Analisa Manajemen Krisis
Di Perusahaan
Gojek Indonesia (Yogyakarta)
Izza Auliyai Rabby /
18107030019
Melinda Anis Safitri /
18107030006
Muhammad Aditia Nurdiansyah /
18107030008
krisis adalah suatu emergency, namun tidak
setiap emergency adalah suatu krisis. Krisis ditangani oleh
manajemen terhadap krisis. Krisis adalah kondisi tidak stabil, yang bergerak
kearah suatu titik balik, dan menyandang potensi perubahan yang menentukan.
Sedangkan keadaan darurat (emergency) adalah kejadian tiba-tiba, yang
tidak diharapkan terjadinya dan menuntut penanganan segera.
Jadi esensi manajemen krisis adalah upaya untuk menekan faktor
ketidakpastian dan faktor risiko hingga tingkat serendah mungkin, dengan
demikian akan lebih mampu menampilkan sebanyak mungkin faktor kepastiannya.
Sebenarnya yang disebut manajemen krisis itu diawali dengan langkah
mengupayakan sebanyak mungkin informasi mengenai alternatif-alternatif, maupun
mengenai probabilitas, bahkan jika mungkin mengenai kepastian tentang
terjadinya, sehingga pengambilan keputusanan mengenai langkah-langkah yang
direncanakan untuk ditempuh, dapat lebih didasarkan pada sebanyak mungkin dan
selengkap mungkin serta setajam (setepat) mungkin informasinya. Tentu saja
diupayakan dari sumber yang dapat diandalkan (reliable), sedangkan materinya juga menyandang bobot
nalar yang cukup.
Krisis adalah situasi yang merupakan titik
balik (turning point) yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah
buruk. Menurut Djamaluddin Ancok, jika
dipandang dari kacamata bisnis suatu krisis akan menimbulkan hal-hal seperti
berikut :
1.
Intensitas permasalahan akan bertambah.
2.
Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa,
atau informasi dari mulut ke mulut.
3.
Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
4.
Masalah menganggu nama baik perusahaan.
5.
Masalah dapat merusak sistem kerja dan menggoncangkan perusahaan
secara keseluruhan.
6.
Masalah yang dihadapi disamping membuat perusahaan menjadi
panik, juga tidak jarang membuat masyarakat menjadi panik.
7.
Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi
Kesadaran akan dampak yang ditimbulkan oleh
krisis sekaligus lemahnya dalam mengantisipasi datangnya sebuah krisis,
menjadikan perlunya langkah-langkah antisipatif dalam sebuah kerangka kerja
yang disebut manajemen krisis.
Manajemen krisis membedakan situasi krisis menjadi : pra-krisis dan
krisis. Situasi Pra-krisis adalah situasi masih tenang dan stabil, bahkan tanpa
tanda-tanda akan terjadinya krisis, sedangakan Situasi Krisis dirinci dalam tahap-tahap prodomal, akut,
kronik, dan pengakhiran (resolution). Pada tahap prodomal, hadir
tanda-tanda, pada tahap akut, terjadi kerusakan (damage), pada tahap
kronik, krisis akan berlanjut yang lebih parah, dan pada tahap pengakhiran,
krisis berakhir/teratasi.

Sebagai
sebuah organisasi baru, Gojek tidak akan terlepas dari berbagai konflik yang
akan menentukan apakah organisasi tersebut akan terus bertahan atau lenyap.
Walaupun pada dasarnya tidak ada satu organisasipun yang menginginkan
terjadinya konflik, namun secara langsung justru konflik-lah yang membuat
sebuah perusahaan atau organisasi menjadi lebih kuat dan berpengalaman. Gojek
saat ini tengah mengalami krisis yang cukup mengguncang reputasinya sebagai
organisasi baru yang merambah bisnis transportasi publik. Driver Gojek
mendapatkan ancaman dari pengendara ojek lokal setempat.
Bahkan ada yang akan melakukan tindakan fisik ke pengendara Gojek karena
ojek lokal merasa tersaingi oleh para driver Gojek. Krisis semacam ini tentunya
berpotensi membuat customer Gojek menurun jika merasa keselamatannya terancam
karena adanya teror oleh para ojek lokal. Dan berakibat pula pada kinerja
driver Gojek dalam melayani customernya, khususnya didaerah-daerah tertentu
yang mereka anggap rawan. Basuki Tjahaya Purnama selaku Gubernur DKI Jakarta
merasa bahwa hal ini salah satu bentuk aksi ojek lokal yang takut tersaingi
oleh Gojek (Aulia: 2015).
Krisis semacam ini jika tidak
ditangani segera oleh pengelola Gojek dapat berimbas pada konflik yang lebih
besar antara para pengendara Gojek dengan ojek lokal setempat yang merasa lahan
kerja mereka diambil oleh oleh Gojek. Adanya miskomunikasi antara Gojek dengan
ojek lokal ini membuat kedua belah pihak menjadi bersitegang. Keberadaan Gojek
semakin terpojokkan ketika Organda DKI Jakarta juga keberatan dengan eksistensi
Gojek, hal ini terjadi karena Gojek bukanlah sebagai organisasi angkutat resmi
yang diakui oleh pemerintah. Sehingga keberadaannya perlu dipertanyakan. Dalam
krisis yang saat ini menyerang Gojek, membuatnya perlu melakukan manajemen
komunikasi krisis yang tepat agar konflik tidak semakin besar dan harus
memiliki strategi khusus yang dapat dilakukan Gojek dalam melakukan problem
solving. Untuk itu lah disini penulis mencoba untuk mengulas
komunikasi krisis yang dapat dilakukan Gojek dalam menghadapi tekanan dari
eksternal perusahaannya tersebut.
1.
Analisa Pada Tahap Predomal
Sebagai
organisasi yang baru berkembang dikota besar seperti Jakarta, Gojek senantiasa
berusaha memberikan peningkatan terhadap pelayanannya, namun itu semua bukan
berarti berjalan tanpa ada hambatan. Gesekan yang terjadi antara Gojek dengan
ojek lokal setempat yang merasa lahan kerja mereka direbut, membuat keamanan
serta kinerja driver Gojek terancam, pasalnya ancaman serta gangguan yang
diterima para driver Gojek membuat mereka terpaksa minta penumpang
menunggu di tempat jauh dari pangkalan ojek. Alfindo (2015) menyebutkan bahwa
insiden ricuh antara supir Gojek vs tukang ojek lokal kian
marak terjadi. Akhir-akhir ini banyak tukang ojek lokal yang tidak terima lahan
ojek mereka diserobot supir Gojek yang merupakan driver ojek luar pangkalan.
Berbagai intimidasi harus diterima driver GoJek. Salah satunya dialami Faisal
Basri, 45 tahun. Dia mengaku sempat mendapat ancaman dari tukang ojek setempat.
Dia diancam saat menunggu pelanggan di daerah Karet, Jakarta Selatan
(Hutabarat: 2015). Selain itu dalam judul berita online dari metrotvnews.com
edisi 12/06/2015juga menyebutkan cara lain para driver GoJek dalam
menghindari ancaman dari ojek lokal, yaitu beberapa driver Gojek siap siaga
membawa perlengkapan khusus berupa jaket dan helm tanpa loho Gojek, mereka
membawa jaket dan helm yang biasa mereka gunakan sebelum menjadi anggota Gojek.
Hal ini dilakukan karena sebelumnya mereka pernah mendapatkan pengalaman yang
kurang mengenakan. Beberapa tukang ojek lokal merasa teganggu karena kehadiran
GoJek. Meski mereka tahu bahwa menggunakan atribut GoJek adalah sebuah
keharusan dan bisa dikenai sanksi jika melanggar, mereka tetap berpendapat lebih
baik mencegah kejadian ketimbang menimbulkan masalah lebih besar.
- Masa Prakrisis (Predromal Crisis Stage)
-
Konsumen
lebih beralih ke alternative lain seperti Grab.
-
Tarifnya
yang lebih mahal hingga konsumen beralih yang lebih banyak promo dan yang pasti
tarifnya lebih murah.
-
Tidak adanya asuransi medis dari pihak perusahaan.
Tidak adanya asuransi medis dari pihak perusahaan.
Pada tahapan ini, seharusnya
ada penanganan segera sebelum masuk ke masa krisis akut. Inilah penanganan yang
ideal. Namun, karena kurangnya perhatian dalam menangani gejala, ini
berkelanjutan dalam masa krisis berikutnya.
- Masa Krisis Akut
(Acute Crisis Stage)
-
Pendapatan
menurun karena banyak beralih ke transportasi alternative lainnya. Kejadian ini
dipicu
-
Adanya
demo dari para driver dengan cara mogok makan dan bertahan di depan kantor
gojek karena tidak menyetujui kantor gojek itu di tutup.
-
Pihak
kantor dan beberapa driver dimintai untuk berdiskusi anatara kantor berpindah
di Jakarta pusat atau ditutup.
![]() |
- Masa Krisis Kronis
(Chronic Crisis Stage)
-
Dengan
mengembalikan persepsi masyarakat bahwa tarif gojek itu juga bisa murah dengan
promo atau dengan menggunakan gopay.
-
Dengan
menutup kantor gojek karena untuk menstabilkan apa yang terjadi karena ada
alasan juga untuk menstabilkan jalannya pilpres dan pileg agar tetap kondusif.
![]() |
- Masa Resolusi
Krisis (Crisis Resolution Stage)
-
Dengan
mengadakan banyak promo-promo terbaru dan menarik untuk mengembalikan citra
perusahaan gojek itu sendiri.
-
Dengan
pelayanan yang lebih baik dari sebelumnya.
-
Dengan
mendiskusikan alasan mengapa kantor gojek yang berada di Yogyakarta itu untuk
sementara di tutup.
-
Gojek
tetap beroperasi meski kantor ditutup dengan pelayanan yang lebih intensif.
![]() |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar