Senin, 09 Desember 2019

Analisa Manajemen Krisis



Analisa Manajemen Krisis
Di Perusahaan Gojek Indonesia (Yogyakarta)

Izza Auliyai Rabby / 18107030019
Melinda Anis Safitri / 18107030006
Muhammad Aditia Nurdiansyah / 18107030008






krisis adalah suatu emergency, namun tidak setiap emergency adalah suatu krisis. Krisis ditangani oleh manajemen terhadap krisis. Krisis adalah kondisi tidak stabil, yang bergerak kearah suatu titik balik, dan menyandang potensi perubahan yang menentukan. Sedangkan keadaan darurat (emergency) adalah kejadian tiba-tiba, yang tidak diharapkan terjadinya dan menuntut penanganan segera.
Jadi esensi manajemen krisis adalah upaya untuk menekan faktor ketidakpastian dan faktor risiko hingga tingkat serendah mungkin, dengan demikian akan lebih mampu menampilkan sebanyak mungkin faktor kepastiannya. Sebenarnya yang disebut manajemen krisis itu diawali dengan langkah mengupayakan sebanyak mungkin informasi mengenai alternatif-alternatif, maupun mengenai probabilitas, bahkan jika mungkin mengenai kepastian tentang terjadinya, sehingga pengambilan keputusanan mengenai langkah-langkah yang direncanakan untuk ditempuh, dapat lebih didasarkan pada sebanyak mungkin dan selengkap mungkin serta setajam (setepat) mungkin informasinya. Tentu saja diupayakan dari sumber yang dapat diandalkan (reliable), sedangkan materinya juga menyandang bobot nalar yang cukup.
Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point) yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Menurut Djamaluddin Ancok, jika dipandang dari kacamata bisnis suatu krisis akan menimbulkan hal-hal seperti berikut :
1.   Intensitas permasalahan akan bertambah.
2.   Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa, atau informasi dari mulut ke mulut.
3.   Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
4.   Masalah menganggu nama baik perusahaan.
5.   Masalah dapat merusak sistem kerja dan menggoncangkan perusahaan secara keseluruhan.
6.   Masalah yang dihadapi disamping membuat perusahaan menjadi panik, juga tidak jarang membuat masyarakat menjadi panik.
7.   Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi
Kesadaran akan dampak yang ditimbulkan oleh krisis sekaligus lemahnya dalam mengantisipasi datangnya sebuah krisis, menjadikan perlunya langkah-langkah antisipatif dalam sebuah kerangka kerja yang disebut manajemen krisis.

Manajemen krisis membedakan situasi krisis menjadi : pra-krisis dan krisis. Situasi Pra-krisis adalah situasi masih tenang dan stabil, bahkan tanpa tanda-tanda akan terjadinya krisis, sedangakan Situasi Krisis dirinci dalam tahap-tahap prodomal, akut, kronik, dan pengakhiran (resolution). Pada tahap prodomal, hadir tanda-tanda, pada tahap akut, terjadi kerusakan (damage), pada tahap kronik, krisis akan berlanjut yang lebih parah, dan pada tahap pengakhiran, krisis berakhir/teratasi.
See the source image

            Sebagai sebuah organisasi baru, Gojek tidak akan terlepas dari berbagai konflik yang akan menentukan apakah organisasi tersebut akan terus bertahan atau lenyap. Walaupun pada dasarnya tidak ada satu organisasipun yang menginginkan terjadinya konflik, namun secara langsung justru konflik-lah yang membuat sebuah perusahaan atau organisasi menjadi lebih kuat dan berpengalaman. Gojek saat ini tengah mengalami krisis yang cukup mengguncang reputasinya sebagai organisasi baru yang merambah bisnis transportasi publik. Driver Gojek mendapatkan ancaman dari pengendara ojek lokal setempat. Bahkan ada yang akan melakukan tindakan fisik ke pengendara Gojek karena ojek lokal merasa tersaingi oleh para driver Gojek. Krisis semacam ini tentunya berpotensi membuat customer Gojek menurun jika merasa keselamatannya terancam karena adanya teror oleh para ojek lokal. Dan berakibat pula pada kinerja driver Gojek dalam melayani customernya, khususnya didaerah-daerah tertentu yang mereka anggap rawan. Basuki Tjahaya Purnama selaku Gubernur DKI Jakarta merasa bahwa hal ini salah satu bentuk aksi ojek lokal yang takut tersaingi oleh Gojek (Aulia: 2015).
Krisis semacam ini jika tidak ditangani segera oleh pengelola Gojek dapat berimbas pada konflik yang lebih besar antara para pengendara Gojek dengan ojek lokal setempat yang merasa lahan kerja mereka diambil oleh oleh Gojek. Adanya miskomunikasi antara Gojek dengan ojek lokal ini membuat kedua belah pihak menjadi bersitegang. Keberadaan Gojek semakin terpojokkan ketika Organda DKI Jakarta juga keberatan dengan eksistensi Gojek, hal ini terjadi karena Gojek bukanlah sebagai organisasi angkutat resmi yang diakui oleh pemerintah. Sehingga keberadaannya perlu dipertanyakan. Dalam krisis yang saat ini menyerang Gojek, membuatnya perlu melakukan manajemen komunikasi krisis yang tepat agar konflik tidak semakin besar dan harus memiliki strategi khusus yang dapat dilakukan Gojek dalam melakukan problem solving. Untuk itu lah disini penulis mencoba untuk mengulas komunikasi krisis yang dapat dilakukan Gojek dalam menghadapi tekanan dari eksternal perusahaannya tersebut.

1.    Analisa Pada Tahap Predomal
Sebagai organisasi yang baru berkembang dikota besar seperti Jakarta, Gojek senantiasa berusaha memberikan peningkatan terhadap pelayanannya, namun itu semua bukan berarti berjalan tanpa ada hambatan. Gesekan yang terjadi antara Gojek dengan ojek lokal setempat yang merasa lahan kerja mereka direbut, membuat keamanan serta kinerja driver Gojek terancam, pasalnya ancaman serta gangguan yang diterima para driver Gojek membuat mereka terpaksa minta penumpang menunggu di tempat jauh dari pangkalan ojek. Alfindo (2015) menyebutkan bahwa insiden ricuh antara supir Gojek vs tukang ojek lokal kian marak terjadi. Akhir-akhir ini banyak tukang ojek lokal yang tidak terima lahan ojek mereka diserobot supir Gojek yang merupakan driver ojek luar pangkalan. Berbagai intimidasi harus diterima driver GoJek. Salah satunya dialami Faisal Basri, 45 tahun. Dia mengaku sempat mendapat ancaman dari tukang ojek setempat. Dia diancam saat menunggu pelanggan di daerah Karet, Jakarta Selatan (Hutabarat: 2015). Selain itu dalam judul berita online dari metrotvnews.com edisi 12/06/2015juga menyebutkan cara lain para driver GoJek dalam menghindari ancaman dari ojek lokal, yaitu beberapa driver Gojek siap siaga membawa perlengkapan khusus berupa jaket dan helm tanpa loho Gojek, mereka membawa jaket dan helm yang biasa mereka gunakan sebelum menjadi anggota Gojek. Hal ini dilakukan karena sebelumnya mereka pernah mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakan. Beberapa tukang ojek lokal merasa teganggu karena kehadiran GoJek. Meski mereka tahu bahwa menggunakan atribut GoJek adalah sebuah keharusan dan bisa dikenai sanksi jika melanggar, mereka tetap berpendapat lebih baik mencegah kejadian ketimbang menimbulkan masalah lebih besar.
  1.             Masa Prakrisis (Predromal Crisis Stage)

-          Konsumen lebih beralih ke alternative lain seperti Grab.
-          Tarifnya yang lebih mahal hingga konsumen beralih yang lebih banyak promo dan yang pasti tarifnya lebih murah.
-          Hasil gambar untuk perbandingan gojek dan grabTidak adanya asuransi medis dari pihak perusahaan.









           


Pada tahapan ini, seharusnya ada penanganan segera sebelum masuk ke masa krisis akut. Inilah penanganan yang ideal. Namun, karena kurangnya perhatian dalam menangani gejala, ini berkelanjutan dalam masa krisis berikutnya.
  1. Masa Krisis Akut (Acute Crisis Stage)

-          Pendapatan menurun karena banyak beralih ke transportasi alternative lainnya. Kejadian ini dipicu
-          Adanya demo dari para driver dengan cara mogok makan dan bertahan di depan kantor gojek karena tidak menyetujui kantor gojek itu di tutup.
-          Pihak kantor dan beberapa driver dimintai untuk berdiskusi anatara kantor berpindah di Jakarta pusat atau ditutup.




 









  1. Masa Krisis Kronis (Chronic Crisis Stage)

-          Dengan mengembalikan persepsi masyarakat bahwa tarif gojek itu juga bisa murah dengan promo atau dengan menggunakan gopay.
-          Dengan menutup kantor gojek karena untuk menstabilkan apa yang terjadi karena ada alasan juga untuk menstabilkan jalannya pilpres dan pileg agar tetap kondusif.
Hasil gambar untuk promo gojek
 













  1. Masa Resolusi Krisis (Crisis Resolution Stage)

-          Dengan mengadakan banyak promo-promo terbaru dan menarik untuk mengembalikan citra perusahaan gojek itu sendiri.
-          Dengan pelayanan yang lebih baik dari sebelumnya.
-          Dengan mendiskusikan alasan mengapa kantor gojek yang berada di Yogyakarta itu untuk sementara di tutup.
-          Gojek tetap beroperasi meski kantor ditutup dengan pelayanan yang lebih intensif.
Hasil gambar untuk promo gojek
 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar