya berlaku bagi
media-media lokal, melainkan media asing yang berada di China pun turut
dikendalikan oleh pemerintah. Wartawan asing yang berada di China dibatasi
ruang geraknya. Mereka sering menghadapi kesulitan saat proses peliputan bahkan
hingga diculik dan dipenjara.
Dalam
indeks tahunan kebebasan pers yang disusun oleh organisasi Reporters Sans Frontieres,
RSF, Wartawan Lintas Batas menyebutkan bahwa China merupakan penjara terbesar
bagi para wartawan dan blogger. China merupakan negara paling berbahaya dengan
catatan terburuk untuk kebebasan media.
Dari
penjelasan di atas China memang memberikan andil yang besar bagi proses
perkembangan jurnalisme dunia, namun kehebatan tersebut tidak diimbangi dengan
jaminan hak kebebasan para jurnalis untuk mengungkapkan dan menyiarkan
informasi di saat segala informasi dengan sangat mudah dapat diakses.
Sumber Referensi:
Jurnalistik karangan prof.
Dr. Muhammad Budyatna, M.A.
Jurnalistik indonesia
karangan Drs. AS haris sumadiria M.SI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar