Paper
“PIKIRAN SOSIAL,
PENGARUH SOSIAL, DAN HUBUNGAN SOSIAL”

Disusun Oleh :
Izza Auliyai Rabby
(18107030019)
UINS
SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
PRODI
ILMU KOMUNIKASI (A) 2018
ABSTRAK
Lembaga sosial
dipelajari oleh konstruksi sosial termasuk agama, keluarga, pernikahan, jenis
kelamin,
"Sakit"
psikologis dll. Dari perspektif konstruksi sosial, dapat dijelaskan bahwa tidak
mungkin bagi seseorang untuk menghilangkan fenomena yang terjadi di masyarakat,
dan proses internalisasi mungkin bisa memberi pengaruh pada seseorang. Kemampuan
dalam menentukan bobot atau ringannya keberadaan sifat dan karakteristik Fenomena
yang ada dengan proses eksternalisasi itu sendiri akan membentuk realitas
objektif. Dalam proses ini seseorang dapat menempatkan dirinya dalam pandangan
dunia intersubjektif. Dimana dalam pandangan dunia yang bisa menghasilkan proses
adalah objektivitas pada proses subyektif yang bermakna.
Dalam kehidupan, individu merupakan makhluk sosial
yang tidak bisa terlepas dari pengaruh sosial yang mempengaruhi bagaimana
individu tersebut berperilaku terhadap lingkungannya. Pengaruh sosial adalah
usaha untuk mengubah sikap, kepercayaan (belief), persepsi atau pun tingkah
laku satu atau beberapa orang lainnya. Contoh pengaruh sosial adalah
perkelahian pelajar yang termasuk dalam konformitas.
Hubungan sosial
adalah hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu yang
lain, saling memengaruhi dan didasarkan pada kesadaran untuk saling menolong.
PENDAHULUAN
Kontruksi sosial
memiliki arti yang luas dalam ilmu sosial. Hal ini biasanya dihubungkan pada
pengaruh sosial dalam pengalaman hidup individu. Asumsi dasarnya pada “realitas
adalah kontruksi sosial” dari Berger dan Luckmann. Selanjutnya dikatakan bahwa
kontruksi sosial memiliki beberapa kekuatan. Pertama, peran sentral bahasa
memberikan mekanisme konkret, dimana budaya mempengaruhi pikiran dan tingkah
laku individu. Kedua, kontruksi sosial dapat mewakili kompleksitas dalam satu
budaya tunggal, hal ini tidak mengasumsikan keseragaman. Ketiga, hal ini
bersifat konsisten dengan masyarakat dan waktu. Konformitas adalah suatu bentuk
pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai
dengan norma sosial (Baron,Byne, dan Branscombe, 2008 dalam Sarwono &
Meinarno 2009). Selain itu dalam pengaruh sosial juga terdapat compliance yaitu
bagaimana teknik agar orang lain mengikuti permintaan yang kita ajukan serta
Obedience (kepatuhan) dimana individu berperilaku karena peraturan memiliki
kekuatan yang kuat. Individu melakukan tingkah laku tersebut berdasarkan
keputusan antara kebutuhan dan keinginan dengan tuntutan atau keadaan sosial
agar dapat bertahan hidup serta melakukan penyesuaian diri terhadap peraturan
sehingga bisa diterima dalam lingkungan sosialnya. Setiap individu pasti melakukan hubungan social karena
pada hakikatnya manusia diciptakan sebagai makhluk social yang tidak akan lepas
dari interaksi social atau kontak social dengan indvidu atau kelompok yang
lain.
PEMBAHASAN
Memahami dunia sosial yang sudah diobjektivasikan
dan menghadapinya sebagai suatu faktivitas di luar kesadaran, belum dapat
dikatakan sebagai suatu internalisasi. Proses internalisasi lebih merupakan
penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian sehingga
subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Macam-macam unsur
dari dunia yang diobjektivasikan akan ditangkap sebagai gejala realitas di luar
kesadarannya sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi
manusia menjadi hasil masyarakat. Dunia pengalaman individual tidak dipisahkan
dari dunia sosial sebagaimana diutarakan oleh Berger dan Luckmann (1990:1).
Selanjutnya dinyatakan bahwa realitas terbentuk secara sosial, dan sosiologi
ilmu pengetahuan harus menganalisa bagaimana proses itu terjadi. Keduanya
mengakui adanya realitas objektif, dengan membatasi realitas sebagai kualitas
yang berkaitan dengan fenomena yang dianggap berada di luar kemauan kita (sebab
sesungguhnya fenomena tersebut tidak dapat dihindarkan). Berger menegaskan pula
bahwa realitas kehidupan sehari-hari memiliki dimensi-dimensi subjektif dan
objektif. Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial yang
objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana manusia mempengaruhinya
melalui proses internalisasi (yang mencerminkan realitas subjektif). Melalui
proses internalisasi atau sosialisasi inilah individu menjadi anggota
masyarakat. Berger dan Luckmann (1990:130) menguraikan sosialisasi primer
sebagai sosialisasi awal yang dialami individu pada saat kecil, saat dikenalkan
pada dunia sosial objektif. Individu berhadapan dengan orang yang sangat
berpengaruh (orang tua atau pengganti orang tua), dan bertangung jawab terhadap
sosialisasi anak. Batasan realitas yang berasal dari orang lain yang sangat
berpengaruh itu dianggap oleh si anak sebagai realitas objektif. Mengingat
bahwa realitas yang ada tidak mungkin diserap dengan sempurna, maka si anak
akan menginternalisasi penafsirannya terhadap realitas tersebut. Setiap orang
memiliki “versi” realitas yang dianggapnya sebagai cermin dari dunia objektif.
Bertolak dari masalah tersebut Berger dan Luckmann menekankan pada keberadaan
realitas sosial berganda. Meskipun terdapat hubungan simetris antara realitas
subjektif dan objektif, kedua realitas tersebut tidak identik.
Kelompok social merupakan salah satu bentuk hubungan
social, salah satunya
adalah Gemeinsraft. Gemeinschaft( paguyuban) ialah bentuk kehidupan bersama yg
berdasarkan ikatan batin yg murni, bersifat alamiah, dan kekal. Hubungan
antarmanusia dalam gemeinschaft tidak didasarkan untung rugi. Lembaga merupakan
suatu system hubungan social dan ikatan teroganisir yg memiliki tujuan memenuhi
kebutuhan hidup atau kepentingan tertentu di masyarakat. Lembaga dasar yang
teramat penting adalah keluarga, keagamaan, politik, perekonomian, dan
pendidikan. Lembaga-lembaga itu saling memengauhi satu sama lain. Bentuk
hubungan social dapat juga terbentuk atas dasar kelas social. Kelas social
ialah kelompok-kelompok masyarakat yg terbentuk karena perbedaan
penghormatandan status social. Kemudian yang terakhir adalah, hubungan Gender, Hubungan
gender yaitu hubungan social antara laki-laki dan perempuan yg dapat salaing
membantu atau sebaliknya.
Konformitas Secara
sadar atau tidak individu dalam kehidupan mengikuti peraturan yang ada dalam
lingkungan sosialnya. Seperti saat memilih pakaian, seseorang cenderung
mengikuti tren pakaian yang ada dalam masyarakat. Sebenarnya bisa saja orang
tersebut memilih pakaian menurut pilihannya sendiri, namun ia lebih memilih
pakaian yang sesuai atau yang sedang tren dalam lingkungan, hal inilah yang
disebut konformitas. Konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial di mana
individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial (Baron,Byne,
dan Branscombe,2008 dalam Sarwono & Meinarno 2009). Misal ketika seseorang
berada dalam suatu kelompok, ia akan cenderung mengikuti norma sosial yang
berlaku dalam kelompok tersebut. Norma sosial merupakan aturan yang mengatur
bagaimana individu berperilaku. (Sarwono dan Meinarno,2009) Norma sosial ada
dua yaitu injuctive norms dan descriptive norms.
PENUTUP
Manusia dalam
berinteraksi akan membuat dan menggunakan simbol-simbol, hal ini oleh Berger
dan Luckmann diistilahkan externalization. Dalam kehidupan, pengaruh sosial sangat berpengaruh
terhadap diri individu dan dalam bertingkah laku,seperti mengubah suatu sikap,
kepercayaan, persepsi atau pun tingkah lakunya agar dapat diterima oleh
lingkungan sosialnya. Pengaruh sosial terjadi dalam setiap lingkungan dimana
individu berada.
DAFTAR
PUSTAKA
Sarwono, W. Sarlito, Meinarno, A. Eko, 2009. Psikologi
Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Mursanto Riyo.
1993. Peter Berger Realitas Sosial Agama. Dalam Diskursus Kemasyarakatan dan
Kemanusiaan. Penyunting. Tim Redaksi Driyarkara. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. Poloma M.M. 1994. Sosiologi Kontemporer. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
media/publications/76686-ID-konstruksi-sosial
www.slideshare.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar